Cerbung “The Phantom Know By No Name” Chapter 2

Uncategorized

Penulis: Dafa Hadinatta “Shui, Katana es.” Shota menerobos jalan setapak menuju bukit Zutsu, ia menggayunkan katana es nya kian kemari, menebas setiap monster yang menghalangi jalannya. Shouta telah sampai di depan pintu goa bukit itu, Ketika Shouta mendekat menghampirinya dan ingin membuka, ia merasakan energi kuat yang menahan dirinya, sehingga Shouta tidak bisa membuka pintu tersebut dengan tangan kosong.   “Segel? Aku baru tau kalau bukit ini diberi segel.  Sebelumnya yang aku tau, sihirnya yang disegel, bukan bukitnya.” Otaknya mencoba mencerna, memikirkan dan mengakali cara lain agar bisa membukanya.   “Baiklah…. saatnya mencoba hal baru, penggabungan teknik.” Matanya melirik keadaan sekeliling. “Tudi, penyatuan energi alam, mata Tenkuma, bayangan malam, penyatuan teknik, shadow forest.” Seouta mengerahkan seluruh tenaganya, mencari titik lemah segel itu. Ia mendapatkannya, mata Tenkumanya mencoba membaca bentuk pola segel itu. Ia mendapatkannya, mata Tenkumanya mencoba membaca bentuk pola segel tersebut. “Good! Pembukaan Segel.”   Telah terbuka semua segel zutsu, Shouta terlebih dahulu mengamankan kudanya, dengan mengikatkannya kesalah satu pohon terdekat tepian goa, kemudian Shouta beranjak mendekati pintu goa yang tua telah dibuat. Shouta mendorong, lalu membuka pintu batu itu ke dalam. Debu dan jaring sarang laba-laba bertebaran dimana-mana, bisa ditebak logika akal sehat, bahwa tempat ini sudah sangat lama tidak dikunjungi oleh siapapun. Ketika kakinya melangkah masuk, hanya gelap yang menyambut kehadirannya.   “Huo, cahaya api.” Semua obor yang mati telah dihidupkan kembali. Kini api membantu matanya melihat dengan jelas.   Shouta mencoba untuk menelusuri bagian dalam dari bukit ini, memahami bentuk goa, berhati-hati dari jebakan tersembunyi yang bisa membahayakan nyawa. Ia menemukan beberapa ruangan, salah satunya diantaranya berisikan emas dan perhiasan yang telah menumpuk membentuk bukit kecil. Tapi bukan itu tujuannya, niatnya dari awal ialah mendapati sihir pelengkap.  Beberapa Menit ia menghabiskan waktu hanya untuk mencari keberadaan sihir itu, tempat ini terasa seperti labirin. “Mata Tenkuma.” Shouta mencoba melihat keberadaan energi sihir yang berada di sekitarnya. “Loh!? Kenapa ada 3 energi sihir?” Ia mencoba mengikuti arah asal energi sihir itu muncul. Tampak sebuah pintu raksasa dari campuran kristal dan perak, dilengkapi ukiran berbentuk bunga teratai di tengah-tengahnya.   “Energi sihirnya pasti berasal dari balik pintu ini.” Shouta mendorong pintu raksasa tersebut, tidak bisa. Sekuat tenaga pun ia kerahkan, hanya sedikit yang bergerak. “Banyak banget yang beginian.” Shouta mengeluh “Tudi, Cristal power.” Serpihan kristal ungu bermunculan di permukaan kulit lengan Shouta. Ia mengambil ancang-ancang, “Satu……, dua……, tiga……, dan_”   “Akhirnya terbuka pintu bebean dalan ini….” Shota menghembuskan nafas kega.   Baru saja ia melangkahkan kaki ke dalam ruangan, mata Tenkumanya reflek menangkap penglihatan aura energi sihir yang semakin kuat, tetapi ada dua energi sihir yang tak jauh dari keberadaan sihir penangkap, dengan keadaan seperti ini, ia harus lebih berhati-hati. “Tenkuma, langkah iblis.” Shouta berpindah posisi, mendekati dua energi misterius itu. Terlihat sosok lelaki tua yang tengah duduk di atas seekor kura-kura batu.   Shouta melambai-lambaikan tangannya di hadapan lelaki tua itu, tetapi tidak ada respon balik olehnya. “Sepertinya kakek ini lagi ketiduran, atau masih hidupkah?” Shouta mengabaikan lelaki tua tersebut, dan kembali fokus ke tujuan awal. “Baiklah….Fokus sama sihir pelengkapnya terlebih dahulu.” Ia melambaikan kakinya mendekati sihir tersebut sebagai sihir pelengkap itu. Berwujud menyerupai teratai cermin, terletak di tengah-tengah telaga, di tengah ruangan sakral itu.   “Shui, Langkah es.” Kakinya menginjak permukaan telaga tersebut, seketika air yang terinjak itu membeku, sehingga ia dapat berjalan mendekati teratai cermin sang sihir pelengkap. Ketika Shouta ingin mengambil teratai cermin tersebut dengan tangan kosong. “Loh!? Kok kayak nggak ada yang menahan aku buat ngambil teratai ini.” Teratai itu tiba-tiba mengambang ke udara. Shouta yang melihatnya, merasa heran kebingungan. Teratai itu melesat cepat, menembus tubuhnya dan menyatu. Tubuh Shouta mengambang, di luar kendali akal sehatnya, melainkan energi kuat sang sihir pelengkap, mengakibatkan ledakan kuat.   “Hei, Siapa disana? Kamu telah mengganggu persemedian ku.” Terdengar suara berat dari seorang lelaki tua, keberadaannya memecah keheningan, pasca ledakan sebelumnya.   Tubuh Shouta yang tadinya mengambang, telah kembali menginjak permukaan es padat. “Maafkan saya, tuan. Saya tidak bermaksud mengganggu konsentrasi anda, tuan.” Shouta membungkukkan tubuhnya, meminta maaf menyesali akibat perbuatannya.   “Hmm…., akan ku maafkan, tetapi bagaimana kamu bisa masuk kesini? Sedangkan tempat ini telah diberi segel agar tidak dapat dimasuki oleh sembarang orang. Terkecuali ia dapat membukanya dengan kemampuan energi spirit dan mental yang kuat.”   “Perkenalkan, Shouta, menguasai sihir elemen. Saya adalah salah satu murid sekte Yuwan, Tuan.” Shouta berinisiatif untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Murid sekte Yuwan? Saya tidak pernah melihat gaya berpakaian murid sekte seperti yang kamu kenakan.”   “Saya memang bukan murid asli sekte Yuwan, Tuan. Lebih tepatnya saya adalah pertukaran murid antara sekte Yuwan dengan sekte Hasaji, dan saya salah satu yang terpilih untuk menjadi perwakilan.”   “Mmm Baiklah, untuk dirimu, seorang murid luar yang nekat membuka segel bukit Zutsu tanpa kesulitan, itu luar biasa. Tetapi, kamu bukanlah murid asli sekte Yuwan, dan kamu tidak akan bisa mengambil sihir pelengkap.” Lelaki itu turun dari kura-kura batunya, menampakkan diri dihadapan Shouta. Ia membuka tutup kepalanya agar tidak kelihatan lebih jelas.   “Maaf tuan, apakah anda tuan Suji?” Sepertinya Shouta mengenali wajah itu. “Yap benar sekali, nak.” “Tetapi, bagaimana anda bisa berada disini dan kemana saja anda selama ini?” Shouta tidak menyangka akan bertemu dengan salah seorang pemimpin tertinggi, ia sedikit gugup.   “Belakang ini saya lebih memilih untuk menyendiri dan sekalian menjaga bukit Zutsu ini. sekte Yuwan, guru-guru lainnya pun masih banyak yang bisa mengurusnya.” Dengan tenang, tuan Suji menjawab begitu berwibawa, “Sihirnya!! Kemana hilang sihirnya!?” Ketegangan pecah.   “Sihirnya kini telah berada di dalam tubuhku, tuan. Sihir itu masuk tanpa sempat aku menyentuhnya sedikitpun.”   “Benarkah!?” “Yap, Benar Tuan!?” “Baiklah, artinya sihir itu juga sebuah jiwa. Tetapi bagaimana bisa kamu bukanlah keturunan leluhur sekte Yuwan?” Bahunya reflek terangkat naik, bermaksud ketidak tahuannya “Ini masalah besar, nak!”   “Apa salahnya, kan sihir ini yang memilihku, bukan aku, ya… tadinya aku ingin mengambilnya, tapi aku sedikit bimbang, eh, tau-tau masuk tanpa ketuk pintu dulu.”   “Karena yang ditakuti para leluhur ialah penyalahgunaan. Tapi kamu tidak seperti itu. Tetapi itu tidak sembarangan memilih orang, dia memilihmu, itu menandakan kamu istimewa.”   Shouta menyimak. “Aku tidak ingin hidupmu sia-sia begitu saja nak. Maka ikutlah permintaan ku ini.” “Saya akan melakukan apa saja yang tuan minta.”   “Sebelum matahari terbit, kamu harus bisa mencapai tepian danau Tiwu, kemudian kamu arungi danai itu hingga menemukan titik tengahnya, lakukan pnyaluran alam, Nedera.”   “Baik, Tuan” Shouta paham betul maksud dari perkataan itu.   “Ini demi kebaikan kamu, nak.” -Bersambung-
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.