
Penulis: Dafa Hadinatta
Chapter 3
Trap, trap, trap. Suara hentakkan langkah kaki kuda, Shouta menunggangi kudanya dengan bantuan sihir Feng (Feng), sehingga perjalanannya didukung dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia melesat di antara pepohonan yang tumbuh tinggi, semak belukar yang tumbuh dimana saja, dan perumputan lebat yang bertebaran diantaranya.
Shouta memberhentikan kudanya, ia turun, berjalan mendekati bibir danau “Shui, langkah es.” kakinya melangkah, berjalan diatas es beku, mulai mendekati posisi yang jadi incarannya, yaitu titik tengah danai itu. Selagi ia berjalan, pikirannya mengingat kembali nasihat dan pesan yang sebelumnya disampaikan oleh tuan Suji tadi.
“Ketika kamu telah mencapai titik tengah danau itu, fokuskan pikiran dan hatimu, rasakan alam sekitar mu, biarkan alam menerimamu, kemudian , kamu buatlah segel kubah teratai, dengan itu kamu akan menjadi bagian dari alam, dan kamu tidak akan ada di dunia ini lagi, tetapi, kamu akan memulai hidup yang baru, entah bagaimana itu.” Shouta telah mendapati titik tengah danau itu.
“Teratai cermin, kubah Nedera (penyatuan alam).” Langit menggelap, awan-awan bergemuruh, membuat pusaran membutari langit tepat diatas Shouta yang telah merapal mantra, tubuhnya mengambang memancarkan cahaya lurus vertikal menembus langit, di bawahnya mulai muncul sebuah teratai cermin kaca raksasa.
Dari sisi lain, di bukit Zutsu, tuan Suji tengah menyaksikan kejadian tersebut. Begitu pula tuan Ceshu yang merasa heran dengan kejadian itu, ia mengerahkan beberapa pengawal pergi bersamanya untuk menelusuri fenomena ini. Sesampainya di tepian danau Tiwu, tuan Ceshu tidak percaya akan apa yang dilihat oleh matanya.
“Shouta, apa yang kamu lakukan!!” Tuan Ceshu berusaha mencegah Shouta tetapi hanya pandangan dibalas olehnya.
Shouta telah berhasil melakukannya, hanya dengan melakukan tahap akhir untuk penyempurnaannya. Sebelum kubah teratai itu menutup, Shouta menyampaikan sedikit ucapan selamat tinggal untuk semuanya. “Maafkan aku, semuanya, aku tidak pernah berniat buruk kepada kalian, tetapi aku terpaksa melakukan ini demi kebaikanku dan kebaikan buat semuanya, sekali lagi, selamat tinggal.”
Bunga teratai telah selesai mengatup, ledakan gelombang energi menghempaskan segala hal yang berada disekitarnya. Tuan Ceshu dan lainnya bersedih hati atas kehilangan seseorang diantara mereka, tidak ada pilihan lain, mereka kembali pulang menuju sekte Yuwan. Dan memberi nama danau itu.
“Danau cermin teratai.” yang bermaknakan Shouta dan sihir pelengkap.
Selesai
Leave a Reply