The Phantom Know By No Name (Bagian 3)

Uncategorized

Penulis: Daffa Hadinatta Chapter 3: Pertemuan Kembali   Sepertinya cuaca hari ini begitu bersahabat-Matahari Cerah, langit biru, awan tipis bertebaran dimana-mana, serayu angin berterbangan diantaranya–bagi perjalanan Mizuki menuju kota Arunika, dikenal sebagai kota dingin tak bersalju. Angin berterbangan, membawa dingin yang berhembus ke setiap penjuru kota, agar tubuh tetap terasa hangat. Juga dikenal sebagai si cermin kembar, Kena si danau merah dan Kona si danau biru.   Di pagi hari Mizuki tengah menikmati secangkir latte dan sepotong Crois sant di sebuah cafe di kota besar Arunika. Selagi memegangi sebuah benda berbentuk tongkat begadang dengan corak ukiran yang khas.   Flashback On “Mizuki…” Tangan yang kuat mampu tetap lembut, memegangi baju kak Mizuki.   “Mmmm?” Mizuki sibuk dengan barang bawaannya.   “Bawalah katani ini bersamamu, nak.” Sebuah Katana berbalut kain hitam lusuh. Tsuninagi membuka balutan kain itu, dan memperhatikan sebuah katana tua yang masih autentik.   “Hmm?! Sepertinya katana ini sangat luas, tapi kenapa aku baru melihatnya.”   “Katana ini jauh sebelum kamu lahir dibuat oleh pandai besi sejati, didunia ini. Ditempa dan diasah dengan proses berbeda, dibuat dari material khusus dan langka. Sehingga katana ini hampir mustahil untuk dihancurkan. Katana ini punya rahasia yang masih belum terungkap, karena sebelum kematian si Pandai Besi, sempat ingin menyampaikan pesan menyampaikan pesan mengenai hal khusus yang ada dibalik katana dan sipemakainya, namun saat ingin menyampaikan pesan, ajalnya telah terlebih dahulu menjemputnya. Menjadi pertanyaan dari masa ke masa, apa sebenarnya yang menjadi rahasia di balik sang katana. Belum jelas hingga sekarang, dan orang-orang terdahulu hanya menggunakan seperti biasa dengan dukungan kekuatan masing-masing. Ini adalah barang, dari perpustakaan, kamulah yang menjadi tuannya sekarang. Dan aku ingin kamu memecahkan rahasia itu.”   Setelah tersadar dari lamunan, Mizuki mendengar suara ribut rusuh dari balik jendela cafe. Kemudian ia bangkit dari posisi ternyamannya menghampiri keributan yang terjadi diluar sana. Sesampai di tempat kejadian, Mizuki melihat seorang gadis bertopeng tengah beradu senjata dengan sesosok monster yang menjadi awal mula keributan itu terjadi. Gadis itu bertarung melawannya. Si monster yang lincah, menyerang dari berbagai arah. Dari kejauhan, Mizuki memperhatikan, ia mendapati gadis itu kesusahan.   Disisi lain, monster berusaha menyerang pada titik buta gadis bertopeng itu. Dia mendapatkannya, satu cambukan ekor panjang melesat cepat dari arah belakang menuju punggung si gadis yang tengah sibuk menahan serangan dari depan, ia tidak bisa mengelakkannya,   “Mata Tenkuma, langkah iblis.” Trinngg……,Mizuki menghadang serangan tersebut dengan katananya, monster itu kalah cepat dibandingkan dengan teknik mata tenkuma langkah iblis miliknya.   Mizuki membuang jauh ekor tersebut dari bilang katana es nya. (Bukan katana yang sebelumnya, melainkan sebilah pedang katana dibuat dengan kekuatan es yang ia memiliki pada lengan tangan sebelah kirinya.)   “Berhati-hatilah, jangan lengah, kamu bisa saja celaka.”   “I…iya, maaf. Aku akan lebih berhati-hati.”   “Mari kita selesaikan, gunakan ini.” Mizuki mengoper katana miliknya kepada si gadis bertopeng, dan ia memunculkan sebuah scythe (sabit besar) pada tangan kanannya. “Tolong kamu alihkan dahulu perhatiannya, sementara aku mengumpulkan kekuatan.”   “Baiklah…” Si gadis bertopeng mengambil ancang-ancang dengan katananya. “Ilusi rubah.” Sang monster masuk kedalam perangkap ilusi. Matanya kini telah dibutakan, ia kebingungan. Si gadis dengan cepat menebas sang monster dari berbagai arah. Dengan Katana milik Mizuki, setiap tebasan memberikan efek dingin katana Mizuki, setiap tebasan memberikan efek dingin menusuk dan beku mengkristal. Sang monster mematung pada posisi berdiri.   “Cukup….” Si gadis berhenti menyerang. “Aku akan menyelesaikan semua ini” Langkah kaki Mizuki memasuki ruang ilusi si gadis bertopeng.   “Mari kita selesaikan ini bersama, tuan muda.” Dari balik kekosongan, sepertinya Zusheng tidak sabaran lagi.   “Sip…Aman.” Sudut bibir kanan Mizuki sedikit terangkat. “Domain kekosongan.” Ruang ilusi ribah itu digantikan dengan dominasi kekosongan milik Mizuki, kini ia menguasai pertarungan.   “Sepertinya dia adalah monster suruhan, tuan muda.”   “Mata tenkuma, langkah iblis.” Mizuki mendekati monster itu, kemudian berisik padanya. “Siapa kamu?”   “Sang monster tidak mau menjawab pertanyaan yang dilontarkan Mizuki terhadapnya, melainkan meronta dan menyerang balik Mizuki. “Aku sudah bersikap baik kepadamu, tetapi kamu tidak juga menjawab pertanyaanku, dan mana sopan-santunku.” Mizuki tersenyum “Oke, kamu memaksaku untuk bersikap lebih keras terhadapmu.” Zusheng mengambil alih tubuh Mizuki.     “Izinkan aku sesaat, tuan muda.”   “hmm, baiklah.” Rupa tampang Mizuki seketika berubah, muncul sebuah mahkota mengambang yang melingkari setelah kepala dari belakang, dan manik matanya berubah menjadi ungu dengan pupil bintang hitam. Kini ia adalah Zusheng.   langkah kaki Zusheng mendekat. “Apa maumu?”   “Darah keturunan terakhir sang legenda.” Dia tersenyum, namun itu bukan senyum yang baik.   Mata itu—monster—punya niat buruk, Zusheng telah menerka akan hal itu, Jari-jemarinya menari, gumpalan kabut ungu keemasan menyelimuti tangan kanannya, sesaat kemudian menghilang, Scythe itu digantikan dengan sebilah belati. Zusheng menodongkannya kebawah dagu si mosnter.   “Tatapan kekosongan.” Monster dengan tatapan hampa kemudian mulai berbicara. “Aku Sataka.”   “Baik, apa tujuanmu sebenarnya, dan siapa tuanmu?”   “Mencari keberuntungan sang legenda, dan memusnahkannya, Nighven…., dia tuanku.”   “Nighven, dia sudah bangkit kembali, dan memusnahkannya Nighven, dia tuanku.”   “Nighven, dia sudah bangkit kembali…?! Bahkan setelah disegel dengan kuat. Mungkin tidak lama lagi kita akan bertemu kembali dengan dia. Itu informasi cukup…, sebelum berhadapan langsung dengan dia. Itu informasi yang cukup…, sebelum berhadapan langsung dengannya.” Zusheng bergumam.   “Informasi mu cukup berharga, tapi inilah akhir hayat mu.” Mata pisau belati itu didorong menembus kulit dan tulang rahang di monster. Dia kembali sadar kemudian meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Zusheng mundur beberapa langkah. “Mari kita akhiri, tuan muda.” Zusheng bertukar kembali dengan Mizuki.   “Mata Tenkuma, langkah iblis.” Mizuki meloncat-loncat ringan, Zigzag kiri kanan, mengambil ancang-ancang.” Jiwa kekosongan.   jarak diantara mereka berdua cukup jauh, tapi bagi Mizuki, itu hanyalah seperti  5 langkah yang diberi sedikit kecohan mata, sehingga si monster akan kewalahan melihatnya. Tepat di depannya. “Sabit kembar.” Dua bilah mata sabit datang dari arah berlawanan, mengunci pergerakan si monster.   “SLASSHH” Kepalanya terpental jauh dari badannya, terpisah menjadi dua bagian, jatuh dan tersungkur di hadapan Mizuki. Kemudian perlahan terbakar, seiring menghilang menjadi abu yang berterbangan.   Selesai sudah masalah yang menghalangi, “Tuk,tuk.” Ujung sepatu Mizuki mengetuk tanah dua kali, seketika domain yang menjadi penghalang antara gemuruh ke kekuatan dengan dunia luar, seketika lenyap tak bersuara, menyisakan dirinya dan si gadis bertopeng.   Si gadis bertopeng terdiam mematung, Mizuki mendekati. Memperhatikan dari ujung hingga asing dipandang, seperti pernah bertemu, dan melihatnya. “Liontin bintang.” Benda itu kalung indah di lehernya. Berusaha mengingat kembali.   “Abam…” Si gadis bertopeng bersuara.   “Haaa!? Abam? Kamu…” Mizuki mencoba mengingatkan lagi, siapa sebenarnya gadis yang berdiri di hadapannya, dan mengapa panggilan itu terasa akrab di telinga, “Kamu______”   “Niunay…., Abam.” Ia membuka topengnya.   -Selesai-
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.