
Setiap manusia memulai kehidupannya dari sesuatu yang sangat kecil. Allah menciptakan manusia dari asal yang sederhana, sebagaimana sebuah pohon yang besar bermula dari sebutir biji. Dari biji itu tumbuh akar yang menghunjam ke dalam tanah, kemudian muncul batang yang kokoh, cabang yang menjulang, daun yang menghijau, bunga yang mekar, hingga akhirnya menghasilkan buah yang bermanfaat. Begitulah kehidupan manusia. Apa yang kita lihat hari ini adalah hasil dari benih-benih amal yang telah ditanam sejak lama. Maka pertanyaannya, benih seperti apakah yang sedang kita tanam untuk kehidupan kita kelak?
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, seorang nabi yang dijuluki sebagai Khalilullah, kekasih Allah, ternyata masih berdoa agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dalam Al-Qur’an beliau memohon, “Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” Jika seorang nabi yang memiliki kedudukan begitu mulia masih merasa membutuhkan doa itu, maka sudah sepatutnya kita yang penuh kekurangan terus memohon agar Allah menjadikan kita hamba-hamba yang saleh dan istiqamah hingga akhir hayat.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa terkenal nama kita yang akan dikenang manusia, melainkan karena apa nama itu dikenang. Semoga ketika nama kita disebut, yang terlintas di hati orang lain adalah kebaikan, bukan keburukan. Sebab setiap manusia memiliki kekurangan, tetapi orang-orang bijak selalu berusaha memperbanyak amal hingga kebaikannya mampu menutupi kekhilafannya.
Di dalam setiap salat, jutaan kaum muslimin setiap hari menyebut dua nama mulia, yaitu Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dua nama yang terus hidup dalam doa dan shalawat umat Islam sepanjang zaman. Itu menjadi pelajaran bahwa kemuliaan seseorang bukanlah karena kekayaan ataupun jabatan, melainkan karena iman, ketakwaan, dan manfaat yang ditinggalkannya untuk umat manusia.
Maka jangan pernah lelah berdoa. Tidak perlu doa yang panjang dan bertele-tele. Terkadang doa yang singkat, namun lahir dari hati yang penuh keyakinan dan diulang berkali-kali, jauh lebih dicintai Allah. Tugas seorang hamba hanyalah mengetuk pintu langit dengan doa. Adapun kapan pintu itu dibuka, sepenuhnya adalah hak Allah. Sebab Allah mengetahui waktu terbaik untuk mengabulkan setiap permohonan hamba-Nya.
Jangan pernah berputus asa ketika doa terasa belum dikabulkan. Bisa jadi Allah belum memberikannya bukan karena menolak, tetapi karena Allah mencintai suara hamba-Nya yang terus memohon kepada-Nya. Sebagaimana seseorang yang terus mengetuk sebuah pintu, suatu saat pintu itu akan dibukakan. Maka teruslah berdoa, karena tidak ada satu pun doa yang sia-sia di sisi Allah.
Di tengah kehidupan ini, kita juga sering mendengar keburukan orang lain diperbincangkan. Saat itulah seorang mukmin menjaga lisannya. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau lebih memilih diam. Jika mendengar keburukan seseorang, jangan ikut menyebarkannya. Sebaliknya, berdoalah kepada Allah agar dijauhkan dari keburukan yang sama dan didekatkan kepada segala bentuk kebaikan.
Allah menciptakan kebaikan sebagai penutup kekurangan. Setiap istighfar yang diucapkan, setiap sedekah yang diberikan, setiap salat yang ditegakkan, setiap silaturahmi yang dijaga, semuanya menjadi penambal bagi lubang-lubang dosa yang pernah kita lakukan. Jangan sampai lubang dosa lebih banyak daripada amal yang menutupinya.
Namun perlu diingat, setiap amal pada akhirnya adalah tanggung jawab pribadi. Tidak ada seorang pun yang dapat memikul dosa orang lain atau menjamin keselamatan amal orang lain. Al-Qur’an mengisahkan bagaimana Nabi Ibrahim memiliki ayah yang tetap menolak kebenaran, Nabi Nuh memiliki anak yang tidak beriman, Nabi Luth memiliki istri yang membangkang, bahkan Rasulullah ﷺ memiliki paman yang sangat beliau cintai tetapi tidak memperoleh hidayah hingga akhir hayat. Kisah-kisah itu mengajarkan bahwa hubungan keluarga tidak menjadi jaminan keselamatan. Yang menyelamatkan hanyalah iman dan amal saleh.
Begitu pula ketika seseorang meninggal dunia, lembaran amalnya telah tertutup. Kesempatan untuk memilih jalan telah berakhir. Oleh karena itu, selama seseorang masih hidup, pintu hidayah dan doa masih terbuka baginya. Namun setelah kematian datang, setiap manusia akan menuai apa yang telah ditanam selama hidup di dunia.
Setelah ruh berpisah dari jasad, manusia memasuki alam barzakh, sebuah alam penantian menuju hari kebangkitan. Dunia yang dahulu terasa begitu penting akan berubah menjadi kenangan. Jabatan, harta, dan kemewahan tidak lagi memiliki arti. Yang menemani hanyalah amal yang pernah dilakukan. Bekal yang dahulu mungkin dianggap sepele, justru menjadi penentu perjalanan menuju kehidupan yang kekal.
Di sanalah manusia mulai menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Bekal yang sesungguhnya bukanlah apa yang disimpan di dalam rekening atau lemari, tetapi apa yang disimpan dalam catatan amal di sisi Allah. Karena itu, selama kesempatan masih ada, perbanyaklah salat, sedekah, zikir, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, berbakti kepada orang tua, dan semua amal yang mendekatkan diri kepada Allah.
Kelak, pada hari ketika seluruh manusia dibangkitkan, Allah akan memperlihatkan segala sesuatu yang dahulu tersembunyi. Tidak ada rahasia yang luput dari pengetahuan-Nya. Namun di antara sekian banyak manusia, ada golongan yang mendapatkan kemuliaan luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang ketika hidup di dunia memilih menutup aib saudaranya, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak menjadikan kekurangan sesama sebagai bahan pembicaraan. Sebagai balasannya, Allah akan menutupi aib mereka pada hari ketika semua manusia berdiri di hadapan-Nya.
Sebaliknya, orang yang gemar membuka aib, mempermalukan, dan menyebarkan keburukan orang lain hendaknya menyadari bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban. Lisan adalah amanah. Gunakanlah ia untuk berzikir, berdoa, menyampaikan ilmu, menghibur hati yang sedih, dan menebarkan kebaikan.
Pada akhirnya, perjalanan hidup ini bukanlah tentang siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling dihormati manusia. Perjalanan ini adalah tentang siapa yang paling siap ketika Allah memanggilnya pulang. Karena sesungguhnya kehidupan di dunia hanyalah persinggahan yang singkat, sedangkan kampung akhirat adalah tempat kembali yang kekal.
Maka mulailah hari ini dengan menanam benih-benih kebaikan. Jagalah lisan, perbanyak doa, tutuplah aib saudaramu, hormatilah kedua orang tuamu, dan persiapkan bekal terbaik sebelum perjalanan pulang itu benar-benar tiba.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pulang membawa iman yang kokoh, amal yang diterima, dan hati yang bersih. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.
Leave a Reply