
Bagi keluarga besar ABI Center, nama Ustadz Yengki tentu bukanlah sosok yang asing. Kehadirannya kali ini menjadi pertemuan yang ketiga bersama para guru dan karyawan ABI Center. Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, beliau kembali menghadirkan suasana yang hidup. Sesekali peserta dibuat tertawa dengan candaan yang ringan, namun di saat yang sama diajak berpikir secara mendalam melalui materi yang penuh makna. Gaya penyampaian yang santai, bijaksana, dan komunikatif membuat setiap peserta mudah memahami isi pembahasan.
Pada kesempatan ini, Ustadz Yengki membawakan materi tentang mengenali karakter seseorang. Menurut beliau, memahami karakter merupakan salah satu kunci membangun organisasi yang kuat. Ketika seseorang ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan karakternya, amanah yang diberikan akan lebih mudah dijalankan dan hasilnya pun menjadi lebih maksimal. Inilah yang diharapkan dapat diterapkan di lingkungan ABI Center.
Sebagai pembuka, Ustadz Yengki menayangkan sebuah video tentang sekelompok semut yang bekerja sama membawa potongan daun menuju sarangnya. Di antara banyak semut tersebut, terdapat seekor semut yang berjalan paling depan tanpa membawa beban. Sekilas ia terlihat tidak bekerja, padahal justru ia memikul tanggung jawab yang paling besar, yaitu menjadi pemimpin rombongan.
Dalam perjalanan, rombongan semut menemukan sebuah ranting yang menjadi jembatan untuk menyeberangi lubang yang cukup dalam. Sang pemimpin tidak langsung memerintahkan rombongannya melintas, melainkan lebih dahulu menguji kekuatan ranting tersebut dengan mengguncangnya sekuat tenaga. Setelah yakin bahwa ranting masih aman, barulah ia mengajak seluruh anggotanya mengikuti jalur tersebut.
Namun ketika rombongan berada di tengah perjalanan, pemimpin melihat ranting mulai bergoyang dan berisiko patah. Tanpa ragu ia segera mengambil keputusan untuk memutar balik seluruh anggota tim demi menghindari bahaya. Keputusan itu diambil dengan cepat demi keselamatan semua anggota.
Selanjutnya, sang pemimpin memerintahkan seluruh semut bekerja sama membuat sebuah pesawat sederhana dari kertas. Semua semut menjalankan tugasnya dengan penuh kekompakan. Setelah pesawat selesai dibuat, seluruh anggota naik ke atasnya. Menariknya, ada satu semut yang tetap berada di belakang untuk mendorong pesawat hingga dapat bergerak. Semut tersebut menjadi semut terakhir yang naik setelah memastikan semua rekannya sudah berada di tempat yang aman. Sikap rela berkorban inilah yang menjadi salah satu kekuatan sebuah tim.
Di tengah perjalanan, pesawat yang mereka gunakan mengalami kerusakan dan akhirnya jatuh. Namun mereka tidak menyerah. Dengan kreativitas dan kerja sama, pesawat itu diubah menjadi sebuah perahu sehingga perjalanan dapat dilanjutkan melalui jalur air.
Dari kisah sederhana tersebut, Ustadz Yengki mengajak seluruh peserta mengambil pelajaran bahwa sebuah tim membutuhkan berbagai macam peran. Ada pemimpin yang menentukan arah, ada anggota yang menjalankan amanah, dan ada pula pribadi yang rela berkorban demi keberhasilan tim. Ketika setiap orang menjalankan perannya dengan baik, maka sebuah tim akan menjadi kuat, solid, dan mampu melewati berbagai tantangan.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Ustadz Yengki kemudian memberikan contoh dari sejarah Islam, yaitu kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Beliau menjelaskan bahwa keberhasilan kepemimpinan Islam tidak hanya ditentukan oleh satu orang, tetapi oleh perpaduan karakter yang saling melengkapi.
Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal sebagai pribadi yang sangat setia, lembut, dan selalu menjadi orang pertama yang mendukung Rasulullah ﷺ dalam berbagai keadaan.
Umar bin Khattab memiliki karakter yang tegas, pemberani, serta mampu mengambil keputusan dengan cepat. Ketegasan beliau menjadi kekuatan penting dalam menjaga pemerintahan dan umat Islam.
Utsman bin Affan dikenal dengan kelembutan hati, rasa malu yang tinggi, serta sifat dermawannya. Akhlaknya yang mulia menjadikannya sosok yang sangat dihormati.
Sementara itu, Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai pribadi yang cerdas, strategis, berani, dan memiliki kemampuan berpikir yang tajam dalam menghadapi berbagai persoalan.
Menurut Ustadz Yengki, apabila salah satu karakter tersebut tidak ada, maka kepemimpinan Islam tidak akan menjadi sekuat yang tercatat dalam sejarah. Justru karena perbedaan karakter itulah mereka mampu saling melengkapi dan membangun kepemimpinan yang kokoh.
Memasuki sesi berikutnya, seluruh guru dan karyawan diajak mengikuti tes sederhana untuk mengenali karakter masing-masing. Setiap peserta diminta menyiapkan empat lembar kertas dengan ukuran yang sama, kemudian diberi label A, B, C, dan D. Melalui sejumlah pertanyaan, peserta diminta memilih jawaban yang paling menggambarkan dirinya.
Dari hasil tersebut, peserta kemudian dikelompokkan ke dalam empat tipe karakter, yaitu Akar, Buah, Cabang, dan Daun.
Tipe Akar adalah pribadi yang sistematis, disiplin, menyukai aturan, setia terhadap organisasi, serta bekerja berdasarkan prosedur yang jelas. Mereka sangat cocok ditempatkan pada bidang administrasi, keuangan, bendahara, maupun pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Tipe Buah merupakan pribadi yang penuh semangat, ceria, mudah membangun suasana, dan mampu memberikan energi positif kepada tim. Mereka sangat cocok menjadi MC, marketing, humas, public relations, maupun bidang yang membutuhkan kemampuan komunikasi.
Tipe Cabang adalah pribadi yang memiliki jiwa kepemimpinan. Mereka senang mengatur, berani mengambil keputusan, fokus terhadap target, dan cenderung bergerak cepat. Karakter ini cocok menjadi ketua tim, koordinator, penanggung jawab kegiatan, maupun pemimpin organisasi.
Tipe Daun merupakan pribadi yang tenang, sabar, pendengar yang baik, teliti, dan lebih nyaman bekerja di balik layar. Mereka sangat cocok dalam bidang penulisan, analisis data, penelitian, dokumentasi, maupun pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Di akhir sesi, Ustadz Yengki menegaskan bahwa tidak ada karakter yang paling baik ataupun paling buruk. Setiap karakter memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sebuah organisasi akan menjadi kuat apabila di dalamnya terdapat perpaduan antara Akar yang menjaga sistem, Buah yang menghidupkan suasana, Cabang yang memimpin, dan Daun yang mendukung dengan kesabaran serta ketelitiannya.
Melalui kegiatan ini, seluruh guru dan karyawan ABI Center tidak hanya semakin mengenal dirinya sendiri, tetapi juga memahami bagaimana menghargai perbedaan karakter rekan kerja. Dengan saling melengkapi sesuai potensi masing-masing, diharapkan ABI Center mampu membangun tim yang semakin solid, profesional, dan siap menjalankan amanah pendidikan dengan sebaik-baiknya.
Leave a Reply