
Penulis: Mazaya Khairunnisa
Chapter 1
Pada suatu pertandingan sepak bola, salah satu tim berhasil meraih peringkat pertama dalam pertandingan antar provinsi tersebut. Tim yang diketuai oleh Rafi ini, memang terkenal di kalangan mereka pada masanya. Pada saat pembagian tropi, Rafi mengangkat tangannya sambil bersorak.
“Kamilah Pemenang!!”
Seluruh penonton bersorak sorak menyebut nama mereka, namun, wush!
Rafi menghilang dari lapangan itu tanpa jejak sedikitpun. Para penonton berseru melihat kejadian itu, Rafi menghilang dalam sekali kedipan mata.
Apa yang terjadi pada Rafi?
Sementara itu, di suatu perkebunan yang indah. Tinggallah gadis cantik bernama Ina, yang sedang sibuk membersihkan kebun stroberinya yang indah lagi luas. Leher gadis itu dilingkarkan dengan kalung emas, yang ada mainan di liontin di bagian tengahnya, membuat semakin elok dipandang.
“Ina…”
Ina menoleh “Iya bu, ada apa?”
“Ibu boleh minta tolong?“
“Boleh dong bu! “ Ina mengacungkan jari jempolnya.
“Tolong ambilkan kayu bakar di hutan belakang ya “ibu menunjuk belakang rumah
“Mm… baik bu.“
Ina berangkat bersama bunglon kesayangannya yang duduk manis di pundaknya.
“Lan yang anteng ya, jangan hilang “ Ina memeluk bunglonnya yang bernama Lan.
Tiba di hutan, Ina sibuk memilih milih kayu mana yang sudah lumayan kering untuk dijadikan kayu bakar.
“Ini udah lumayan nggak sih lan…” Ina menoleh ke arah bunglonnya tadi.
“Lah? lan kamu dimana? “ Ina tidak menemukan keberadaan lan dimanapun.
“LAN ! LAN ! jangan hilang ! ini udah mau gelap loh !! “ Ina mulai menangis
“Hiks ! hiks ! lan… aku takut…“ SRAK!
“Eh ?! itu apa ? lan? “Ina mendekati asal suara itu, ternyata… itu adalah …”
“LAN ! , dapat juga akhirnya “ Ina memeluk lan sekuat tenaga.
“Jangan ngilang lagi ya, tapi gimana kita baliknya ya ? udah gelap loh.”
Ina menyusuri hutan itu, yang tanpa ia sadari.
“ Aaaaaa !!!! “ di atas lobong yang tidak berujung.
sementara itu, Rafi sudah berada di tengah hutan belantara yang letaknya entah dimana.
“A – apa apan ini ? Aku dimana ? ini bukannya… hutan ?! “
Rafi yang panik tidak tau apa yang harus dia lakukan, tak sekuat itu untuk berdiri. Rafi duduk diatas batu besar yang tidak jauh dari sana.
“Apa yang harus aku lakukan ?” Gubrak !!
“Aduh ! “
“Aw !”
“Siapa sih yang impit ?!”
“Eh ! maaf bang , aku gak tau…, eh?, bang Rafi?”
“Hah ?! Ina ? Kok bisa nyampe sini?”
“Panjang ceritanya, abang kok bisa juga?“
“Entahlah.“
Singkat cerita, mereka berdua sepupu, yang bertemu secara tidak sengaja di hutan belantara itu. Mereka duduk di batu dengan berterangkan senter kecil yang dibawa ina, untuk berjaga jaga.
“Untung aku bawa senter” Ina mengangkat dagunya dengan bangga
“Iya sih, tapi gak berguna itu ‘Rafi menertawakan lampu Ina yang kecil itu
“Dih? yaudah, nggak usah abang make.” Ina menutup lampunya dan mengarahkan ke arah belakang
“Eh? Nggak-nggak, bercanda , maaf ya… “Rafi memohon kepada Ina.”
“Nggak, tidur lah gelap gelap sana! Ina membalikan badannya membelakang, Rafi.”
“Jangan! Abang takut gelap!!!” Rafi membujuk Ina sekuat tenaga.
“Ntah “ Rafi membuang mukanya yang malu, kalau Ina tau dia takut gelap.
“Yaudahlah, jadi kita ngapain lagi nih ? nunggu bantuan gitu?”
Ina dan Rafi berfikir
“Nggak tau ah! kita istirahat aja dulu, itu kita pikirkan besok “ Rafi membaringkan tubuhnya di atas batu besar itu, dan mulai terlelap.
keesokan paginya, Ina dan Rafi bangun dengan badan pegal, namun, tenaga mereka sudah angsur kembali. Hutan itu sudah terang, dengan cahaya matahari yang berhasil melewati sisi-sisi dari dahan pohon yang besar seperti badan orang dewasa.
“Aduh…, pegel-pegel…” Rafi meregangkan badan yang terasa seperti badan yang dilipat-lipat dan dimasukan kedalam kotak.
“Iya lagi. Wow! masyaallah… hutannya jadi cantik bang!“ wajah Ina tidak kalah bersinar, saat melihat hutan yang pada awalnya menakutkan, sudah seperti dunia mimpi yang dipenuhi warna hijau.
“Tunggu bang!!,jangan hilang lagi ya.“ Ina mengikuti Rafi dari belakang.
Di jalan “ kita mau kemana bang?” Ina menyamakan langkahnya dengan Rafi yang 2 kali lebih cepat dari langkahnya.
“Hmm…,entahlah, ikut ajalah dulu” Rafi mengangkat bahunya,tidak tahu.Rafi belok kearah kanan, ”abang yakin kesana?”
Ina tidak yakin dengan keputusan yang diambil Rafi.
“Yakin lah, inikan cuman hutan” Rafi meneruskan jalannya. ”Jangan itu bukan jalan yang benar!”
“Eh?” Ina menoleh ke arah Ian!” Ina melambaikan tangan lalu menunjuk Ian yang ada di pundaknya.” Ian? PFt mana mung-”
“Mungkin aja kok!” belum selesai Rafi berbicara, Ian sudah memotong kalimatnya.
“Lah?!” Rafi ternganga dengan keajaiban tersebut, Ian turun dari pundak Ina sembari berkata.
“Kalian disini diperintahkan untuk menyelesaikan misteri 3 kristal, yang mana, jika kristal itu tidak diselesaikan, hutan ini akan tetap terapung dengan kalian di dalamnya” bunglon berbicara layaknya manusia yang bijak dan lancar.
-Bersambung-
Leave a Reply