Sebelum membahas keadaan yang terjadi di Sumatera, sebelum itu kita sadar dan mengalami, hujan deras di ABI Center yang begitu deras bahkan sinar matahari tidak kita temui dalam beberapa hari ini, kegiatan kita banyak yang tertunda akibat hujan yang tak kunjung reda. Jadi ada alasan ilmiahnya, ayo sama-sama kita baca.
Pertama kita mendapat berita buruk dari daerah Aceh, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, hingga Sumatera Barat secara bersamaan. Penyebab utama adalah fenomena IOD Negatif, Samudera Hindia yang merupakan samudera yang menjadi batas negara kita, kita pelajari di pelajaran IPS, samudera ini sedang melakukan pasokan uap air besar-besaran ke pantai Barat Sumatera, disaat bersamaan, ada tekanan rendah di Selat Malaka yang menjebak angin ini sehingga menumpuk awan hujan tepat diatas Bukit Barisan, dan bukit/ gunung lainnya. Bukit Barisan adalah rangkaian pegunungan panjang yang membentang di sepanjang sisi barat Pulau Sumatra, dari
ujung utara sampai ujung selatan pulau. Data mencatat, Bukit Barisan yang membentang dari Bukit Barisan yang seharusnya menjadi benteng alam dan spons (penyerap air) raksasa kini sudah kehilangan perannya.
Data mencatat di bagian selatan Artinya sekitar 21–22% tutupan hutan hilang, “Gugus Bukit Barisan Hajoran” di Sumatera Utara disebut bahwa sebagian besar hutan telah menjadi gundul akibat perambahan dan penebangan liar. Di Sumbar, ada catatan kondisi hutan yang “sangat memperihatinkan”: hutan konservasi yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air dan habitat banyak yang rusak/telah terganggu karena penebangan liar. Inilah penerapan dari ilmu yang kita pejalari ketika SD, bahwa hutan pelindung kita ketika hujan deras, kini air deras jatuh ke tanah tanpa akar, alih-alih meresap, air justru meluncur liar, membawa lumpur, batu, dan sisa kehancuran dan material. Kita dihadapankan oleh kenyataan bahwa bencana selain sebagai nasib tahunan juga harus mengakui tanggung jawab dari ulah tindakan manusia sendiri.
Hujan adalah alarm, bukan meminta payung, tapi meminta perubahan, pemerintah ayo tutup tambang liar, lindungi hutan hulu, sekarang! Falsafah Minangkabau “Alam Takambang Jadi Guru” guru kita hari ini sedang mengajarkan bahwa kesabaran alam kita telah habis, kita tidak bisa menghentikan hujan, tapi kita bisa berupaya mencegah bencana. Murid ABI Center sudahkah kamu paham dengan dasar keaadaan yang terjadi hari ini? Dan mau tau bagaiamana kondisi kampung halaman kita?
Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus kita batasi, bahwa semua ini tidak terlepas dari takdir Allah SWT, manusia akan terus diuji, menguji kesabarannya, kemaren kita terus mengeluh karena hujan tak kunjung turun, kini hujan tak henti, tapi apakah disini kesalahan alam? Tak bisa menampung air hujan?
Bumi ini sudah bertahan miliaran tahun, semua yang bumi lakukan adalah sebagai penyeimbang, hutan ada agar menahan air, justru manusialah yang rakus dan tamak, peneangan liar, pembukaan lahan, satu kelompok yang berbuat ribuan menjadi korban, sungguh pilu.
Kenapa harus dikaitkan dengan pemerintah? Murid ABI Center, kita hidup dalam sosial, ibarat keluarga, Ibu dari keberlangsungan sosial ini adalah pemerintah, bertanggung jawab atas apa yang terjadi karena kita terus mengikuti aturan yang dikeluargkannya, yang salah diadili, yang benar di apresiasi. Hari ini hutan kita mulai gundul bahkan ada yang sudah sampai dikeruk kedalam hingga hujan menjadi danau buatan, tapi siapa yang mengadili ini kalau bukan dari pemerintah? Murid ABI Center, mari buka mata kita, hutan sudah banyak yang gundul, justru mendapatkan izin dari pemerintah? Data mencatat di akhir November 2025, sejumlah wilayah di Sumatera Utara dilanda banjir dan longsor. WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) menyatakan bahwa selain curah hujan ekstrem (dipicu oleh fenomena cuaca), kerusakan hutan termasuk di Batang Toru juga memperparah dampak bencana. Izin usaha, terutama tambang, perkebunan, PLTA, pertambangan di kawasan rawan seperti Batang Toru harus dievaluasi atau dicabut karena sudah memperparah kerusakan
Tapi setelah kita ketahui, Prabowo Subianto (Presiden Indonesia) menyatakan “Tidak perlu takut lakukan deforestasi (penghilangan hutan), kelapa sawit juga pohon yang bisa serap CO2.” Dalam pidatonya (Musrenbangnas akhir 2024), Prabowo berkata bahwa perluasan kelapa sawit tidak seharusnya dianggap sebagai deforestasi karena sawit “pohon juga, ada daunnya, bisa menyerap CO₂” Ia menyerukan agar kebun sawit dianggap sebagai aset nasional dan perlu dilindungi/diperluas. Ya, kelapa sawit memang bisa menyerap CO₂ dan menyimpan air, tetapi efeknya tidak sebanding dengan hutan alam, tidak cukup untuk menutupi karbon yang hilang jika hutan alam ditebang. Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyampaikan setiap banjir menyatakan akibat cuaca ekstrim, tapi banjir bandang yang turun air beserta kayu gelondongan yang hanyut, apakah masih menyalahkan hujan? Netizen Indonesia dalam kolom komentar pada video banjir bandang yang beredar “Langit menurunkan hujan, bukan menurunkan kayu gelondongan.” Banjir bandang mengirim bukti apa yang selama ini menjadi kebohongan. Disini kuasa badan hukum dari pemerintah terbukti lalai, pembiaran, tidak ada pengadilan yang mengadili, ketegasan izin pun entah bagaimana.
Pemerintah dalam masa ini gagal bahkan menjadi dalang terjadinya bencana? Hari ini bencana terjadi dimana-mana, Aceh, Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sumbar, dan lainnya. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara (Sumut) menyoroti bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda empat wilayah, yakni Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Mandailing Natal, dan Kota Sibolga, pada Selasa, 25 November 2025.
WALHI Sumut menegaskan bahwa bencana yang hampir terjadi setiap tahun, khususnya saat musim hujan, di wilayah tersebut bukan hanya murni fenomena alam, melainkan sebuah bencana ekologis yang dipicu oleh kerusakan ekosistem Batang Toru (Harangan Tapanuli).
Mulai akhir November 2025 Hujan lebat sudah mengguyur Sumatera Barat, khususnya di Padang, Pariaman, Pasaman, Agam, Pesisir Selatan, dan Bukittinggi. Namun awal bencana dimulai pada tanggal 22, Banjir di Pesisir Selatan di Bayang, jalanan sudah dipenuhi bajir, jalanan raya beralih bak sungai membawa batu, sampah, dan kayu-kayu. di Kabupaten Padang Pariaman, jalanan putus, terbelah, 23 November 2025 Kota Padang, banjir di Tunggul Hitam. Di titik lain, Jalan nasional penghubung Bukittinggi–Medan di kawasan Aia Kijang, Nagari Nan Tujuah, Kecamatan Palupuh tertimbun longsor Kendaraan tidak bisa lewat sampai material dibersihkan.
Tanggal 24 November di Malakak, jalan putus, akses Bukittinggi-Padang Via Malalak resmi ditutup. Nagari Aia Gadang, Kecamatan Pasaman, jalan nasional terputus, Batang Pasaman meluap. Tanggal 25 Jalan di Pasaman ruas jalan provinsi di Rimbo Kejahatan, Nagari Kajai, Kecamatan Talamau. Simpang Empat–Talu–Panti”) menghubungkan Pasaman Barat dengan Kabupaten Pasaman putus total. Pada yang bersamaan longsor menimpa UIN Imam Bonjol Padang, Gedung FEBI, sudah dievakuasi mobil dan motor dosen dan mahasiswa yang tertimpa longsor. Tanggal 27 Jembatan Gunuang Nago Kelurahan Lambung Bukik, Kec. Pauah Penghubung
Kuranji dan Universitas Andalas (UNAND) jebol. Kemudian Rumah hanyut disapu banjir bandang di Saniang, Kab. Solok. Balingka Gallodo. Jembatan Kembar Silaiang Putus Diterjang Banjir, Akses Padang Panjang–Bukittinggi Lumpuh. Akibat banjir bandang itu 9 Orang Tewas, Pencarian Korban Hilang Berlanjut. “Pengendara cari aman saja dulu. Jangan berpergian sebab kondisi cuaca ekstrem hampir di seluruh wilayah Sumbar,” himbau Kartyana. “Arus banjir dengan volume debit air besar menerjang sejumlah rumah yang berada di bantaran Sungai Minturun. Material batang pohon dan lumpur merusak rumah, mobil terseret, motor terbawa arus di Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang. Terdapat empat warga meninggal dunia akibat peristiwa tersebut,” Kemudian di Lembah Anai air terjun bervolume tinggi, membanjiri ruas jalan raya.
“Data terakhir di Sumatera Barat, korban meninggal dunia sebanyak 12 orang dan warga terdampak sekitar 12.000 jiwa,” ujar Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar Vasko Ruseimy. Pemprov Sumbar terbitkan surat edaran, aktivitas pembelajaran tatap muka diliburkan mulai 27-29 November 2025.
“Dalam situasi seperti ini, keselamatan adalah prioritas utama. Kewajiban kita memastikan seluruh masyarakat berada dalam kondisi aman,” ujar Mahyeldi di Nagari Kampung Tanjung Koto Mambang, Sungai Durian Kecamatan Patamuan. Kab Padang Pariaman, Kamis. Jalan lintas Sumatera ruas Bukittinggi-Medan yang putus total akibat semakin banyaknya titik longsor di sepanjang ruas jalan di wilayah Kecamatan Palupuah lumpuh total. Tanggal 28 Camat Candung himbau warga Candung hingga Amppek Angkek dan kebawah agar waspada bahwa lahar dingin sudah mulai turun dari gunung Marapi, bantaran sungai mulai bervolume besar membawa batu dan lumpur.


Leave a Reply