Cerita Bersambung “Aksara Lara” Chapter 2

Uncategorized

Kini Jam sudah menunjukkan pukul 12:00 malam tetapi mata dari seorang gadis yang kini tengah berbaring masih belum bisa tertutup karena masih terngiang-ngiang dengan isi sehelai kertas yang ia baca tadi, kertas itu menimbulkan pertanyaan besar di kepalanya. Kertas itu menyatakan bahwa yang selama ini ia anggap ibu bukanlah ibu kandungnya. Gadis itu bingung jika Thia bukan ibu kandungnya, lalu sekarang ibu kandungnya berada dimana. Karena telah lelah, Aca menyelimuti dirinya dengan selimut, lalu tertidur dengan rasa penasaran yang masih terus mengitari kepalanya.   Keesokan harinya sepulang sekolah, Aca tidak menuju tempat biasa dia bekerja, melainkan ia pergi menuju kantor ayahnya untuk mencari tahu siapa ibu kandungnya. Ia masuk kedalam ruangan pribadi ayahnya, ia berhasil masuk tanpa diketahui siapapun. Ia berharap menemukan hal yang bisa menunjukkan dimana keberadaan ibu kandungnya. Namun usaha itu tidak membuahkan hasil apapun, tapi, untungnya ia berhasil keluar tanpa diketahui oleh siapapun.   Sekarang Aca merasa sangat lelah, ia memutuskan untuk pulang kerumah, setibanya dirumah ia memutuskan untuk langsung mengerjakan segala tugas yang biasa ia lakukan sebelum ia diteriaki kembali oleh ibu tirinya. Setelah semua pekerjaan itu selesai, dia langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Matanya tertuju pada langit-langit kamar, sekarang ia memikirkan berbagai cara untuk menemukan ibu kandungnya, sepercik cahaya pun muncul dibenaknya.   Kini ia memandangi sekeliling ruangan tempat ia berpijak. berharap melihat sedikit petunjuk. Ia sedang di ruangan kerja Adrian Kansa Daneswara, ayahnya. Memeriksa laci meja adalah hal pertama yang dia  lakukan. Satu persatu helai kertas ia periksa, namun nihil. Saat ia beranjak ingin keluar, teriakan sudah dahulu mengagetkannya. “Aca? Kamu ngapain keruangan kerja ayah?” disertai dengan sedikit nada penegasan. Aca hanya terdiam, tak lama berselang lama, sebuah tamparan mendarat di pipi kanannya. “Ayah, Kenapa ayah sembunyikan semua ini dari aku?” Ucapnya lirih. Kini Aca dihadapan Adrian yang dibelakangnya ada Thia. “Apa maksud perkataanmu tadi?” Tanya Ardian. “Mana ibu kandung aku yah?” “Nak, ini ibu mu, kenapa kamu tega bertanya seperti itu di depan ibu?” Thia pun berkata sambil memasang wajah memelas. “Ibu bukan ibu kandung aku.” Tak lama setelah ucapan itu keluar, tamparan kembali mendarat di pipi Aca. Dia meringis kesakitan, sementara Aca melihat ibu tirinya tersenyum tanpa sepengetahuan ayahnya. Aca merasa tidak ada lagi alasan dia berada di dalam rumah ini. Ia memutuskan untuk keluar dari rumah, tanpa tau arah, berjalan menjauhi bangunan yang dulu menjadi tempat ternyamannya, sekarang dia berjalan di trotoar. Matahari kini sudah beranjak turun, karena merasa lelah, Aca memilih untuk berhenti sejenak di sebuah halte, akhirnya ia pun tertidur.   Aca terbangun, melihat wanita paruh baya berdiri dihadapannya. “Assalamu`alaikum nak, kenapa kamu tidur disini? Tidak pulang kerumah?” “Wa’alaikumussalam bu, saya ga nyaman di rumah bu, ada permasalahan yang terjadi, bu.” “Saya Yuna, guru dari Pesantren di dekat sini, bagaimana kalau kamu istirahatnya di pesantren saja dulu? Bahaya kalau disini.” Aca mengangguk dan ikut berjalan menuju pesantren. Aca memandang ke sekelilingnya, ia berada di sebuah pesantren yang bernama Al-Mustaqim. “Untuk sementara kamu boleh menginap disini, untuk menenangkan diri.” Ucap Yuna.   Sementara di rumah, Adrian dan Thia tengah berbincang mengenai masalah kemaren. Mereka berusaha mencari tahu dimana keberadaan Aca. Mereka juga memikirkan bagaimana cara mengatasi Aca nantinya.   -Bersambung-
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.