
Penulis: Daffa Hadinatta
Chapter 2: Tuan Muda dan Jiwa Kekosongan
“Mizuki, aku adalah dirimu, dirimu adalah aku, dan kita adalah satu. Aku adalah bentuk dari jati diri kekuatanmu yang sebenarnya, Voud Soul.” Suara misterius tersebut bergetar, menggema memenuhi ruangan kosong tanda ujung.
“Siapa kamu!? Tunjukan dirimu! Mizuki mencoba mengenali sekitarnya, tapi tempat ini terasa tidak asing, hanya saja sedikit membingungkan.
Dari balik kabut ungu keemasan muncul seperti dirinya, namun yang membedakan mereka bersua yaitu mahkota yang melingkari kepala sosok misterius itu. Dia tersenyum.
“Aku, Zusheng, tuan muda.” Sosok yang mengaku-ngaku sebagai Zusheng itu melipat tangan kanannya ke depan, dan membungkukkan tubuhnya seraya memberikan hormat terhadap Mizuki.
“Tuan muda? Maksudnya?”
“Ya, sang keturunan bangsawan berdarah dua, dari dua ras legenda, Astral dan Crythalean. Astral_keturunan berdarah Bintang, penguasa bintang kristal, mereka yang berkulit dingin namun berhati hangat. “Penjelasan yang diberikan oleh Zusheng terasa begitu dalam, jauh dari sepengetahuan akal sehat Mizuki.”
“Jadi, tangan ku ini….”
“Yap… Zusheng membetulkan, diikuti jentikan antara jari jempol dan telunjuknya. “Kamu memilikinya. Tangan Kaisar Bintang, dan tangan permaisuri Es.” Ia tersenyum.
“Maksudnya?”
“Cukup membingungkan ya…” Mulutnya menghela nafas malas. “Kamulah sang pangeran keturunan terakhir dari legenda semesta, untuk sekarang mungkin sulit bagi otakmu menerima realita ini, aku akan membantumu menemukan dan mengingat kembali semua itu.”
“Okey.” kepalanya yang mendadak terbelit realita, hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan yang dilontarkan oleh Zursheng.
“Dan, ingat! Aku adalah kamu dan kamu adalah aku, aku bisa saja menjadi dirimu, dan kamupun bisa sebaliknya.” Tempat itu tiba-tiba bergetar bergemuruh, sebuah pusaran badai terlihat berwarna giok dari atas langit, kabut dengan rupa yang tidak jauh berbeda, mulai mengepung Mizuki dan Zusheng dari segala arah. “Mizuki, sepertinya ada tamu tak diundang, ini diluar kendaliku, berhati-hatilah!” Zusheng menghilang dari balik kabut ungu keemasannya yang khas.
Dari pusaran badai, sebuah tubuh raksasa, jauh lebih dibanding tubuhnya Mizuki, mendekat menampakkan wujudnya. Seorang pria, rambutnya panjang namun dibalah tengah, ia memiliki tanduk seperti naga, sebahagian kulitnya ditutupi oleh sisik berwarnakan hijau giok, pada dahinya terdapat sebuah simbol, dan j=wajahnya begitu asing dari pandangan mata. Ia mendekati Mizuki.
Mizuki menatap tajam matanya. “Kamu siapa!?”
“Kamu bisa memanggilku, Yoruji.” Suara itu bergetar dan terasa begitu berwibawa. “Jadi…, apa yang terpikirkan oleh benak saat ini, Mizuki.”
Kenapa orang ini bisa tau namaku, dan darimana dia berasal? Bingung dan tak tau harus bagaimana. “Kenapa kamu bisa mengenali namaku, dan apa tujuanmu!!”
“Aku telah lama menunggu dirimu, dari waktu yang lama itu, inilah saat yang tepat untuk kamu mengemban sebuah amanah.”
“Tunggu sebentar, mengapa harus aku, mengapa tidak orang lain.”
“Karena kamulah yang ditakdirkan semesta oleh semesta. Akan ada seseorang diantara manusia biasa, namun dia berbeda. Dia adalah darah keturunan terakhir dari sang legenda. Berdarah bintang, berkulit es. Matanya bagaikan Yin dan Yang. “Dan itu sangat jelas, bahwa yang dimaksud oleh semesta itu adalah kamu Mizuki.”
Mizuki terdiam sesaat “Yang kamu ucapkan barusan, aku rasa itu ada benarnya. Tapi yang tidak aku pahami, keturunan terakhir dari sang legenda? Dan siapa aku sebenarnya?”
Yorugi hanya tersenyum. “Mungkin ini sedikit sulit bagimu untuk menerimanya karena yang kuat pasti dibentuk melalui proses berat. Kamu tidak usah khawatir. Karena bersama kesulitan ada kemudahan, yang akan membimbingmu. kepulan awan kabut berterbangan berputar mengelilingi Yorugi, seketika ia berubah wujud menjadi seekor naga bersisik hijau giok sedikit ke perak-perakan. Terbang tinggi keatas langit, kemudian terjun bebas, masuk ke tubuh Mizuki.
10 tahun kemudian
“Hosh….Hosh….” Mizuki terbangun dari tidurnya, terkejut, nafas tersengal-sengal, tangannya reflek memegang tepian kasur, sebelah kanan hangus berkelap-kelip, sebelah kiri beku mengkristal.
Tsuninagi yang mendengar suara dentuman keras dari kekuatan Mizuki, bersegera beranjak dari duduknya menghampiri kamar. “Kamu kenapa, nak?” Ia membanting pintu, perasaannya begitu cemas.”
“Aku mimpi. Tapi.. di dalam mimpiku ada dua sosok misterius yang mengatakan aku adalah keturunan terakhir dari sang legenda. Apa maksudnya itu? Paman?” Tsuninagi terdiam sesaat. “Tunggu sebentar, ada sesuatu yang ingin aku ambil.” Ia keluar meninggalkan kamar Mizuki.
“Mau ambil apaan paman?” Mizuki penasaran.
Sesaat menunggu. Tsuninagi kembali bersamaan dengan sebuah peti berhiaskan batu permata yang diukir seperti bintang emas dan es kristal biru dalam dekapannya. Ia membukanya, kemudian mengeluarkan sebuah liontin, warnanya serupa seperti warna rambut Mizuki. Lihat! Ada sesuatu yang terukir disana. “Mizuki Aizen.”
“Mizuki…. Aizen? Siapa Aizen, pama?” Matanya melihat sebuah nama asing tertulis bersanding bersama namanya.”
“Itulah sang legenda yang dimaksud, ayahmu, nak.”
“Ayah seorang legenda? Kenapa aku tidak mengetahui hal ini sebelumnya, dan ibuku? Ternyata banyak hal yang selama ini disembunyikan, dan itu tidak diketahui oleh Mizuki satu pun.
“kalau soal itu, aku kurang pandai menjelaskannya. Tapi aku tau orang yang bisa memberitahu jawaban atas semua pertanyaan mu itu.
“Siapa dia, paman?”
“Aku ada kenalan, dia bernama Shiseki. Seorang samurai sakti yang menyelamatkanmu dari bahaya peperangan atas perintah ayahmu. agar kamu selamat kala itu.”
“Jadi……Aku harus mencarinya kemana?” “Kalau pastinya, aku kurang tau. Setauku, terakhir kali info mengenai dirinya. ia tinggal di daerah perkotaan.”
Mizuki begitu bersemangat. “Nama kotanya, paman?”
“Kota Arunika, kota dingin tak bersalju.”
“Baiklah, aku akan mencarinya kesana.”
“Peti ini berisikan barang-barang milikmu, bawalah, banyak hal yang bisa menjadi petunjuk bagimu. Memang sudah waktunya kamu mencari jati dirimu yang sebenarnya, karena dibanding diriku, kamu jauh lebih diatasku. Kamu harus menemukan itu, nak!”
Mizuki mengambil dan membuka peti itu. Terdapat sebuah sarung tangan sebelah kiri, dan jubah. Ia membuka sarung tangan yang terpasang saat ini, kemudian menggantikan dengan hal yang baru, lebih khas, karena kekuatan es miliknya seperti lebih perkuat dan sepertinya itu peninggalan ibunya Mizuki.
“Maksudnya?”
“Sarung tangan dan Jubah itu adalah pakaian jiwa. pakaian yang diselimuti kekuatan, dan bisa berubah sesuai beriringnya, perkembangan pengguna. Ini barang langka, tuan muda.”
“Benarkah? Beruntungnya aku__”
“Mizuki….Mizuki…!!” Tsuninagi menyadarkan Mizuki dari lamunannya. “Eh, iya, paman.”
“Ngelamunnya kepanjangan. Aku mau beri makan ikan dulu, kamu berkemas-kemaslah, karena besok kamu akan berangkat ke kota dan bergabung ke akademi.”
“Akademi? Sepertinya menarik. Baiklah.” Tsuninagi telah menghilang. “Loh? paman udah hilang aja.”
-Bersambung-
Stay Tuned lanjutannya di Mading ABI Center!
Leave a Reply