
Capther 2
Adanya Demo didepan gedung BPHP karena viralnya kasus Jung Heong, Choi Gang Shok keluar dari ruang kerjanya diserbu dengan banyak pertanyaan, salah satunya, bahwa kehadiran BPHP merupakan tanda kembalinya keawal aturang 1900an yang mengabaikan hak asasi manusia. lalu Choi Gang Shok menjawab “Hari ini sistem pendidikan Korea Selatan telah gagal, anak-anak lebih mengandalkan tempat bimbel daripada sekolah, mereka lebih menganggap guru bimbel daripada wali kelas mereka, sekolah hanya dimanfaatkan untuk mendapat nilai, kegiatan sosial, dan hal lainnya demi masuk perguruan tinggi, kini sekolah yang kita sakralkan telah muncul praktik, perjudian, narkoba, prostitusi, hingga geng kriminal, kan? Para murid tidak lagi menghormati gurunya lagi, para guru takut kepada murid-murid mereka, pembelajaran yang layak menjadi sulit terlaksana jika otoritas guru hancur. Mungkin tidak akan sulit bagi yang mampu masuk bimbel atau les privat tanpa pelajaran sekolah, namun ada yang bergantung pada pelajaran di sekolah, bukankah sistem pendidikan dibangun agar mereka bisa belajar dengan tenang? Maka dari itu BPHP menerapkan hukum fisik, bahkan bentuk hukuman paling berat demi memastikan hak tersebut terlindungi.”
Dengan tatapan yang tajam Choi Gang Shok menekankan “siapapun yang mengganggu hak belajar. Kuperingatkan, jangan mengganggu kesakralan pendidikan, karena BPHP tidak akan tinggal diam.”
Di Sekolah lainnya,tampak seorang laki-laki berkacamata memasuki sebuah pekarangan sekolah, namun dia terjatuh karena terserempet oleh geng yang menggunakan motor, namun hal itu tidak dipusingkannya, kemudian dia masuk kedsalam sekolah dan melihat betapa kacaunya sebuah kelas praktek otomotif. Kemudian dia bertemu dengan seorang murid yang di pipinya tampak lebam, namun karena tidak ingin disakiti, murid pindahan berkacamata itu mengeluarkan uang, kemudian dia masuk ke dalam kelas, bersama gurunya, namun didalam kelas ada geng yang menyerempet dia tadi, sedang merokok, kakinya berada di atas meja, lalu gurunya meminta mengeluarkan buku, namun tidak ada diantara mereka yang membawa, murid pindahan itu bahkan dilarang mengeluarkan buku, sehingga ketua geng tersebut meminta agar gurunya menyalin semua pelajaran untuk semua muridnya, namun gurunya menjawab dengan keberatan dan itu membutuhkan waktu yang lama.
Mendengar hal itu ketua geng tersebut menendang meja hingga membuat semua terkejut, guru itu hanya menurut lalu keluar dari kelas,mereka tidak belajar. Justru bertengkar dengan kelas sebelah, murid murid merusak fasilitas sekolah, kendaraan guru, murid lainnya, jendela sekolah, pintu, rusak karena pertengkaran dua kelas itu. Jika di Indonesia, mirip seperti Sekolah Teknik Menengah (STM). Hari ini Na Hwa Jin sudah didalam ruangan kepala sekolah.
“Kemana tim BPHP yang lainnya? Apakah aku harus membuat jadwal pertemuan lagi?”
“Tidak perlu, aku sendiri saja.”
Mendengar itu, Kepala Sekolah terkejut “Guru olahraga yang atlet judo saja tidak sanggup menyelesaikan kenakalan mereka. Ini bukan hanya pendisiplinan, ini juga tentang perang.” Ucap Kepala Sekolah, jendela ruangannya tampak berantakan karena di cat pilox warna warni oleh muridnya.
Ketua geng yang mengajak kelas sebelah bertengkar, tampak babak belur karena menelan kekalahan, dia menyusun anggota kelasnya lalu memberikan tonjokan di masing-masing perut, ada dua yang menarik perhatian, murid pindahan dan murid yang cupu didalam kelas.
“Kau tau? Kita kalah? Kau lari dari pertarungan tadi! Ngapain kau ke sekolah.” Tanya Ketua Geng.
“Aku mau belajar otomotif dan mendapatkan pekerjaan.”
“Aku juga mau bekerja.” Lalu ketua geng itu mengambil tas murid cupu, mengeluarkan semua isinya, dan menyirami buku yang tampak penanda alias sudah dibaca untuk belajar dengan minuman berwarna, buku itu basah dan kotor. Tidak habis kesalahannya, dia menarik murid pindahan yang tampak juga cupu, mereka dibuat bertarung, namun dari mereka hanya berpura-pura memukul agar tidak dipukull oleh ketua geng, namun hal itu membuat murid pindahan menjadi terkejut, ketika murid cupu menjadi samsak pengukur kekuatan tinju dari teman-temannya, ketika pulang murid cupu itu menata langkahnya yang berat sambil menahan perutnya, melihat hal itu, murid pindahan mengantarkannya pulang dan murid cupu menawarkan mampir untuk makan bersama. Murid pindahan mengetahui bahwa murid cupu ingin kuliah, namun sekolah yang dia ambil ini adalah kesalahan, namun sudah terlanjur, dia hanya mengikuti alurnya hingga tamat.
“Ada temanmu?” Ibunya datang, baru saja pulang dari kerja.
Keesokkan harinya, Murid Cupu datang dan melihat temannya sedang adu jotos, ketua geng memang membuat onar saja, namun dia terkejut ketika ada seorang lelaki paruh baya berdiri di sampingnya dan berbicara, Na Hwa Jin meminta murid cupu datang mendekati geng itu, tampak murid pindahan dengan kacamatanya babak belur oleh teman kelasnya, dia memakai kacamata yang memiliki fitur cctv, kemudian mengirim semua kejadian ke grup whatsapp, murid pindahan itu adalah anggota BPHP yang menyamar.
Ketika makan siang di kantin, murid pindahan memancing kekacauan agar seluruh murid SMA itu datang ke aula yang telah disediakan meja dan kursi, disana dengan jas yang rapi Na Hwa Jin meminta mereka untuk belajar, namun mereka dengan sombong justru berebut mencoba menghabisi Na Hwa Jin, dua kelas itu begitu kacau dan tidak mau mendengarkan pesan sedikitpun. Aula dikunci, jika mau keluar maka harus menang dari Na Hwa Jin, hal itu tentu membuat segala murid menjadi berambisi menyerangnya, namun beban yang dilawan Na Hwa Jin seringan ujung kaki. Murid cupu terpukau dan memilih menepi, murid pindahan bersembunyi dari balik meja guru.
Kelas dimulai. Seluruh yang babak belur mengeluh karena mereka akan belajar dari jam 7 pagi hingga malam hari.
“Pak! Kenapa seharian belajar?”
“Untuk mengejar ketertinggalan kalian, kalian tidak ada belajar selama ini, ku pastikan kalian menghabiskan setiap detiknya dengan belajar, aku pastikan kalian menyelesaikan semua pelajaran agar bisa lulus sekolah ini.”
“Catat semua yang ada di papan tulis, ada waktunya, jika kalian tidak menyelesaikannya maka akan ada hukumannya.”
“Kami tidak bawa pena, pak.”
“Kalian punya darah?”
Mendengarkan hal itu, ketua geng kelas sebelah berteriak sekencang mungkin hingga terdengar ke ruang Kepala Sekolah, kelingkingnya dibuat luka, namun telah diberikan perban, melihat hal itu murid-murid ketakutan.
“Siapa yang masih belum punya pena?” Tanya Na Hwa Jin. Seketika seluruh pena keluar dari tas mereka, perjalanan berjalan, murid cupu yang memiliki buku mencatatkan materi di papan tulis, karena hati yang masih belum ikhlas, murid-murid banyak yang menulis dengan pelan. Papan tulis dihapus ketika menit ke 10.
“Yang tidak selesai, maju.” Bogeman mentah di ketiak mereka terasa sangat menyakitkan, oleh karena itu, mereka semua mencatat sebelum waktunya habis. Kelas menjadi tenang. Namun berselang beberapa waktu ketua geng kelas pertama berteriak dan kesal.
“MUAK!!!! KENAPA HARUS BELAJAR? BAGI YANG MAU BELAJAR SILAHKAN BELAJAR. AKU TIDAK PERLU BELAJAR, JANGAN PAKSA AKU, BELAJAR TIDAK ADA GUNANYA DALAM HIDUPKU.”
Keesokan harinya mereka belajar di ruang praktek, disana ada mobil dengan rem yang rusak, hanya ada rem tangan, lalu Na Hwa Jin menyuruh ketua geng dari kedua kelas itu memperbaiki.
“Untuk memperbaiki rem mobil, kalian butuh belajar, ini contoh belajar untuk mengendarai mobil. Ayo perbaiki.”
“Kami tidak tahu caranya pak!” Jawabnya serentak.
“Kalau begitu, masuk kedalam mobil.” Secara paksa Na Hwa Jin memasukkan kedua orang itu ke dalam mobil yang tidak memiliki pintu di bagian bangku belakang, dan rem yang blong. Hal itu membuat kedua ketua geng itu ketakutan. Mobil tancap gas, melaju dengan kecepatan tinggi, meliuk liuk ke berbagai arah, Na Hwa jin unjuk keahliannya dalam menyetir, hal ini membuat kedua murid itu berteriak, mencoba memakai sabuk pengaman namun tidak berfungsi, badannya terhempas kiri dan kanan di dalam mobil. Membuat mereka takut setengah mati, ketika mobil melaju dengan cepat, namun di depan ada sebuah gedung sekolah, ketakutan akan menabrak gedung dan murid yang berada di dalamnya, dari balik kelas, mereka melihat mobil datang dengan kecepatan tinggi hendak menabrak sekolah, menabrak diri mereka, semua berteriak histeris, tidak ada kata menghindar.
Mata mereka tak berani melihat kenyataan, matilah kita semua hari ini. Namun Na Hwa Jin dengan keahlian menggunakan rem tangan, dia mampu berhenti dengan sempurna di depan kelas, di depan murid otomotif lainnya. Semua berdecak kagum. Sementara dua orang didalam tadi terasa nyawanya telah kembali, karena sejak mobil ini melaju, mereka merasa akan kehilangan nyawanya di masa sekolah.
“Bukankah kalian yang memutuskan butuh belajar atau tidak, semua pelajaran di dunia berguna.” Ucap Na Hwa Jin, lalu semua murid otomotif tersenyum dan bertepuk tangan, kali ini mereka semua mengetahui bagaimana pentingnya belajar.
Disisi lain, ada sebuah Badan Intelijen Negara mengidentifikasi Na Hwa Jin, yang sedang berusaha membubarkan BPHP, salah satu celah yang mereka dapatkan adalah masa lalu Na Hwa Jin yang merupakan Anggota pasukan, bahwa seorang kapten.
“Na Hwa Jin tidak ada data yang mengizinkan dia sebagai anggota BPHP, bahkan dalam biodatanya tertulis ‘Pekerjaan Rahasia’ tentu ini melanggar aturan BIN. Karena dia menonjol dan diketahui oleh masyarakat luas sebagai anggota BPHP.”
“Ini harus dipertanyakan kepada Pimpinan BPHP.”
Pada hari selanjutnya, murid cupu menjadi murid yang ditugaskan dalam menerangkan pelajaran, mulai dari membacakan buku, menuliskannya di papan tulis, dia tersenyum dan belajar dengan gigih untuk bisa seperti itu, hal ini justru menjadi kebencian untuk kedua ketua geng, mereka mengancam dan menbuat murid cupu kembali ketakutan, lalu Na Hwa Jin datang dan menyampaikan pesan.
“Dia tidak salah, dia memahami, dan menerangkan kepada kalian agar lebih mudah dipahami.”
“Tidak masalah pak, mungkin bahasa saya tadi terlalu mengajarkan mereka.” Jawab murid cupu itu, mendengarkan hal itu Na Hwa Jin kebingungan. Dari kejauhan Murid pindahan melihat dengan seksama, dia teringat, ketika di rumah murid cupu.
“Kalau mereka berhenti sekolah, kesempatan belajar akan hilang, aku berharap suatu hari aku bisa belajar dengan tenang, dan mereka juga mendapat nilai yang baik, kalau mereka berhenti, mereka akan rugi besar.” Itulah kata-kata yang begitu berharga, teman yang begitu baik, meski dia masih terus dicurangi, disalahpahami, bahkan masih diserang.
“Setiap menitnya begitu berharga, jangan kalian ganggu dia.” Pesan Na Hwa Jin, agar murid cupu tidak diganggu lagi, lalu mereka dikurung di dalam toilet, disaat yang bersamaan murid pindahan ikut terkurung karena tidak menyadari sudah berada di dalam toilet, ketika membuka pintu, dia dikejutkan dengan ketua geng itu menggeledahnya, apakah dia membawa rokok, disaat seperti itu, mereka masih sempat memalak temannya. Ketika menggeledah, dia justru menemukan pisau multifungsi, didalamnya juga dan obeng, lalu mereka membuka jendela, dan mereka keluar dari kurungan, mereka berdua mengajak murid pindahan ke bar miras dan judi, disana ada seseorang menggunakan jas yang rapi, tengah meneguk miras, hal itu sudah menjadi hal biasa di lingkungan sana.
“Bos” Mereka memanggilnya bos, anak pindahan ikut menunduk kepada bos mereka.
“Ada apa kalian kesini? Dia siapa?” Tanya bos tersebut.
“Dia anggota kelas kami, murid pindahan, jadi kami kesini minta tolong, ada Na Hwa Jin, anggota BPHP di SMK Gun, tolong bantu kami, kami tidak mau belajar, tapi dia begitu kuat dan lihat badan kami babak belur, kalau melawan. aku sudah muak.” Ucapan itu membuat bos tertantang.
Pada pelajaran malam, Na Hwa Jin menyadari bahwa ada 3 muridnya tidak ada di dalam aula, tidak ada yang mengetahui kemana mereka pergi, bahkan dia terkejut ketika murid pindahan ikut bolos. Sementara di toilet, Na Hwa Jin menyadari bahwa jendela sudah dibuka, mereka melarikan diri.
Namun tak selang berapa waktu, Na Hwa Jin mendengar 3 suara yang dia cari-cari. Dengan angkuh kedua ketua geng itu mendongak angkuh dan mengatakan tidak ingin belajar, lalu datang sebuah motor memasuki aula, bos mereka di tantang oleh Na Hwa Jin. Kalau ingin menyelamatkan mereka maka lawan Na Hwa Jin terlebih dahulu.
Pertarungan terjadi, Na Hwa Jin begitu mudah mengalahkan boss mereka.
“Kau kira kau bisa menyelamatkan anak-anak ini dengan kepandaianmu?”
“Bos! Kami tidak mau belajar!” Ucap ketua geng
“Sekali lagi, aku tanya, kau kira bisa menyelamatkan anak-anak ini dengan kepandaianmu?”
“Bisa, aku akan panggil petarung lain, yang jauh lebih kuat, mereka akan datang dan bergerombol membuat kau babak belur.” Jawab bos dengan angkuh, mendengarkan hal itu, Na Hwa Jin mengangguk.
Malam semakin larut, pukul 22:00, mereka datang, masih berdiri di gerbang sekolah. Menggunakan pisau, pentungan, celurit, dan lainnya. Mafia yang sebenarnya telah datang ke lokasi sekolah.
“Kalian sudah tua atau masih ada yang sekolah?” Tanya Na Hwa Jin kepada mereka yang berada di balik pagar.
“Tidak ada pelajar disini.”
“Baguslah, disini sekolah, jadi kalau ada selain murid yang masuk maka akan berhadapan denganku. Berani kalian melompati pagar, itu tandanya kalian mengganggu sakralnya sekolah, kalian akan berhadapan denganku.” Ancam Na Hwa Jin.
“Kalian menjauh.” Ucap Na Hwa Jin kepada seluruh murid mereka, juga kepada bos mereka yang tepat di tengah-tengah mereka, terduduk lemas di kursi roda.
“SERANG!!!” Teriak ketua Mafia. Secara bersamaan mereka melompati pagar dan menyerang Na Hwa Jin dengan cepat, pisau, pentungan, berupaya mencapai tubuh Na Hwa Jin, namun hal itu masih hal biasa, Na Hwa Jin membuat mereka patah kaki, terlepanting mengenai pagar, melayang menjatuhi mobil.
Sementara di rumah-rumah warga korea selatan, berit tengah diputar, salah satu media berita menghadirkan Ketua BIN dan Pimpinan BPHP. Ditengah mereka ada host yang memandu acara.
“Riwayat karier Na Hwa Jin sangat luar biasa, dia mantan Kapten pasukan khusus. Mau kembali ke masa diktator militer? Murid dikendalikan oleh orang-orang sekelas tentara? Itu tidak bisa diterima, kami akan berupaya membubarkan BPHP menggunakan partai-partai yang ada di Korea.” Ucap ketua BIN
“Sebenarnya apa masalahnya? Karena pengawasnya mantan tentara? Tingkat kekerasan yang dilakukan murid bukan level murid biasa lagi. Ada anggota geng yang masih murid sekolah, bahkan ada geng bentukan para murid, kekerasan mereka diatas level murid, apakah mungkin guru melawan dengan kapur atau spidol saja? Tujuan BPHP bukan melawan murid, tapi melawan mosnter, dan para monster harus ditangkap oleh monster juga.” Ucap Pimpinan PBHP.
Sementara pertarungan antara mafia masih berlanjut, Na Hwa Jin, satu persatu merontokkan mental seluruh murid dan ketua bos, membuat mereka berlutut dan meminta maaf tidak akan mengulangi, dan jika tidak diampuni mereka juga rela berhenti sekolah, namun Na Hwa Jin menyadari sesuatu.
“Kalian tidak perlu berhenti sekolah, kalian harus terus belajar.”
“Kami minta maaf pak.”
“Bukan denganku kalian meminta maaf.”
Mereka semua bingung, dengan ucapan yang diucapkan oleh Na Hwa Jin.
“Coba kalian pikirkan lagi, kemana seharusnya kalian memintakan maaf?”
Dari barisan paling belakang murid otomotif SMK Gun masih berdiri murid cupu yang memperhatikan semuanya, mereka langsung berlari menuju murid cupu tersebut, merangkul kakinya, memohon agar dimaafkan.
“Tolong ampuni aku! Aku minta maaf” Mereka meminta sambil merengek, tidak ada alagi yang bisa melindungi mereka, kecuali mereka mengikuti ucapan Na Hwa Jin.
“Tidak apa-apa, aku sudah memaafkan kalian.” Jawab murid cupu itu dan meminta temannya untuk berhenti berlutut kepadanya.
Na Hwa Jin melihat sebuah kemalangan yang selama ini dirasakan oleh murid cupu tersebut. “Hei! Kau benar-benar tidak masalah? Setelah semua yang mereka lakukan kepada kau?” Tanya Na Hwa Jin.
Mendengar hal itu, murid cupu menangis, dia teringat masa kelam ketika berada di SMK Gun ini, dia menangis histeris, tetap berdiri dengan kondisi badan yang masih merasakan sakit dimana-mana, namun hari ini, kehadian BPHP membuat dirinya kembali percaya bahwa kesabarannya selama ini akan membuahkan hasil yang baik. Temannya telah meminta maaf, tangisannya belum mereda, hingga teman-teman otomotif mendekat kepadanya.
“Hyeong Ju.” Na Hwa Jin memanggil nama murid cupu tersebut. “Hari ini temanmu telah sadar, aku pesankan kepada kalian semua, jika tidak mau sekolah, tidak usah sekolah, jika tidak mau belajar, tidak usah belajar, karena itu hidup kalian. Tapi jangan mengacaukan hidup orang lain. Jangan anggap satu menit kalian sama dengan satu menit orang lain, satu menit hari ini akan menentukan perbedaan puluhan tahun kedepan. Kalian paham?”
“YA!!!”
Lalu Na Hwa Jin melihat kepada murid pindahan, mengedipkan sebelah matanya, mengisyaratkan bahwa misi BPHP di SMK Gun telah berhasil. Hasil pekerjaan BPHP disiarkan langsung oleh kementrian pendidikan di konversi pers yang disiarkan di seluruh media berita yang ada di Korea Selatan.
“Melalui pengawasan dan pendisiplinan di SMK Gun, BPHP berhasil menyelesaikan permasalahan, agar hal serupa tidak kembali terjadi, kami akan membuat aturan baru bersama lembaga terkait, yaitu murid dilarang menggunakan tato, sepeda motor dilarang memasuki kawasan sekolah, dilarang merokok, jika bergabung atau mencoba bergabung dengan organi kekerasan, seperti geng atau mafia, pasal organisasi kriminal akan diterapkan, dan murid yang melakukan akan dihukum layaknya orang dewasa, Terakhir, bersama kementrian kehakiman, sains dan informatika komunikasi, kami akan menindak geng generasi muda yang merekrut anggota melalui media sosial. BPHP akan berupaya maksimal untuk menjamin pendidikan para murid.
Di kantor PBHP, Murid pindahan di SMK Gun, merupakan anggota baru dari BPHP, dalam penyamaran, dia mengahbiskan uang karena di palak, sepatunya diambil, barang berharganya rusak, lalu dia meminta untuk klaim biaya selama menjadi murid. mendengar hal itu, Na Hwa Jin dan Choi Gang Shok mengabulkan hal itu.
-Bersambung-
Leave a Reply