Cerita Bersambung “Yang Tak Pernah Terdata” Chapter 1

Uncategorized

Penulis: Audrey Muttaqiyya Noya     Marie adalah seorang detektif terkenal. Ia sering memecahkan banyak kasus-kasus. Mulai dari kasus pembunuhan, pencurian, hingga kasus peneroran, kali ini Marie mendapatkan sebuah kasus pembunuhan. Sindy adalah nama korbannya, ia merupakan wanita cantik dan baik. Pagi itu, Sindy ditemukan tak bernyawa di dalam kosnya, awalnya banyak yang mengira bahwa Sindy bunuh diri, karena saat itu kamarnya terkunci, ternyata pendapat itu salah, ditemukan bekas sayatan tepat di nadi tangannya, ada juga bekas cekatan di lehernya, serta ditemukan juga pisau di bawah kasurnya. Pelaku pembunuhan ini adalah orang pintar, ia tak meniggalkan jejak sedikitpun. Mulai dari jejak kaki, barang-barang, hingga sidik jari. Hal tersebut membuat kasus ini semakin sulit untuk dipecahkan Marie. Malam itu, Marie bersiap-siap ingin tidur, tiba-tiba saja ada yang menelponnya, tampak di layar kaca Marie adalah nomor tak dikenal. Marie mengangkat telepon itu. “Halo? Siapa?” Tanya Marie. “Kau tak perlu tau Marie.” Terdengar suara serak dari telepon itu. “Kau ingin tau mengapa Sindy dibunuh dan siapa pelakunya?” Tunggu, siapa orang ini? Mengapa dia bisa tau bahwa Marie sedang kesusahan dalam memecahkan kasus ini? “Hm… Baiklah. Kenapa Sindy dibunuh?” Tanya Marie penuh harapan bahwa kasus ini akan terpecahkan. “Tidak, tidak bisa disini. Kita harus bertemu. Temui aku di gedung tepi kota. Pukul 21:50.” Orang yang menelepon mengajak Marie untuk bertemu, walau malam ini Marie sudah mengantuk, tetapi ia menahan nya agar mendapat kunci dari semua pertanyaan ini. “baiklah, aku kesana.” Jawab Marie. Pukul 21.45, keadaan hening disana. Hanya ada Marie yang tengah mencari sinyal untuk mencoba menghubungi orang yang sempat menelepon namun tidak terangkat oleh Marie, namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang. “Marie, ayo ikut aku, kau ingin tau kunci kasus ini, bukan?” Ucap orang yang berpakaian serba hitam itu, kemudian Marie mengikuti orang yang tengah membelakanginya itu. Karena rasa penasaran, Marie mengikuti namun tetap awas diri jika terjadi sesuatu yang diluar dugaannya, Marie terus mengikuti orang itu. Marie dibawa ke sebuah ruangan yang gelap. Walaupun redup namun lampu tetap di hidupkan. “Haloo Marie, Kau tau tentang Sindy?” Anggukkan kepala dari Marie menjawab pertanyaan sosok misterius itu. “Sindy adalah anak ke-2, berumur 29 tahun dan bekerja di Perusahaan besar.” Marie menambah jawabannya. “Kau belum mendalami tentang Sindy lebih lanjut” Sambung orang itu. “Dia memiliki banyak musuh besar dari kalangan pemilik Perusahaan besar, termasuk bos di perusahaannya sendiri.” Deg…. Dia melewatkan informasi tentang Sindy, tapi kenapa bisa? Bahkan bosnya sendiri juga salah satu dari musuhnya. Betul katanya, Sindy bukan orang biasa, apa yang ada pada Sindy, kenapa bisa diincar oleh banyak orang, dan apa rencana yang dimilikinya? “Kenapa bisa begitu?” Tanya Marie yang makin penasaran. “Dia adalah, oh kita harus segera pergi! Ada yang sedang mengintai kita dari tadi, kau tidak sadar?” Orang berpakaian hitam itu menarik lengan Marie untuk keluar dari ruangan tersebut. Tiba-tiba terdengar suara buku-buku berjatuhan. Betul kata orang itu, dan Marie baru menyadari bahwa dia sedang diintai dari tadi. “Marie tunggu dulu.” Suara itu membuat bulu kuduk Marie berdiri, suara itu persis seperti suara Sindy, korban pembunuhan itu. Setibanya di luar, tiba-tiba saja orang yang menariknya menghilang, ia tinggal sendirian, sepi. Tapi tidak dengan pikiran Marie, banyak pertanyaan yang harus segera terjawab dalam kasus ini, belum ada titik terang, apa Sindy masih hidup? Atau apakah orang yang meninggal itu benar Sindy? Apa yang terjadi sebenarnya? Lalu, siapa yang sudah mengintai Marie tadi. Tapi, Marie tetap optimis kasus ini akan menemukan titik terangnya, Marie harus segera mendapatkan kunci-kunci kebenaran kasus ini segera. Keesokkan harinya, pagi yang cerah, Marie sudah berasa di sebuah Perusahaan, besar dan megah, mobil-mobil terparkir di luar gedung, banyak para pejabat yang keluar masuk dari pintu utama Gedung besar itu. Gedung itu diisi oleh orang-orang yang memiliki kesibukan masing-masing, berjalan dengan cepat seperti dikejar oleh deadline, fokus pada satu tujuan, terlihat kedisiplinan dari orang-oran tersebut, membuat fokus Marie buyar, hingga dia terpecah konsentrasinya  karena handphonenya berdering, namun sekarang bukan saatnya untuk menerima telepon, Marie berjalan mencari Alex, bos Perusahaan ini dan menanyakan banyak hal tentang Sindy. “Ingin bertemu siapa?” Tanya penjaga yang berdiri di depan pintu. “Saya ingin bertemu dengan Pak Alex.” Jawab Marie. “Apa sudah ada janji dengan Pak Alek.” Namun tiba-tiba pintu terbuka “Ada urusan apa ya?” Tanya Alex. Pakaiannya rapi, dasi hitam dan aroma mint. “Ada yang ingin saya tanyakan.” Marie mengacungkan kartu detektifnya. “Silahkan masuk.” Alex mempersilahkan masuk, Marie duduk di atas sofa. “Silahkan dinikmati.” Alex menjamu Marie dengan ramah. Ada biskuit, roti dan teh hangat di hadapan Marie. Kemudian Alex duduk di seberang sofa Marie, kini mereka sedang saling berhadapan, Alex menyilangkan posisi kakinya. “Kau tau tentang kasus Sindy?” Tanya Marie. “Ya. Kenapa?” “Saya mendapatkan sebuah informasi anonim dari seseorang bahwa anda termasuk musuh Sindy?” “Saya tidak ada bermasalah dengan Sindy, sebelum meninggal dia hanya pegawai biasa yang suka mendongkol, lalu masuk kedalam ruangan saya tanpa izin salah satunya.” Jawab Alex. “Tunggu, setelah menerobos masuk, apakah ada barang yang hilang? Atau berantakan?” Marie mencoba mencari titik terang. “hmmm… hanya ada laci saya yang terbuka.” “Boleh saya melihat laci anda?” “Em…. Silahkan.” Ucap Alex mulai gugup, hal itu membuat kecurigaan Marie semakin meningkat.” Saat Marie menuju laci, dia langsung membukanya, banyak dokumen disana. Marie mengotak-atik dokumen-dokumen itu hingga ia mendapatkan sebuah dokumen yang tak pernah ia lupakan untuk selamanya. Dokumen kematian Sindy Oktavia. Tahun 2004. Bukankah Sindy baru saja meninggal 3 hari yang lalu? Bertepatan dengan tanggal ulang tahun Marie. 27 Agustus 2017. Apa yang sebenarnya terjadi? Mulai dari suara Sindy di Gedung tepi kota, dan sekarang? Dokumen kematian Sindy yang tanggalnya berbeda, Marie tak tinggal diam. Ia akan menanyakan langsung kepada Alex. Ia berbalik badan namun….. Kosong. Ruangan itu kosong, Alex menghilang begitu saja. Hanya Marie dan sepucuk kertas yang tertinggal disamping teh hangat tadi. Segera Marie menuju sofa dan membuka kertas itu. “Kau terlalu banyak tau Marie…. Korbanku selanjutnya…” Apa ini? Korbanku selanjutnya. Apa Marie akan terbunuh juga? Pikiran ini melayang di benaknya. Tiba-tiba…….. -Bersambung-
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.