
Penulis: Dafa Hadinatta
Sinar matahari sore yang lembut menyinari daratan pegunungan Monure, angin sepoi-sepoi dari barat beterbangan kesana-kemari, menggoyangkan dedaunan pohon yang rindang dan ladang rumput hijau nan lebat. Waktu yang menyenangkan bagi murid-murid sekte yuwan, sekte yang dibangun di atas tebing kaki gunung Monure. Di waktu sore seperti ini, para murid melakukan aktivitas pribadinya masing-masing seperti bersantai-bersantai, berolahraga, latihan, hingga bereksperimen dengan sihir yang dimiliki. Dari banyaknya murid-murid yang beraktivitas, terlihat seorang lelaki remaja yang tengah duduk diatas batu raksasa yang dinaungi pepohonan belimbing salju yang rindang. Lelaki itu memiliki rambut lebat yang dikuncir tinggi, poni yang panjang dibelah tengah, dan perak pudar menjadi warna khas rambutnya. Shuota, lelaki yang telah menguasai 4 elemen sihir utama ( angin, tanah, api, dan air). Kini ia sedang bersemedi, dengan tujuan mengumpulkan energi spiritual dan meningkatan kekuatan spiritual sekaligus mentalnya. Di tengah-tengah kesibukannya, telinga nya menangkap suara dari dua orang yang sedang berbicara.
“ Hei Daozi, kamu tau nggak tentang sihir pelengkap?”
“ Nggak, emang kenapa?”
“ Konon katanya sihir pelengkap adalah sihir yang berwujud menyerupai teratai cermin. Jika seseorang mendapatkannya, maka sihir yang sebelumnya dimiliki akan diperkuat oleh sihir teratai cermin itu.”
“ Benarkah? bagaimana cara mendapatkannya?”
“ Sihir itu kini disege dan disimpan di dalam bukit Zutsu, dikatakan bahwa orang-orang dengan tingkat spiritual dan kekuatan mental level A atau S yang bisa melewatinya. Selama ini belum ada satupun orang yang bisa menaklukan segel tersebut.”
“ Mmm.. jadi begitu ya, pasti sulit..”
Shuota tersentak dari persemediannya, lalu bergumam “ Kesempatan emas, ini adalah peluang ku untuk melengkapi kekuatan sihirku.” Dia turun dari batu raksasa itu, mendaratkan sepasang kakinya di atas tanah padat yang diselimuti rerumputan hijau. Matahari perlahan mulai tenggelam, menyemburatkan cahaya kemerahan di campur dengan jingga. Shuota bergegas menuju ruang kepala pemuka sekte yuwan.
“ Permisi tuan-tuan, apakah tuan Hakagi ada di ruangannya?” Shuota bertanya kepada pengawal penjaga pintu ruangan itu.
“Tuang Hakagi sedang sibuk, untuk saat ini beliau tidak bisa diganggu.” Salah seorang penjaga itu menggertak dan berbicara kasar terhadap Shouta dengan suara meninggi.
“Biarkan dia masuk!” Terdengar suara berat yang khas memerintah dari balik pintu.
“Baik tuan.”
Dua pengawal itu membukakan pintu untuk Shouta masuk, tampak sebuah ruangan yang dilapisi cat berwarna merah merona, memberikan kesan mewah di setiap sudutnya, tetapi tetap sederhana. Seorang lelaki paruh baya yang memiliki jenggot dan jambang hitam, mulai memutih, begitupun rambutnya yang panjang, terurai bebas sebahu, Kini tengah duduk di kursinya, dengan memegangi pulpen dan menulis di atas secarik kertas. Beliau adalah Tuan Hakagi.
“Silahkan duduk Shouta.” Tuan Hakagi mempersilahkan Shouta untuk duduk di atas sofa yang telah disediakan.
“Jadi, ada keperluan apa kamu kesini?”
“Saya mau meminta izin kepada tuang untuk diperbolehkan ke bukit Zutsu, saya ingin menguasai sihir pelengkap.”
“Apa yang kau pikirkan nak!? Kamu bukanlah darah asli keturunan sekte. Aku tidak melarangmu, jikalau kamu keturunan asli, tapi nyatanya tidak. Jangan kamu coba-coba untuk mengambil sihir itu, hukumannya fatal. Aku peringatkan sekali lagi, jangan coba-coba!”
“Tetapi tuan__”
“Maaf nak, ini peraturan yang telah diterapkan semenjak dahulu, jangan coba-coba, nak!”
Shouta menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.” Baiklah, Tuan Hakagi. Kalau begitu saya pamit. Terimakasih atas waktunya, tuan.” Shouta berdiri dan pergi meninggalkan ruangan. Tuan Hakagi hanya melihat Shouta dari posisi duduknya.
Jika tidak bisa meminta dengan cara baik-baik, maka akan ku ambil sendiri, tanpa melibatkan orang lain.
Tidak ada waktu yang paling tenang selain waktu malam, semua orang terlelap dengan nyaman menikmati dunia mimpi mereka masing-masing, dan pada malam hari lah waktu yang pas bagi kita seorang Shouta untuk menjalankan rencananya yang telah disusun sebelumnya.
setelah kembali dari ruangan kepala sekte dengan suasana hati yang buruk, Shouta segera memikirkan rencana untuk dirinya bisa mendatangi bukit Zutsu tanpa hancur diketahui oleh pemuka-pemuka sekte. Tersentak dalam benaknya untuk bergerak di malam hari, karena di waktu malam segala sesuatu terlihat lebih buram daripada penglihatan di waktu siang. Beruntungnya Shouta telah menguasai teknik mata Tsuiyo (Mata Bulan Matahari). Dengan teknik mata Tsuiyo keadaan segelap apapun, dapat dilihat oleh mata Shouta.
“Baiklah, saatnya untuk memulai rencana.” Shouta telah siap dengan segala rancangannya untuk berangkat menuju bukit Zutsu. Jubah hitam sebagai atasan pakaiannya, sehingga orang-orang tidak akan mudah mengenalinya.
Shouta terlebih dahulu mendatangi kandang ternak untuk mengambil seekor kuda sebagai tunggangan dalam perjalanan. Ia menaiki kuda tersebut, kemudian. “Mata Tenkuma, penyamaran wujud, tuan Hakagi.” Lengan kanannya menarik sebahagian kain jubahnya kedepan, kemudian ia mengibaskannya ke belakang. Kini penampilan Shouta terlihat persis menyerupai tuan Hakagi yang asli. Shouta mendekat ke gerbang perbatasan kota.
“Hei! Siapa disana!?” Teriak seseorang penjaga gerbang dari atas menara.
Shouta membuka tutup kepalanya. “Ini aku.” Ucapnya dengan menirukan gaya tuan Hakagi. “Maafkan atas kelancangan kami, tuan.” Si penjaga menyesali perbuatannya.
“Tidak apa-apa.”
“Silahkan, Tuan. Berhati-hatilah! Tetap waspada, dan jangan lengah. Siapapun bisa mengecoh mata.” Shouta memberikan sedikit nasehat, seakan-akan Hakagi adalah dirinya, kemudian ia memacu kudanya dengan cepat, lama-kelamaan dirinya menghilang dari pandang si penjaga gerbang.
Malam yang gelap terasa terang karena adanya kristal obor yang menerangi di setiap sisi kota. Walaupun sekarang sudah malam, sebagian penduduk kota masih ada yang beraktivitas dengan kesibukannya tersendiri. Shouta terlebih dahulu melewati jalanan kota sebelum memasuki hutan yang menghubungkan ke bukit Zutsu. Melewati berbagai macam bangunan-bangunan kota, dari yang kecil, besar, pendek, tinggi, sederhana hingga mewah. Shouta menunggangi kudanya melewati semudah itu, sehingga matanya menangkap sebuah pemandangan.
“Maling! Maling! Maling! Tolong ada maling.” Teriak seorang nenek meminta bantuan kepada siapapun.
Shouta menepi, turun dari tunggangannya, dan kuda diikatkan ke sebuah tiang pagar berbahan baku kayu. “Mata Tenkuma, langkah iblis.” Dengan sekejap mata sebuah kabut abu-abu pekat kehitaman mendahului langkah kaki si pencuri, terlihat sosok Shouta yang berdiri dan menunggu dari balik kabut itu. “Akar tanah melilit.” Kakinya menghantam tanah, akar-akar kayu merambat menjalar dari bawah tanah, mengejar si pencuri, kemudian dan mengunci tubuhnya.
“Tatapan ilusi angin.” Mata violet Shouta menatap tajam mata si maling. “Setelah jentikan jari jempolku ini, berikan curian yang kamu curi kepada ibu itu kembali, dan serahkanlah dirimu kepada petugas keamanan desa. Seketika si pencuri otomatis bergerak setelah jentikan jempolnya Shouta “Terimakasih ya, nak. Kamu mau kemana malam-malam begini?”
“Aku mau ke bukit Zutsu, nek.”
“Ngapain kamu ke bukit Zutsu?”
“Ada sesuatu yang ingin aku ambil disana, nek.”
“Baiklah, berhati-hatilah. orang-orang banyak yang bilang, kalau di sekitar bukit itu banyak monster-monster yang bersarang.
“Baik, nek. Terimakasih, nek. Aku akan berhati-hati.” Shouta mengambil kembali kuda tunggangannya dan melanjutkan perjalanan.”
-Bersambung-
Leave a Reply