Penulis: Julia Parawansa

Rohana Kudus adalah tokoh yang berjasa besar dalam upaya mengaplikasikan harapan “Kebebasan” yang belum tercapai akibat tekanan dari Kolonial Belanda pada saat itu, melalui kebebasan perempuan akan mampu mengembangkan potensi akal, kemampuan diri, dengan tujuan memajukan generasi yang akan menjadi tiang peradaban di masa depan. Kita sering mendengar bahwa kunci dari peradaban di masa depan adalah ibu yang memiliki mutu tinggi, religious, dan telaten, terutama nya hal pendidikan, karena ibu adalah madrasah utama, tiang dari pembentukan karakter anak bangsa. Bukan berarti ayah tak memiliki peran, jika ayah memberikan teori dan pengalaman, ibu hadir dengan rasa dan kelembutan agar anak mampu memadupadankan teori dengan pengaplikasiannya.
Rohana Kudus lahir di tengah-tengah tanah Minang, menabur bibit kebebasan, hal ini dibuktikan dengan keberaniannya turun ke medan perang dalam melawan Kolonial Belanda, jiwa yang dikenal tak gentar akan alat peperangan, jiwanya menggelora memperjuangkan kebebasan. Melalui karya Kartini dan rekannya di masa 1911, memberikan inspirasi yang besar kepada banyak lapisan masyarakat perempuan untuk berusaha meratakan kedudukan laki-laki dengan perempuan. Ini juga merupakan awal mencuatnya feminisme di Indonesia. Mari kita lihat bagaimana penjelasan Agama Islam yang mengatur semua aspek tatanan masyarakat. Melalui hadist Rasulullah SAW, “Tidaklah akan beruntung suatu bangsa yang menyerahkan pimpinan negara kepadanya kepada seorang wanita”, pendapat imam Qardhawi, dijelaskan bahwa akan banyak peluang yang terjadi jika perempuan dinilai tidak mampu memimpin suatu negara, karena bisa saja bangsa itu akan merugi. Lalu bagaimana dengan pemikiran tokoh pejuang perempuan saat itu?
Rohana Kudus memiliki nama asli Siti Rohana, perempuan kelahiran 20 Desember 1884, di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ayahnya bernama Rasjad Maharadja Koedoes, kakak tiri Soetan Sjahrir perdana Menteri pertama di Indonesia. Merupakan sepupu H. Agus Salim yang pernah menjabat sebagai Duta Besar pertama Republik Indonesia. Menetap dan tumbuh di Alahan panjang, negeri yang dijuluki negeri kutub tak bersalju, alasannya karena tempat ini mengalir mata air yang sedingin air es, suasana malam yang membuat masyarakat berselimut tebal, namun disana tidak ada salju sedikitpun, sungguh karunia dari Allah SWT. Ketika berumur 6 tahun, Rohana Kudus pernah diangkat oleh jaksa Alahan Panjang, pada masa itu dia dibekali pendidikan umum dan pendidikan agama serta keterampilan. Tumbuh menjadi perempuan muda terdidik di Alahan
Panjang. Pada saat itu pendidikan formal belum terbentuk, namun melalui kemampuan istri jaksa, Rohana Kudus mambu membaca dan menulis. Hal ini membuat Rohana Kudus lebih unggul dari perempuan yang ada ada di Alahan Panjang pada umumnya. Dalam karangan milik Silfia Hanani bertajuk “Rohana Kudus dan Pendidikan Perempuan” disampaikan bahwa Tamara Djaja menuliskan masa kecil Rohana Kudus sewaktu di Alahan Panjang “Waktu itu di Alahan Panjang belum ada sekolah rakyat, belum ada anak-anak bersekolah, karena Alahan Pnajang hanyalah sekolah keil saja. Setiap waktu Rohana membaca dengan suaranya yang lantang kadang-kadang melengking sampai asyiknya. Buku-buku yang ada di rumah habis dibacanya, karena rajin membaca itulah ia segera mengerti”
Usai itu Rohana Kudus meninggalkan Alahan Panjang kemudian ikut dengan keluarganya ke Pasaman di Simpang Tonang, Talu. Hobinya dalam menulis tidak pudar sedikitpun, untuk mendukung kemampuan yang dimiliki oleh anaknya, ayah Rohana Kudus berlangganan media berita kepada terbitan Medan “Berita Kecil”. Rohana Kudus mengasah kemampuannya, sehingga ia memiliki hobi membaca, dan nada yang unik bagi Rohana, dia lebih suka membaca bacaan dengan keras dan lantang di depan kaum tua dan dan cadiak pandai, Rohana selalu mendapatkan pujian dari banyak orang, selain melatih kemampuan membaca, Rohana juga pintar dalam mengasar mentalnya, bekal inilah yang terbentuk sehingga Rohana tumbuh sebagai anak yang percaya diri.
Di Umur 8 tahun, Rohana kecil belum memiliki teman, dia ditugaskan untuk menjaga kedua adiknya yaitu Ratna dan Ruskan, disela-seka waktunya itu, Rohana membaca buku di teras, dengan suaranya yang lantang sehingga membuat masyarakat sekitar terpukau, sangat menonjol dari para kalangan anak seumurannya, apalagi dia seorang perempuan pribumi,
oleh sebab itu, banyak dari anak-anak yang umurnya sebaya dengan Rohana mulai mendekatinya, mereka mau saja duduk di rumah Rohana meskipun hanya untuk mendengarkan Rohana membaca dan menulis.
Di Talu Pasaman, Rohana bersama ayahnya yang menyediakan alat tulis membaca, Rohana memiliki kemampuan dalam mengajari teman-teman baik laki-laki maupun perempuan, Rohana mengajari dengan sepenuh hati, berharap agar teman-temannya mampu membaca dan menulis, di waktu lain Rohana yang sudah memiliki ilmu membaca Al-Qur`an dan Arab-Melayu mengajarkan teman-temannya, ada juga keterampilan, tanpa biaya sedikitpun. Jika dikaji dalam sejarah di Indonesia, tidak ada perempuan yang membuka sekolah dalam usia itu, Rohana mampu menjadi awal dari itu.
Pada tahun 1887 sang ibunda dipanggil yang maha kuasa, ayah Rohana menikah kembali dengan Jaksa di Bonjol, bernama Rabiah, ibu dari Soeltan Syahrir. Rohana memilih untuk kembali ke kampung asalnya, yaitu Koto Gadang, tinggal bersama nenek, banyak ilmu baru yang Rohana dapatkan, seperti menjahit, menyulam, karena nenek Rohaya adalah pengrajin terkenal di Koto Gadang, untuk pelajaran lain, dia melakukannya dengan otodidak
melalui membaca banyak buku.
Di Koto Gadang, para pemuda dan kamu tua di waktu subuh sudah berada di masjid, berbondong-bondong untuk sholat berjamaah dan usai itu mendengarkan kajian agama. Masyarakat disuguhkan dengan kajian dari penceramah yang bertitah perempuan harus ini dan itu, dikaitkan dengan surga dan neraka, dikaitkan dengan keharusan untuk tetap dirumah, tidak perlu belajar kecuali ilmu rumah tangga, harus manut dan taat melayani laki-laki, ber pingit dirumah saja, penceramah yang sangat kaku dimata Rohana, membuat mental perempuan kecut tak bernyali, berkembang seolah menjadi hal yang tidak perlu, berdiam diri hingga semakin kerdil pemikiran, perempuan jika semakin menunduk dan patuh seolah dipandang lebih baik dan anggun, perempuan yang memberontak dipandang menyalahi fitrahnya. Hal ini mendorong Rohana menciptakan sekolah terbuka untuk umum, mengajarkan Al-Qur`an, baca-tulis, memasak, menjahit, membuat kerajinan, apapun yang dibutuhkan masyarakat, Rohana tangguhkan sesuai dengan ilmu yang dia punya. Perempuan yang dipingit berangsur keluar dari rumahnya, mengejar ilmu, mengejar cahaya yang dihidupkan oleh Rohana, jika dikaji secara akal sehat, jika hanya laki-laki saja yang menuntut ilmu, pandai membaca Al-Qur`an dengan baik, lalu perempuan dapat pahala dari segimana lagi? kewajiban menutup aurat? tidak bisa serta merta instan, semua akan tercapai jika ditempuh dengan pendidikan yang berkelanjutan, Islam juga mewajibkan setiap muslim harus menuntut ilmu. Kerajinan Amai Setia adalah nama wadah para perempuan saat itu, yang disingkat dengan KAS. Hal ini yang mendorong Rohana Kudus bembangun tempat pendidikan padal tanggal 11 Februari 1911. Hingga lahirlah Koto Gadang dengan mutu pendidikan yang baik, selain itu hasil keterampilan yang dimiliki oleh perempuan Koto Gadang juga dipasarkan, KAS menyediakan fasilitasnya. Bukan hanya bergerak di bidang pendidikan dan keterampilan, KAS juga mendukung kegiatan perekonomian dan sosial masyarakat. Kecemasan masyarakat akan perempuan yang jika mampu berkerja diluar lalu menjadi lupa akan pekerjaan rumah, dibantah oleh gerakan yang dilakukan oleh Rohana Kudus dan teman-temannya, bahkan pada saat tu perempuan Minangkabau telaten antara masalah rumah tangga dan mengembangkan potensi diri.
Lahir dari keluarga yang memiliki dasar keagamaan yang baik, tentu Rohana Kudus melek dengan aturan Islam, Rohana Kudus hadir ditengah-tengah masyarakat bukan semata karena kepentingan pribadi seperti upaya dalam politik, apalagi berusaha pemimpin suatu negara, justru Rohana hanya sebagai pemimpin perempuan-perempuan, tidak ada lelaki ikut andil di dalamnya, tidak menentang syariat Islam bukan? Rohana Kudus hanya memimpin di kalangan perempuan saja, ditegaskan sekali lagi. Apalagi yang dilakukan Rohana Kudus juga akan membantu kaum lelaki dalam memperjuangkan kebebasan saat itu.
Sejarah pergerakan perempuan lahir pada abad ke-15 melalui tokoh Christine de Pizan, yang melihat bahwa generasi perempuan bisa memiliki pemahaman baik seperti generasi laki-laki jika dibekali ilmu pengetahuan sejak dari masa dini. Semangat akan pentingnya keadilan bagi kaum perempuan yang ada di Eropa ikut menyebar luas, salah satunya hingga ke wilayah Hindia-Belanda, dengan mulai tampak tuntutan hak-hak perempuan untuk mengenyam pendidikan, ikut berpartisipasi dalam politik dan kelompok sosial pada masa itu. Melalui sekolah kita mampu melahirkan nalar, hingga mampu memikirkan bagaimana merancang kehidupan yang baik, menentukan nasib dan adanya kebebasan dalam menjalaninya.
10 Juli 1912, Rohana Kudus memulai kiprahnya dengan membuat surat kabar perempuan, diberi nama “Sunting Melayu”. Semua pengelola redaksi diisi oleh perempuan. Jurnal dan surat kabar disebar agar mampu diakses khalayak umum, contohnya seperti Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, dan Fajar Asia, mampu menyita perhatian masyarakat pada saat itu. Nama Rohana Kudus mulai muncul ke permukaan masyarakat. 25 Agustus 1974, Rohana Kudus mendapatkan gelar pelopor wartawan perempuan Sumatera Barat dan perintis Pers, hadiah ini dari pemerintah Indonesia atas jasa yang telah Rohana sumbangkan kepada bangsa.
Sebagai perempuan yang sering kali dikaji hanya seputar sumur, dapur, kasur, seolah itu menunjukkan bahwa perempuan hanya berada didalam rumah, mengurus semua hal yang ada di rumah tangga, melakukan hal yang itu-itu saja, sehingga perempuan ikut terseret dalam tiga doktrin ini, untuk memikirkan pendidikan menjadi malas, karena ujung-ujungnya akan melakukan tiga hal tadi. Hal ini tentu mengganggu pola pemikiran perempuan, menjadi orang yang dipingit di rumah dan beresiko tidak melek akan kondisi, bukankah perempuan harus melek keadaan agar mampu memberikan teladan dan arahan kepada anak-anaknya.
Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan jika perempuan kekurangan ilmu pengetahuan. Dahulu perempuan di Minangkabau dikatakan dengan sebutan “Urang Rumah”.
Perjuangan Rohana Kudus dinilai tidak bertujuan untuk menentang fitrahnya perempuan, dengan kebijakan yang dimilikinya, Rohana kudus dengan tenang menjelaskan “Perempuan zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamakan laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajiban, yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang ke semuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan.”
Karena kecintaan Rohana Kudus dalam dunia pendidikan, dia mendirikan sekolah yang bernama “Roehana School” di Bukittinggi pada tahun 1917. Mengajarkan kaum perempuan dalam baca-tulis. Beriringan dengan adat yang berkembang pada saat itu yang menganggap bahwa perempuan yang mengenyam pendidikan adalah hal yang tidak lazim, atau sebuah hal yang sangat baru. Meskipun Rohana Kudus tidak sekompleks anak lelaki dalam pendidikan, ia mampu menulis, membaca tulisan Arab-Melayu hingga pandai berbahasa Belanda adalah didikan dari ayahnya, semenjak umur 8 tahun, disaat teman
temannya asik dengan boneka, Rohana Kudus lebih memilih untuk membaca majalah. Majalah yang dibawakan ayahnya dari sekolah tempat ayahnya bekerja. Belajar secara otodidak adalah hal luar biasa yang dilakukan oleh Rohana Kudus pada zaman itu. Kemauan internalnya sangat besar hingga ia mampu menjadi orang besar.
Rohana Kudus mendirikan sebuah media yang mutlak menolak orang-orang Belanda, dampaknya Rohana Kudus dianggap sebagai sebuah ancaman bagi kulit putih. Karya-karya yang Rohana Kudus sebarkan sangat tampak menentang Belanda sehingga negara kincir angin tidak mau memberikan dukungan apapun juga kepadanya. Namun jika kita bandingkan dengan tokoh senior, berbanding terbalik, seperti RA Kartini yang diharumkan namanya oleh Belanda karena RA Kartini masih ada rasa keberpihakan kepada Belanda, sehingga masih menulis hal yang menggambarkan Belanda sebagai figure yang baik. Tentu kedua tokoh ini sangat berbeda latar dalam hal keberpihakannya terhadap Belanda. Rohana Kudus juga semakin terkenal akan keberaniannya, Rohana Kudus menempati hati masyarakat, melalui tulisannya, aspirasi masyarakat pada umumnya mampu tersampaikan ke banyak orang di Indonesia.
Rohana Kudus menuntut hak perempuan lewat media massa, ekonomi dan pendidikan. Satu-satunya peristiwa yang diperingati secara regional di Sumatera Barat adalah Hari Bela Negara. Rohana Kudus meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 1972 pada usia 88 tahun. Banyak penghargaan yang diperoleh oleh Rohana kudus, penghargaan yang pernah diterima oleh Rohana Kudus ialah, penerima penghargaan “Wartawati Pertama Indonesia” yang dianugerahkan oleh PEMDA Sumatera Barat pada 17 Agustus 1974. Penerima penghargaan “Perintis Pers Indonesia” yang dianugerahkan oleh Menteri Penerangan Bapak Harmoko Pada perayaan Hari Pers Nasional 9 Februari 1987. Penerima Penghargaan “Bintang Jasa Utama” yang dianugerahkan oleh Pemerintah Republik Indonesia di tahun 2008.
Begitu besar perjuangan dan ketulusan Rohana Kudus dalam memperjuangkan perempuan Minangkabau, berhati besar dan kritis dengan zaman, disaat zaman meminta perempuan berdiam diri menunggu takdir datang begitu saja, Rohana justru bangkit mengajarkan bahwa, takdir itu memang punya Allah, tetapi usaha milik manusia, mengapa hanya diam? Sementara diberikan akal, perasaan, naluriah, dan alat empiris. siapa yang akan mengubah diri jika bukan dari diri itu sendiri, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu berusaha mengubah nasibnya terlebih dahulu. Sekarang tokoh-tokoh perempuan sudah banyak dijumpai dalam aktivitas religius, pendidikan, politik, sosial, budaya, dan banyak hal lainnya, bahkan banyak yang berasal dari Minangkabau, tak hanya berkiprah di dalam negeri bahkan mampu mencapai dunia internasional. Namun nyatanya, Rohana dengan segala kemampuan membuat perempuan bebas dalam beraktifitas, hingga saat ini masih belum dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, bukankah itu sebuah hak yang harus didapatkan oleh Rohana, mengapa hanya RA Kartini yang teranggap, sementara dari Minang, Rohana Kudus juga layak untuk mendapatkannya. Semoga pahala jariyah mengiringinya selalu, Rohana Kudus. Julia Parawansa. Bukittinggi. Ahad, 20 November 2022.
Leave a Reply