
Penulis: Sabrilla Annisa Riandi
Angin pagi menyusup dari celah jendela yang tak lagi rapat. Kayunya mengembang karena hujan semalam, mengerut ketika dingin. Setiap deritnya seperti suara lama yang tak selesai diucapkan.
Aku terbangun dengan napas terengah.
Mimpi itu lagi.
Aku berdiri di depan sebuah rumah tanpa pintu. Dindingnya retak memanjang seperti garis patah di kaca. Dari dalam terdengar suara orang berdebat, tapi tak ada wajah. Atapnya bocor. Air menetes tepat di kepalaku. Ketika aku mencoba masuk, lantainya runtuh. Aku jatuh ke ruang kosong yang tak berdasar.
Lalu bangun.
Ruang sempitku menyambut dengan bau lembap. Dinding mengelupas. Lumut merayap seperti sesuatu yang pelan-pelan menguasai. Atap seng menggantung, menunggu waktu untuk jatuh.
Aku memilih tinggal di sini.
Rumah ibu terlalu terang. Terlalu rapi. Terlalu penuh orang yang tak ingin kulihat. Sejak perceraian itu, rumah bukan lagi tempat pulang. Ia hanya bangunan. Malam terakhir sebelum semuanya berubah, aku berdiri di balik pintu kamar.
“Apa kurangnya aku?” suara ayah pecah, bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang lebih rapuh dari itu.
Ibu tak langsung menjawab. Lama sekali. Lalu hanya ada kalimat pendek yang seperti palu memukul kayu lapuk.
“Aku ingin hidup yang lain.”
Setelah itu suara piring jatuh. Lalu sunyi.
Aku tak pernah benar-benar tahu siapa meninggalkan siapa. Yang kutahu, keesokan harinya rumah terasa lebih luas dan lebih kosong sekaligus. Beberapa bulan kemudian, seorang perempuan sering menelpon rumah. Suaranya lembut, terlalu lembut. Ayah tak lagi pulang tepat waktu. Ibu mulai memeriksa layar ponsel dengan tatapan yang tak bisa kusebut apa. Rumah mulai retak. Bukan di dindingnya—di dalamnya.
Aku pergi sebelum retaknya terdengar terlalu jelas. Di sekolah, aku berjalan seperti biasa. Orang-orang menyebutku “Korlin”—entah sejak kapan nama itu melekat. Mungkin karena aku selalu terlihat setengah hadir.
“Lin!”
Kenzo berlari kecil menyusulku. Ia selalu membawa cahaya yang terlalu terang untuk lorong sekolah yang kusam.
“Kamu mimpi lagi?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Apa yang kamu lihat?”
“Rumah tanpa pintu.”
Kenzo terdiam sejenak. “Kalau tanpa pintu, mungkin itu bukan rumah. Mungkin cuma bangunan.”
Aku menoleh padanya. Ia tertawa kecil, seolah kalimatnya bukan apa-apa. Tapi sesuatu di dadaku bergerak.
“Kasih tahu aku rumahmu, Lin,” katanya lagi suatu hari. “Aku pengin tahu kamu pulang ke mana.”
Aku tersenyum tipis. “Nanti.”
Hari kelulusan datang seperti musim yang tak bisa ditunda. Orang tua berdiri di samping anak-anaknya. Kamera berkilat. Nama-nama dipanggil. Aku duduk, memandangi gerbang sekolah. Ibu bilang akan datang. Aku tak tahu dengan siapa.
“Kenzo Aditia.” Ia berdiri. Tersenyum. Langkahnya ringan menuju panggung.
“Putra dari Bapak Jamharuddin dan Ibu Ratna Lestari.”
Namanya seperti batu kecil yang dilempar ke danau tenang.
Jamharuddin.
Ayahku berdiri di samping seorang perempuan yang sangat kukenal—guru yang pernah mengajariku tentang puisi dan kesetiaan pada kata. Mereka tampak serasi. Terlalu serasi. Ayah tidak menatap ke arahku. Ia tersenyum pada kamera. Senyum yang dulu hanya ada di meja makan kami. Ibuku berdiri di sampingku entah sejak kapan. Tangannya dingin.
“Kamu sudah lihat?” bisiknya.
Tak ada tangis. Tak ada penjelasan panjang. Hanya napas yang berat dan kalimat yang terpotong di ujungnya. Beberapa potongan gambar menyatu: panggilan telepon lembut itu, kepulangan yang semakin jarang, pertengkaran yang tak pernah selesai.
Rumah tanpa pintu. Kenzo turun dari panggung. Wajahnya bersinar.
“Lin! Kamu lihat? Ayah sama Ibu datang bareng!”
Aku menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihatnya—bukan sebagai cahaya, bukan sebagai jeda—tapi sebagai bagian dari dinding yang tak kusadari sedang dibangun di sekelilingku.
“Lin?” suaranya pelan sekarang.
Ku menatap pria di belakang Kenzo. Ayahku. Kepalanya tertunduk, bahunya tampak lebih sempit dari yang kuingat—seolah waktu telah lebih dulu menghukumnya. Dengan suara lirih yang bergetar, aku berkata,
“Aku sudah tidak punya rumah.”
Kenzo terdiam.
“Rumah itu,” lanjutku, “ternyata cuma bangunan. Dan bangunan bisa dipindahkan.”
Tak ada teriakan. Tak ada tuduhan. Angin siang hanya lewat, menggoyangkan ujung spanduk kelulusan. Ayah menunduk lebih dalam. Jemarinya gemetar, meremas piagam yang sejak tadi ia pegang, lalu terlepas jatuh ke lantai—sebuah benda kecil yang tak pernah sempat ia berikan padaku. Ia mengangguk pelan. Bukan padaku. Mungkin pada kesalahannya sendiri.
Untuk pertama kalinya, aku melihat matanya basah—bukan karena ingin dimengerti, tapi karena akhirnya mengerti.
Aku berbalik. Untuk pertama kalinya, mimpi itu terasa berbeda. Rumah tanpa pintu itu tidak lagi runtuh. Ia berdiri saja—kosong, tapi utuh dalam kesunyiannya. Mungkin memang bukan tugasku masuk ke dalamnya. Mungkin tugasku adalah membangun alamatku sendiri.
Dan hari itu, tanpa suara keras atau air mata yang meledak, aku benar-benar terbangun.
-Selesai-
Leave a Reply