Cerita Bersambung “Jalan Terbaik” Chapter 1

Uncategorized

Penulis: Ahmad Rizaldi Wira Yuda   Di sebuah desa kecil yang tersembunyi di balik hamparan sawah dan hijaunya perbukitan, adalah tempat tinggalku. Dalam kesederhanaan hidup bersama keluarga, aku tumbuh dengan ketulusan, kerja keras, dan harapan yang tak pernah padam. Meski kehidupan jauh dari kata berkecukupan, cinta dan doa orang tua menjadi bekal terbesar dalam setiap langkahku. “Zaqy!” Terdengar suara ibu memanggilku untuk bekerja di sawah milik pak Abdul. “Baik, bu. Aku segera kesana.” Aku menyusul ibu untuk membantunya. Aku dan  ibuku di sawah memanen padi milik pak Abdul, ibu bekerja sebagai petani upah. Waktu berjalan, tak terasa matahari sudah bersembunyi dari balik gunung dan azan magrib berkumandang, Aku dan ibuku telah siap untuk pulang. “Ibu, dan bang Zaqy sudah pulang, yah.” Adikku, Safiyah langsung  menyambutku “Abang, Ibu.” Dia memeluk kami dengan erat. “Ayo makan” Kata Ayah. Aku sudah begitu lapar langsung bersemangat. Aku membuka tudung saji dan terlihat lauk yang sangat enak, yaitu teri dan sayur yang masih hangat. “Wahhh Alhamdulillah.” Aku bersyukur, karena biasanya aku makan nasi campur garam. “Tadi ayah dapat bonus dari pak Salman, jadi ayah beli ikan teri, biar kita makan enak hari ini.” Ayah tampak begitu senang. Kami pun makan malam bersama, setelah makan, Aku langsung membersihkan diri, setelah bersih-bersih, aku pun belajar untuk esok hari dengan penerangan lampu minyak. Setelah belajar aku bersiap untuk tidur dengan harapan besok aku mendapat keajaiban, itulah rutinitasku, berharap kepada Allah. Esoknya, aku lanjutkan hariku dengan penuh senyum, ibu memasukkan bekalku kedalam tas. “Di Dalam bekalmu ada hadiah, Zaqy.” Kata ibu, karena mendengar itu aku langsung terheran-heran dan bingung, karena aku jarang sekali mendapat hadiah, bukan karena ibu pelit, tetapi memang hanya itulah yang ibu dan ayah mampukan, jika ada, ibu akan setiap hari memberiku hadiah, namun menurutku, ibu dan ayah sudah memberikan semua yang ia miliki kepadaku dan Safiya. Sekarang ayah dan ibu masih mampu membelikan kami makan dua kali sehari. Yah sudah tidak perlu banyak dipikirkan, aku berangkat sekolah, saat aku sampai di sekolah, jam telah menunjukkan jam delapan, murid-murid berbaris di lapangan selama tiga puluh menit, setelah berbaris kami masuk ke kelas untuk belajar, itulah rutinitasku. Jam istirahat, aku membuka kotak bekal, ada susu kotak ukuran kecil, minuman yang selalu aku lirik dari rak minuman ketika di warung, tapi aku tidak pernah memintanya kepada ibu, bahkan kami saja terkadang berhutang di warung, aku tidak ingin menambah beban ibu. Ternyata ibu tau apa yang aku inginkan. Hari itu senyumku lebih merekah dari biasanya. Hari-hari berjalan hingga sampailah pada hari yang dinantikan, hari pembagian raport. Hari itu aku mendapat nilai yang tinggi, dengan semangat aku berlari untuk pulang dan menunjukkan nilai tersebut kepada keluarga ku. “Bu, nilai Zaqy bagus, kan?” Ibu sedang melihat nilaiku. “Ya nak, Sangat bagus. Kami bangga nak” Ibu pun menjawab, karena mendengar perkataan itu, aku senang. Namun disisi lain aku menyadari akan suatu hal. Ekonomi keluarga tidak mendukung untuk sekolah di SMP, banyak biayanya. Hari berlalu, aku merasa gundah, karena teman-temanku sudah mendaftar sekolah, karena aku merasa gelisah, aku keluar rumah, untuk menenangkan pikiranku. “Alam ciptaan Allah ada obat bagi tubuh dan ketenangan bagi jiwa.” Zaqy pernah membaca hal ini, inilah alasannya untuk tidak tetap mengurung diri, tapi kembali ke alam adalah obat. Zaqy menerapkan itu. Ketika sedang berjalan, aku terkejut karena ada sebuah mobil yang tertabrak ke pohon, aku berlari menghampiri mobil tersebut, terlihat seorang bapak-bapak yang pingsan, aku mencoba membangunkan, namun tidak ada respon, aku mencoba untuk membawa turun bapak itu dari mobil, untuk mencoba melakukan CPR, menekan dada bapak hingga kembali dari sadarnya, aku langsung mencari air minum yang ada di dalam mobil. “Minum dulu pak.” “Terimakasih, Nak.” Setelah kondisi lebih membaik, Bapak itu bersandar, di salah satu pohon. Zaqy bersyukur, namun mobil bapak tersebut hancur di bagian depan. “Siapa namamu, nak?” “Nama saya Zaqy pak.” “Zaqy yang nilai tertinggi nasional itu?” “Darimana bapak tau?” “Nilai kamu 99,7 itu?” “Iya pak. Tapi saya sedih pak.” “Kenapa?” “Karena tidak ada biaya untuk sekolah, pak.” “Boleh minta alamat rumahmu? Saya mau bertemu dengan orang tua mu Zaqy. Saya ingin membantumu melanjutkan sekolah.” Waktu berlalu, hingga suatu hari, Bapak yang Zaqy tolong datang kerumah. Zaqy membukakan pintu, Ibu dan Ayah sudah pernah mendengar cerita dari Zaqy. “Saya Arifin, biasa dipanggil Ustadz Arifin punya niat untuk menyekolahkan Zaqy sampai tamat, saya ingin menyekolahkan Zaqy di Pondok Pesantren yang ada di Kalimantan, untuk seluruh biaya, akan saya upayakan untuk Zaqy..” Ibu terdiam, berpikir sejenak. lalu menyetujui. Dan berterima kasih kepada Pak Arifin. “Tapi nak, kamu tidak masalah jauh dari keluarga selama 7 tahun?” “Kita bisa berkirim kabar ibu.” “Tapi ingatlah, meski nanti kita berpisah jauh, ibu, ayah, Safiya tetap dekat di hatimu, nak. ibu doakan yang terbaik untuk Zaqy. Mungkin ibu dan ayah tak bisa memberikan banyak. Tapi doa ibu akan selalu menyertaimu.” “Aku juga akan berjanji untuk belajar dengan giat, menjadi cahaya keluarga kita bu.” “Ibu, ayah? Bang Zaqy kemana?” “Bang Zaqy pergi sekolah, nak.” “Abang hanya pergi sebentar aja kok, Safiya.” Safiya memasang ekspresi senang campur sedih, karena menyadari akan pisah dengan saudaranya. “Zaqy, pesan ayah, tetap rendah hati.” “Iya ayah, ayah jaga kesehatan, tolong jaga ibu dan Safiya, Zaqy nanti pulang lagi kerumah.” Sampailah pada hari keberangkatan, setelah salam dan berpelukan, aku melambaikan tangan kepada ayah, ibu dan Safiyya, Safiyya menangis, hal itu membuat aku juga menangis, ada perasaan yang langsung menyebar ke seluruh tubuhku, terasa sakit, sesak dan tidak nyaman harus berpisah dari keluarga, bagaimana lagi, ini adalah ujian kehidupan  dari Allah yang harus aku tempuh.
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.