Outbound Team Building ABI Center Menjadi Berkarakter, Kompak, dan Bernilai

Uncategorized

Setelah sehari sebelumnya menerima pembekalan materi mengenai pengenalan karakter manusia bersama Ustadz Yengki di Ruang Guru ABI Center, seluruh guru, pengasuh, dan karyawan kembali mengikuti kegiatan praktik lapangan pada Sabtu, 11 Juli 2026. Bertempat di objek wisata alam Tapian Ratu, Ngarai. Kegiatan ini menjadi sarana untuk menguji sekaligus membuktikan bagaimana karakter seseorang benar-benar muncul ketika dihadapkan pada situasi nyata di luar ruang kelas. Apakah hasil tes karakter yang telah dilakukan sebelumnya benar-benar sesuai? Apakah seseorang yang bertipe Akar, Buah, Cabang, maupun Daun akan memperlihatkan sifat aslinya ketika bekerja di lapangan? Pertanyaan itulah yang menjadi inti dari seluruh rangkaian kegiatan hari itu. Sejak awal kegiatan dimulai, para peserta langsung diberikan tantangan membentuk berbagai formasi hanya dalam waktu sepuluh detik. Instruksi yang diberikan berupa angka maupun huruf tertentu yang harus dibentuk secara cepat dan tepat. Namun kenyataannya, sebagian besar peserta belum mampu menyelesaikan tantangan tersebut dengan baik. Beberapa peserta bergerak terlalu cepat tanpa koordinasi, sementara yang lain masih menunggu arahan. Ada yang penuh semangat, ada yang tenang, ada pula yang cenderung pasif sehingga proses pembentukan formasi menjadi lambat. Melalui simulasi sederhana ini, Ustadz Yengki memberikan pelajaran bahwa sebuah tim bukan hanya membutuhkan orang-orang yang bekerja keras, tetapi juga membutuhkan komunikasi yang jelas, inisiatif, dan kepemimpinan yang tegas. Beliau mengibaratkan kondisi tersebut seperti sebuah organisasi. “Semua orang sebenarnya bisa bekerja, tetapi jika tidak memiliki arah yang sama, pekerjaan akan selesai dengan lambat. Tim membutuhkan komando yang jelas agar seluruh anggotanya bergerak dalam tujuan yang sama. Diibaratkan ABI Center, memang akan jaya namun akan lambat jika semua banyak yang tidak satu visi.”  Suasana kemudian berubah menjadi lebih cair ketika seluruh peserta diajak mengikuti permainan Tepuk Semangat. Setiap peserta diminta menyebutkan impian atau target yang ingin dicapai sambil melakukan tepukan dan gerakan kaki secara bersamaan. Momen yang paling mengundang tawa terjadi ketika Ibu Neneng dengan penuh semangat menyampaikan harapannya. “Naik Haji. Naik Gaji!” Jawaban spontan tersebut langsung disambut gelak tawa serta tepuk tangan dari seluruh peserta. Suasana yang sebelumnya penuh konsentrasi berubah menjadi hangat dan penuh kebersamaan. Setelah itu, Ustadz Yengki memperkenalkan tepuk konsentrasi yang harus dilakukan secara serempak. Seluruh peserta diminta menepuk tangan tiga kali, kemudian mengepalkan tangan ke bahu kanan sambil meneriakkan “Hah!”, dilanjutkan ke bahu kiri dengan seruan “Huh!”, kemudian ibu jari kanan menyentuh bahu kanan sambil mengucapkan “Cis!”, dilanjutkan ibu jari kiri ke bahu kiri, dan diakhiri dengan gerakan membentuk pistol menggunakan tangan sambil berkata “Dor!” Gerakan yang terlihat sederhana tersebut ternyata tidak mudah dilakukan secara bersamaan. Jika satu orang melakukan kesalahan, maka seluruh peserta harus mengulanginya dari awal. Latihan tersebut dilakukan berkali-kali hingga seluruh peserta benar-benar kompak. Menariknya, ketika Ustadz Yengki menyampaikan bahwa setiap kesalahan akan mendapatkan hukuman berupa coretan kopi di wajah, tingkat kekompakan peserta langsung meningkat secara signifikan. Hukuman ringan tersebut justru menjadi pemicu munculnya kerja sama yang lebih baik. Memasuki sesi berikutnya, seluruh peserta dibagi menjadi enam kelompok yang masing-masing terdiri dari sepuluh orang atau lebih. Setiap kelompok diminta memilih seorang ketua, menentukan nama kelompok, serta menciptakan yel-yel sebagai identitas tim. Dalam waktu empat menit, setiap kelompok bermusyawarah menyusun strategi sebelum akhirnya menampilkan yel-yel di hadapan peserta lainnya. Enam kelompok tersebut terdiri atas:
  • Campedak
  • Gawe
  • Salingka Kopi
  • MAC
  • Coconut
  • Satria Muda
Usai presentasi, setiap kelompok saling memberikan penilaian terhadap penampilan kelompok lainnya. Kegiatan kemudian berlanjut ke tiga pos permainan yang telah disiapkan. Pada Pos 1, peserta ditantang membangun sebuah “gapura manusia”  dan “Memasukkan lakban ke sebuah tiang.” Permainan ini mengajarkan pentingnya koordinasi, komunikasi, dan kebersamaan. Di Pos 2, peserta memainkan permainan Seven Boom yang membutuhkan fokus, ketenangan, konsentrasi, serta kemampuan mengendalikan diri. Dari permainan ini, Ustadz Yengki mengingatkan bahwa pekerjaan akan terasa ringan apabila dinikmati, bukan dijadikan beban. Beliau juga mengingatkan agar tidak pernah meremehkan tugas sekecil apa pun. Sementara di Pos 3, peserta memainkan permainan Suit Delila, Samson, dan Harimau siapa yang kalah maka akan diberi bedak pada wajahnya, lalu dilanjutkan dengan berebut bola. Permainan tersebut mengajarkan pentingnya musyawarah, strategi, kecepatan mengambil keputusan, kerja sama, serta menerima bahwa dalam kehidupan selalu ada unsur ikhtiar dan tawakal kepada Allah SWT. Setelah seluruh rangkaian permainan selesai, seluruh peserta kembali berkumpul untuk mengikuti sesi evaluasi. Pada sesi inilah Ustadz Yengki menyampaikan salah satu materi yang paling membekas di hati para peserta. Beliau mengeluarkan dua lembar uang dengan nominal yang berbeda. Kemudian beliau bertanya, “Kalau diberi pilihan antara uang lima ribu dan seratus ribu, mana yang akan dipilih?” Tentu seluruh peserta memilih uang seratus ribu. Uang tersebut kemudian diremas hingga kusut. Namun pertanyaannya tetap sama. “Masih memilih yang mana?” Jawabannya tetap seratus ribu. Kemudian uang itu diinjak, dikotori, bahkan diibaratkan jatuh ke dalam selokan hingga basah dan berbau. Sekali lagi jawabannya tetap sama. “Seratus ribu.” Beliau kemudian memberikan pelajaran yang sangat bermakna. Nilai seseorang tidak akan hilang hanya karena sedang berada dalam keadaan sulit. Sebagaimana uang seratus ribu tetap bernilai meskipun kusut, kotor, atau basah, demikian pula manusia yang memiliki nilai dalam dirinya. Orang yang dihargai karena kekayaan akan kehilangan penghormatan ketika hartanya habis. Orang yang dihormati karena jabatan mungkin akan dilupakan ketika jabatannya berakhir. Orang yang dikagumi karena ketampanan, kecantikan, atau penampilan lambat laun akan dimakan usia. Namun orang yang memiliki nilai, akhlak, ilmu, manfaat, serta ketulusan akan tetap dihormati di mana pun ia berada. Nasihatnya yang paling menyentuh adalah ketika beliau mengatakan bahwa seseorang yang memiliki nilai akan tetap didatangi orang untuk dimintai nasihat, didengarkan pendapatnya, bahkan ketika ia sedang sakit, terbaring di rumah, atau tidak lagi memiliki kekuatan fisik. Itulah nilai sejati yang harus dibangun oleh setiap guru dan karyawan ABI Center. Beliau berharap seluruh keluarga besar ABI Center menjadi pribadi-pribadi yang bernilai, yang keberadaannya selalu membawa manfaat bagi orang lain, baik di dunia maupun di akhirat. Kegiatan kemudian ditutup dengan pembagian hadiah kepada kelompok terbaik, pemenang permainan Seven Boom, ketua kelompok terbaik, peserta yang mampu menjawab review materi dengan tepat, serta peserta yang berhasil mengambil hadiah. Outbound hari itu bukan sekadar permainan di alam terbuka. Lebih dari itu, seluruh peserta diajak mengenal dirinya sendiri, memahami karakter rekan kerja, membangun komunikasi yang sehat, memperkuat kerja sama, serta menyadari bahwa organisasi yang besar hanya dapat dibangun oleh orang-orang yang memiliki karakter, ketulusan, dan nilai yang kuat. Semoga semangat kebersamaan yang telah dibangun dalam kegiatan ini terus tumbuh di lingkungan ABI Center, sehingga seluruh guru, pengasuh, dan karyawan mampu menjadi satu tim yang solid dalam mendidik murid, menguatkan peradaban, dan mewujudkan visi ABI Center sebagai lembaga pendidikan Islam yang unggul dan beradab.
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.