
Sudah 14 tahun aku di Kalimantan, sekarang aku dikenal dengan K.H Zaqy Al Shaleh, M.H, sekarang sudah sukses, memiliki Pondok Pesantren yang banyak dan memiliki banyak cabang hotel di seluruh Indonesia dan aku juga menjadi ketua organisasi besar, tapi ada sebuah pertanyaan yang terngiang di kepalaku “ Ayah, Ibu, Safiya, apakah kita masih bisa bertemu”, hingga akhirnya Sudah 14 tahun aku di kalimantan , sekarang aku dikenal K.H. Zaqy Al-shaleh M.H , sekarang aku sudah memiliki kekayaan seratus tiga triliyun dan memiliki pondok pesantren yang banyak dan banyak hotel di seluruh indonesia dan saya juga menjadi ketua NU ( Nahdlatul Ulama ) , tapi ada sebuah pertanyaan yang terngiang di kepalaku “ Ayah, Ibu, Safiyah apakah kita masih bisa bertemu” Setiap hari itu selalu terngiang dan akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Tanjung Alam Sumatera Barat.
Saat tiba di Bukittinggi. Aku langsung berangkat ke Tanjung Alam. Ke desa yang bernama desa ‘Makmur Sejati’. saat aku disana banyak orang yang terharu melihatku dan kepala sekolahku yang bernama pak Yusuf mendekat dan beliau berkata “Zaqy, ini kamu? Sudah jadi Ustadz kondang saja ya?“
“Iya pak benar ini Zaqy, Bapak apa kabar?” Setelah aku berkata begitu pak yusuf langsung memelukku dengan erat, dan aku bertanya pada guruku itu.
“Pak dimana ayah dan ibu?“ mendengar hal tersebut pak yusuf menangis dan menunjuk ke arah kuburan desa. “Ayah dan Ibumu sudah meninggal, kami tidak bisa menghubungimu saat itu, kami sengaja menunggu mu pulang, dan adik mu sekarang sendiri dan memungut sampah di jalan-jalan untuk menyambung hidup.
Aku yang melihat itu langsung menghampiri kuburan itu sambil menangis ,dan setibanya disana, aku berusaha mencari nama kedua orang tua ku. Ketika aku sedang mencari, tiba-tiba hatiku sakit, jantungku sakit, kaki ku tak bertenaga dan ternyata aku dihadapan dua nama itu, aku terjatuh tidak berdaya, itulah batu nisan ayah dan ibuku. Aku pun menangis dan berkata
“Ayah Ibu, Zaqy pulang, lihat ayah, ibu aku sudah menjadi ulama besar.” Setelah aku mengatakan itu aku berdoa’ “Ya Allah, hapuskan lah dosa ayah dan ibuku, dan pertemukan ku lagi dengan safiyah.” Ketika berjalan, dijalan aku menemukan seorang wanita yang terlihat seperti Safiyah yang sedang mengais sampah, saat ku perhatikan ternyata benar safiyah.
Aku menangis melihat keadaan adikku yang seperti itu “Safiyah ini Abang.” Ia pun menoleh “Siapa?” Aku pun berkata “Ini abang.“ Setelah mengatakan itu safiyah memelukku sambil berkata “Abang Zaqy” aku pun mengajak safiyah kerumah saat ia melihat rumahku dia berkat ”Kakak satu desa mungkin muat di dalam sini“ Aku pun mengajak safiyah makan dan dia pun makan dengan lahap, setelah makan dia pun mandi, berwudhu dan kami pun shalat isya bersama dan setelah shalat dia berkata “Safiyah senang bisa ketemu abang lagi aku menjawab “abang juga“ Safiyah memeluk dan mencium tangaku, akhirnya kami ke,nali bertemu, aku membawa Safiyah ke rumah, aku mendirikan pondok atas niat amal dan sedekah untuk ayah dan ibu.
Selesai.
Leave a Reply