Kutbah Wada` Abi Hamdi Untuk Murid Kelas XII Yang Hendak Lulus ABI Center

Uncategorized

Pada hari yang sudah mencapai pada pengunjung hari murid kelas XII di ABI Center, peran Abi Hamdi sebagai Pimpinan Pondok menjadi begitu penting, sebuah nasehat yang menjadi kekuatan bagi para murid SMA, pada tanggal 1 Mei setelah shalat magrib, seluruh murid kelas XII berkumpul mendengarkan pesan terakhir sebagai murid ABI Center. Abi Hamdi hadir sebagai orang tua yang seolah memberikan nasehat kepada anak kandungnya sendiri, yang telah dididik selama lebih kurang 6 atau 3 tahun lamanya. Abi Hamdi berpesan “Berikan ucapan terima kasih kepada guru, karena telah mengoptimalkan segala hal yang diperlukan dalam pendidikan. Perihal perpisahan yaitu Bapisah Bukannyo Bacarai, makna yang dalam bahwa kehidupan selanjutnya memang tidak di ABI Center namun nilai-nilai yang diajarkan tidak dilepaskan. Semoga lulus dengan nilai baik, bagi yang sedang menanti hasil ujian bersama untuk jalur perkuliahan mendapatkan hasil yang membuat murid-murid ABI Center mampu melanjutkan pendidikan, untuk yang perempuan ada kabar bahwa semuanya melanjutkan, untuk yang putra ada  yang memutuskan untuk melanjutkan di bidang Tentara, semoga bisa menjadi Jendral. Jika belum lulus adalah tanda bahwa ada rencana yang lebih baik dari keputusan itu.”   Murid kelas XII merasa dukungan ini begitu besar, Abi menyampaikan hal ini penuh dengan pengharapan yang baik dan disampaikan begitu membuat yang mendengar menjadi termotivasi. Berpesan dalam adab dan karakter “Jika berbuat baik maka yang mendapatkan kebaikan adalah diri sendiri, jika sebaliknya maka akan mendapat balasan, di dunia, atau di alam kubur, atau di akhirat kecuali di bertaubat. Sikap kepada orang tua, guru, adik, teman akan menjadi pertanggungjawaban sendiri, nanti akan memiliki anak dan akan mengalami hal yang sama, seorang guru jelek menurut kita, mintakan rela dan minta maaf karena sifat sebelumnya akan menentukan langkah selanjutnya. Kebertahanan hidup, saling doakan, karena tidak ada hijab antara hamba dan Allah melalui perantara doa, kekuatan kaum mukmin adalah doa, guru selama-lamanya, sifat sebelumnya akan menentukan langkah selanjutnya, hendaklah kepergian dilakukan dengan sebaik mungkin, dihantarkan dengan doa terbaik dari orang orang yang kita tinggalkan, karena guru adalah orang yang menanti keberhasilan muridnya, menurut pengalaman Abi, maka pengalaman adalah guru, Abi unggul dari seluruh yang ada disini dalam perihal pengalaman dan umur, jadi dengarkan, banyak kehidupan yang telah Abi lewati, ambiak contoh ka nan sudah, ambiak tuah ka yang gadang”   Abi Hamdi merasakan bahwa pada khutbah wada` ini merupakan momen yang tepat untuk menyampaikan pesan dalam menghadapi dunia luar yang begitu rawan diri mereka yang masih dalam masa pencarian jati diri, Abi Hamdi kembali memberikan pencerahan “Selama disini, ada pengalaman suka dan duka, ada baik ada buruk, habiskan yang buruk, minta maaf, dan saling memaafkan, kepada teman yang lama tidak bersapa, kepada guru yang masih menaruh atau menyimpan dendam, sehingga keluar dari dari sini ABI Center menjadi ikonik sebagai seorang murid yang memiliki pandangan baik terhadap apa yang telah ditempuh di pondok selama ini. Abi sampaikan bahwa guru di ABI center tidak ada yang mau mengajarkan hal jelek, yang ada anggapan dari murid yang menganggap buruk atau memandang dengan mata kebencian, karena ketika kebencian telah terletak di pada hati seseorang maka yang ada hanyalah keburukan, pesan Abi jangan menjadi orang pendendam. Jadilah pribadi yang melakukan segala hal memang dari hati, bukan hanya sekedar basa-basi, karena basa basi itu tidak bisa dirasakan dan hanya sampai pada akal, tidak menjadi empati yang tersimpan dalam hati, ketika keluar dari pondok memang awalnya senang, tidak ada lagi pengekangan, tidak ada lagi yang mengingatkan, tidak ada ustadzah dan guru lainnya mengingatkan pakaian, adab berbicara, semua berjalan tanpa nasehat yang rutin, hanya diri sendiri yang mampu mengatur dan menjaga nya, diluar pondok tanamkan rasa hormat, bertemu guru, sapa, tegur, salam, Abi berharap masing-masing murid memiliki rasa penghormatan kepada guru, itu yang perlu, segan bukan hanya karena guru tapi karena Allah selalu menyaksikan kehidupan, selama di luar tidak ada yang bisa mengontrol dan menjaga diri kecuali dengan menjaga iman.”   Kemudian Abi juga menyampaikan cara bermasyarakat yang begitu kompleks dan harus beretika dengan baik. “tegur sapa, disimpang jalan, berpapasan dengan guru dan teman, ketika orang ramai di perlambat laju kendaraan, jadilah pribadi yang muluik manih kucindang murah, ramah, santun, menyapa orang dengan baik, sampaikan maaf, tolong, terimakasih, izin mendahului dan lainnya ketika bertemu orang yang lebih tua dan mengayomi sesama, bertemu orang tinggalkan kesan yang baik, jangan menjadi orang pendendam karena wajah orang pendendam itu tidak bagus, jika ada sesuatu sampaikan dengan baik, diselesaikan hingga tuntas dan berlapang dada.”   Lalu selain menjadi alumni yang baik Abi jua berharap untuk kiprah setiap murid ” Kok dapek jadi contoh di tengah masyarakat, jadi tampek batanyo, bawa khas pondok, dari lisan, sebagai pantulan ajaran ABI Center, untuk putri ABI Center, dikhususkan jagalah diri, jangan bersolek yang membuat tampilan yang berubah, hilang jatidiri, hilang nilai-nilai pondok dalam dirinya, apalagi sepatu tinggi, makan berdiri dan dengan tangan kiri, ucapan menyakiti orang, mengadu domba jangan dilakukan ,jadilah sebagai perempuan yang memiliki kehormatan, yang menjaga dirinya dengan baik, untuk yang berjuang menjadi tentarea, berilah contoh, terkesan, menjadi imam, tetap dimintakan amanat dan pesannya, menjadi penerang bagi orang-orang yang butuh kepelitaan hidup sehingga dihargai dengan segenap hati dan budi pekerti.”  

Abi Hamdi dipandang sebagai sosok pemimpin yang tidak hanya tegas, tetapi juga hadir layaknya orang tua bagi para murid. Cara beliau menyampaikan nasihat terasa menyentuh, tidak sekadar memberi arahan, tetapi juga penuh dengan empati, pengalaman, dan ketulusan. Pesan yang disampaikan tidak hanya didengar oleh para murid, tetapi juga dirasakan dan berpotensi melekat dalam diri mereka.

Pendekatan Abi Hamdi yang menekankan pengalaman hidup sebagai guru dinilai sangat relevan. Nasihat yang lahir dari perjalanan hidup terasa lebih nyata, membumi, dan mudah dipahami oleh para murid. Beliau tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga menggambarkan kehidupan yang telah beliau lalui. Dari situ terlihat adanya keseimbangan antara nilai spiritual, akhlak, dan realitas kehidupan sosial, sehingga para murid tidak hanya dipersiapkan untuk sukses secara akademik, tetapi juga matang secara mental dan moral.

Secara keseluruhan, Abi Hamdi dinilai telah memberikan fondasi yang kuat bagi para murid dalam menghadapi kehidupan setelah keluar dari pondok. Namun, tantangan ke depan terletak pada bagaimana para murid mampu menginternalisasi dan mengamalkan nilai-nilai tersebut, agar tidak hanya menjadi kenangan, tetapi benar-benar menjadi prinsip hidup yang nyata.

   
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.