Ustadz Jumadia Tentang Menjadi Air yang Tak Pernah Berhenti Memecahkan Batu

Uncategorized

Ustadz Jumadia, selaku kepala sekolah SMA IT ABI Center, memberikan pengarahan pagi yang begitu bermakna. Beliau meminta Wahyu, salah satu murid, untuk segera mengambil sebuah batu. Di tangan Ustadz Jumadia telah ada sebotol air. Air tersebut kemudian dituangkan perlahan ke atas batu. Air membasahi batu, namun tidak tampak perubahan apa pun. Batu tetaplah batu. Namun Ustadz Jumadia menjelaskan, jika tetesan air yang lembut itu terus-menerus mengalir, maka batu yang keras pun bisa berlubang. Bukan karena air itu kuat, tetapi karena ia istiqomah dan tidak berhenti.

Dari perumpamaan itu, beliau mengaitkannya dengan kehidupan di pondok dan proses belajar. Hari ini mungkin hasilnya belum terlihat. Hafalan masih sedikit, pemahaman belum sempurna, dan usaha terasa kecil. Namun selama disiplin dan tidak berhenti, hasil itu pasti akan datang. Allah tidak menilai kapan seseorang selesai, tetapi Allah melihat sejauh mana usaha dan kesungguhan hamba-Nya. Karena itu, tidak boleh berhenti belajar, apa pun keadaannya.

Kepada siswa SMP kelas 9 yang akan menempuh enam tahun di pondok, beliau menyampaikan pesan yang penuh ketulusan. Biarlah hari ini kami terlihat seperti mengemis demi masa depan kalian, karena kami akan jauh lebih malu jika kelak melihat kalian tidak sukses. Melihat kondisi hari ini, yang paling ditakutkan adalah jika tetesan air itu berhenti, karena berhenti berarti kerugian.

Amanat pagi itu dirangkum dalam tiga poin penting. Pertama, jangan pernah menyepelekan usaha kecil, seperti membaca satu halaman, satu hadis, atau mencatat satu pelajaran. Kedua, perkuat niat dan jaga istiqomah, karena kekuatan sejati tidak hanya berasal dari fisik, tetapi juga dari niat yang lurus. Ketiga, jangan merasa malu untuk belajar. Yang patut malu hanyalah mereka yang berhenti belajar, sebab orang pintar hari ini pun dulunya tidak tahu apa-apa, tetapi terus berusaha seperti air yang menetes pada batu.

Pengarahan itu tidak disampaikan dengan keras atau menyerang, melainkan dengan cara yang menyejukkan, namun mengena dan meninggalkan kesan mendalam. Tepuk tangan pun mengiringi akhir pengarahan yang sederhana, tetapi begitu menawan dan penuh makna.

Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.