Cerbung “Teach A Lesson” Adaptasi Film Edukasi

Uncategorized

Capther 1 Hujan turun perlahan membasahi halaman Sekolah Menengah Haneul. Gedung-gedung megah yang menjulang tinggi menjadi simbol kebanggaan kota. Di mata masyarakat, sekolah itu adalah tempat lahirnya para pemimpin masa depan. Prestasi akademiknya selalu berada di peringkat teratas, sementara para siswanya berasal dari keluarga terpandang. Namun, kemegahan itu hanyalah wajah yang diperlihatkan kepada dunia. Di balik koridor-koridor yang bersih dan ruang kelas yang modern, ketakutan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada aturan yang tidak pernah tertulis, tetapi dipahami oleh semua murid, jangan pernah menentang Jung Heong. Jung Heong bukan sekadar siswa biasa. Ayahnya adalah seorang tokoh politik yang sedang berada di puncak popularitas menjelang pemilu. Selain memiliki pengaruh besar di pemerintahan, keluarganya juga menjadi donatur utama sekolah. Tak seorang guru pun berani menyentuhnya, sementara pihak sekolah memilih diam setiap kali namanya terseret dalam masalah. Keadaan itu membuat Jung Heong merasa dirinya berada di atas hukum. Bersama kelompoknya, ia menjadikan murid-murid yang lemah sebagai sasaran. Bukan karena mereka bersalah, melainkan karena mereka dianggap tidak memiliki siapa pun yang akan membela. Korban yang menjadi sasaran adalah Park Dae Seok. Anak itu pendiam, rajin belajar, dan hampir tidak pernah membalas perlakuan siapa pun. Setiap hari ia datang ke sekolah dengan harapan dapat belajar dengan tenang, tetapi setiap hari pula harapan itu dirampas. Tasnya pernah dibuang ke tempat sampah. Bukunya pernah dirusak. Seragamnya berkali-kali dikotori. Di hadapan puluhan murid, harga dirinya dilucuti sedikit demi sedikit. Yang paling menyakitkan bukanlah perlakuan itu, melainkan kenyataan bahwa tidak ada seorang pun yang berani menghentikannya. Guru-guru melihat. Murid-murid melihat. Semuanya memilih diam. Suatu pagi, suasana sekolah berubah drastis. Mobil polisi memasuki halaman sekolah. Park Dae Seok telah meninggal dunia. Terjun bunuh diri dari gedung sekolah. Pihak sekolah menyatakan bahwa kematian tersebut diduga berkaitan dengan tekanan pribadi. Tidak ada penyelidikan mendalam mengenai dugaan perundungan yang selama ini dialaminya. Kasus itu perlahan menghilang dari pemberitaan. Sekolah kembali berjalan seperti biasa. Namun, bagi sebagian orang, keadilan belum benar-benar mati. Beberapa hari setelahnya, seorang murid bernama Jang Seong Gu. Tubuhnya kurus. Wajahnya selalu menunduk. Ia tampak seperti anak yang tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Sayangnya, justru itulah yang membuat Kim Gang Su, temang Jung Heong tertarik. “Hei.” Suara itu menggema di depan kelas saat jam istirahat. Gang Su berdiri di hadapan Seong Gu dengan senyum mengejek. Beberapa anggota geng Jung Heong mulai mengelilingi mereka. “Dia jongos selanjutnya?” Seong Gu hanya mengangguk pelan. “Mari kita mulai.” Gang Su mendorong bahunya hingga hampir terjatuh. Lalu menendang perutnya hingga Seong Gu terpental mengenai jendela, Murid-murid lain memilih memalingkan wajah. Sebagian mengeluarkan ponsel untuk merekam, bukan untuk membantu. “Ayo coba balas.” Gang Su meminta Seong Gu untuk membalas tamparannya, tampak bibir dan hidung Seong Gu berdarah. Jangankan membalas, bahkan Seong Gu ketakutan, karena dia tidak akan mampu membalas, dia bukan murid yang kuat melawan kekerasan dengan kekerasan. Ketika suasana semakin memanas, terdengar suara langkah kaki yang mantap memasuki koridor. Sebuah tangan melayang ke kepala Gang Su, membuat dia terpental “Jangan ada yang membuat keributan di sekolah ini.” Suara itu dalam dan tenang, tetapi mampu menghentikan seluruh keributan. Seorang pria berjas hitam berdiri di tengah kerumunan. Tatapannya tajam. Wajahnya dingin. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam sorot matanya. “Siapa kau?” tanya Gang Su dengan nada menantang. Pria itu mengeluarkan sebuah kartu identitas. Di sana tertera lambang resmi dengan tulisan, BIRO PERLINDUNGAN HAK PENDIDIKAN (BPHP). “Namaku Na Hwa Jin.” Ia menyimpan kembali kartu itu. Seluruh koridor mendadak sunyi. Gang Su justru tersenyum sinis. “Bagus. Semua orang merekam kejadian ini. Kalau videonya tersebar, kariermu selesai.” Na Hwa Jin menoleh ke arah para murid yang memegang ponsel. “Silakan lanjutkan.” Mereka saling berpandangan. “Rekam semuanya.” Ia berbicara dengan suara yang lebih keras. “Biarkan semua orang melihat alasan mengapa aku berada di sini.” Na Hwa Jin menatap seluruh guru yang berkumpul. “Jika sekolah mampu melindungi murid-muridnya, aku tidak perlu datang.” Ia berhenti sejenak. “Tetapi ketika guru mulai takut kepada murid…” Tatapannya menyapu seluruh ruangan. “…maka dunia pendidikan sedang menuju kehancurannya.” Kalimat itu menggema di lorong sekolah. Untuk pertama kalinya, wajah Jung Heong yang sejak tadi mengamati dari kejauhan berubah serius. Ia mulai menyadari bahwa orang yang berdiri di hadapannya bukanlah guru biasa. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang sama sekali tidak takut kepada nama besar keluarganya. Guru-guru terkejut melihat Gang Su dalam keadaan babak belur, Na Hwa Jin sangat jago bela diri. Khawatir orang tua Gang Su akan protes dengan kondisi anaknya. Bel berbunyi nyaring, menandai dimulainya jam pelajaran pertama. Suara langkah kaki para murid memenuhi koridor sebelum akhirnya menghilang satu per satu ke dalam kelas masing-masing. Di kelas XI-3, suasana jauh berbeda. Ruangan itu dipenuhi bisikan pelan. Tidak ada seorang pun yang benar-benar memperhatikan buku pelajaran. Semua mata sesekali melirik ke arah pintu kelas, menunggu kedatangan sosok yang sejak pagi menjadi bahan pembicaraan di seluruh sekolah. Pintu kelas terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dengan tenang. Jas hitam yang dikenakannya tampak rapi.Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti pada wajah-wajah murid yang sedang mengamatinya. Mengambil absensi. Hanya keheningan yang perlahan membuat suasana kelas terasa menyesakkan. Na Hwa Jin berdiri di depan papan tulis. Dengan kapur putih, ia menuliskan namanya dengan huruf besar. NA HWA JIN. Ia meletakkan kapur itu kembali, lalu membalikkan badan. “Aku akan menjadi wali kelas kalian mulai hari ini.” Ucapan itu sederhana, tetapi cukup membuat seluruh kelas membeku. Di bangku paling belakang, Jung Heong menyandarkan tubuhnya dengan santai. Kedua tangannya bersilang di dada, sementara senyum tipis terlukis di wajahnya. “Jadi benar,” gumamnya pelan. “Orang BPHP itu ditempatkan di kelas kita.” Beberapa anggota gengnya saling berpandangan. Raut wajah mereka tidak lagi setenang kemarin. Na Hwa Jin tidak menghiraukan bisikan-bisikan itu. “Semua murid,” ucapnya datar. “Berlutut di samping meja masing-masing.” Kelas seketika sunyi. Sebagian murid saling memandang, seolah memastikan mereka tidak salah dengar. Namun melihat tatapan Na Hwa Jin yang tak berubah sedikit pun, satu per satu mereka menuruti perintah itu. Kursi bergeser pelan. Lutut-lutut mulai menyentuh lantai. Namun ada yang tetap duduk. Jung Heong dan temannya, Ia bahkan menyandarkan punggungnya lebih santai, seolah perintah itu sama sekali tidak ditujukan kepadanya. “Jangan dengarkan dia,” katanya kepada teman-temannya. “Kembali duduk.” Beberapa anggota gengnya yang sempat berlutut langsung berdiri lagi dan kembali ke kursi masing-masing. Mereka percaya, selama Jung Heong berdiri di depan mereka, tidak akan ada guru yang berani bertindak. Salah seorang temannya menyeringai. “Pak, ayah Jung Heong itu penyumbang terbesar sekolah ini.” Ucap Gang Su. “Kalau Bapak macam-macam, tinggal satu telepon saja. Besok Bapak sudah tidak mengajar lagi.” Ucapan itu disambut tawa kecil dari beberapa murid. Namun Na Hwa Jin tetap berdiri tanpa mengubah ekspresi. Ia berjalan perlahan menuju bangku paling belakang. Setiap langkahnya terdengar jelas dalam keheningan kelas. Hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan meja Jung Heong. Mereka saling menatap. Jung Heong tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. Sorot matanya dipenuhi kesombongan yang selama ini lahir dari keyakinan bahwa kekuasaan keluarganya mampu menyelesaikan segalanya. “Kalau bapak tidak mengikuti kemauanku,” ucap Jung Heong pelan namun penuh ancaman, “aku pastikan  bapak tidak akan mengajar di sekolah ini lagi.” Mereka menunggu bagaimana guru baru itu akan bereaksi. Namun Na Hwa Jin justru tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. “Jung Heong.” Ia menyebut nama murid itu dengan tenang. “Tahukah kau dari mana rasa takut berasal?” Jung Heong mengangkat sebelah alis. Na Hwa Jin melanjutkan, “Rasa takut berasal dari pengalaman.” Kalimat itu terdengar sederhana. Secara cepat Na Hwa Jin meletakkan kelapa Jung Heong  ke meja, dia meronta-ronta dan merasa ketakutan, lalu mengikuti gerakan yang sama dengan temannya yang lain, bersujud di lantai, temannya yang lain juga ikut, karena ketua geng nya sudah tunduk oleh Na Hwa Jin. Bel makan siang berbunyi. Murid-murid mengantri dengan tertib sambil membawa baki makanan mereka. Jung Heong datang bersama kelompoknya, menerobos antrean. Dengan santai ia mengambil beberapa potong sosis langsung dari wadah penyajian, menggunakan tangan kosong, membuat petugas kantin menatapnya dengan kesal namun tidak berani menegur. Na Hwa Jin ada di ujung meja saji. Menegur Jung Heong.  Sebagai bentuk pembangkangan, ia melemparkan makanannya ke tempat sampah. Suasana kantin mendadak riuh, Na Hwa Jin menendang tong sampah hingga makanan yang dibuang tadi berhamburan dan mengenai wajah Jung Heong, lalu ia menyerahkan alat pel kepada Jung Heong. Untuk pertama kalinya, seluruh murid melihat seseorang berani meminta pertanggungjawaban kepada anak paling berkuasa di sekolah itu. Saat memegang pel tersebut, ingatan Jung Heong kembali terusik. Ia teringat bagaimana dahulu ia pernah memaksa Park Dae Seok memakai lat pel di kepalanya. Kini, dia merasakan apa yang dirasakan oleh Dae Seok. Ia terdiam beberapa saat. Namun kesombongannya belum sepenuhnya runtuh. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia meletakkan pel itu begitu saja dan berjalan meninggalkan kantin bersama kelompoknya. Saat bel pulang berbunyi, hari dimana jadwal piketnya Jung Heong, dan murid yang lainnya mulai membersihkan kelas, namun Jung Heong justru memilih pulang.     -Bersambung-    
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.