Film Pesta Babi Membuka Mata Papua Terkini

Uncategorized

Indonesia memiliki pemerintahan yang salah satunya mengupayakan Produksi Pangan, salah satunya menggunakan hutan Papua menjadi perkebunan sawit, gula, sawah, singkong dan lainnya, guna tidak perlu lagi impor dari luar negeri, namun yang memiliki perusahaan adalah 1 keluarga (Elit Indonesia) seolah mengambil keuntungan atas nama negara, buktinya mereka menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia, itu sudah jadi rahasia umum. Baik sejak masa Soeharto hingga hari ini masa Prabowo. Di Papua, tanah yang digunakan adalah tanah adat yang sudah dihuni oleh masyarakat yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Rakyat Papua tidak punya surat, hanya berpatokan dengan adat dan agama, oleh karena itu dibuatkan salip yang disebar di perbatasan tanah adat dan agama sebanyak 1500 lebih, dengan ukuran yang sama, sudah berjalan selama 10 tahun, namun hal itu justru perusahaan mengerahkan TNI untuk membendung perlawanan rakyat lokal, semakin banyak hingga berbanding 1:58 antara warga lokal dengan TNI. Salip merah itu tetap disebar hingga puncaknya pada 10 tahun ini dilakukan pembuatan Salip besar merah digotong bersama dan disebut dengan Pesta Babi. Sebenarnya sebelum ini sudah banyak upaya, namun banyak yang gugur, tanah tetap jatuh ke tangan perusahaan. Hasilnya perkebunan mangkrak, karena tidak sesuai bibit dan kualitas tanah, bukannya berhenti justru dilanjutkan, mencoba peruntungan lainnya di tanah lainnya, meninggalkan lahan terbuka terbengkalai menjadi rawa, tanah mati dan batang kayu dari pohon yang semerawut. Martua, Fangiono, Isam adalah nama utama yang menguasai perusahaan ini, Joulin Argo Raya mengirimkan ratusan alat berat dari China, warga mengaku tidak dibawa kompromi, hanya langsung dihadang, salip dirubuhkan, diabaikan, hanya sebagai hiasan, perusahan tidak mengubris, yang penting prosuksi pangan ini lanjut, tidak memikirkan bagaimana generasi selanjutnya hendak tinggal dan menyambung mimpi? Sebelumnya hutan sebagai sumber utama kehidupan mereka, sumber daya alam yang sudah ada sejak dulunya, rakyat yang tenang, kini diusik oleh perusahaan yang katanya sesuai dengan misi pemerintah. Tanah Indonesia ini milik siapa? Apakah punya segelintir orang kaya saja? Food Estate? Tapi impor masih berlanjut bahkan meningkat, mana solusinya? Tanah tetap terkeruk, Rakyat Papua bukan untung diatas tanahanya justru sekngsara, melawan resikonya ditembak, Papua perlahan direnggut tanganya, ayo buka mata, Papua bukan tanah kosong. Tapi tanah mereka yang butuh kemerdekaan yang tidak dirasakan sejak keuntungan Feeport jatuh ke tangan asing. Niat awal hendak berburu untuk menyambung hidup ke hutannya, justru rakyat Papua di buru oleh negaranya sendiri.    
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.