The Phantom Know By No Name (Bagian 1)

Uncategorized

Penulis: Daffa Hadinatta Chapter 1 : Gadis Kecil Berambut Merah Muda   Shouta…Eh, bukan ia adalah Mizuki, seorang lelaki remaja yang hidup sederhana bersama seorang pria penjaga kuil tua. Mizuki tumbuh dan diasuh dengan didikan beladiri, bukan sekedar ilmu beladiri, ini beladiri spiritual yang diajarkan oleh pria penjaga kuil itu. Dia bernama Tsuninagi.   Mizuki, dia terlihat seperti manusia biasa, tinggi 185 cm dan tumbuh tegap begitu kokoh dengan otot yang telah dibentuk, memiliki rambut tebal yang diberi potongan membelah di bagian samping kanan atas kepalanya, dan poni yang menjuntai menyilang diantara sepasang bola matanya, manik mata itu bagaikan Yin dan Yang, dua hal yang berbeda dalam satu wadah yang sama. Irish mata kanannya berwarna indigo, sedangkan iris pupil mata kiri berwarna sebaliknya. Matanya belang. Hampir lupa! Rambutnya yang khas, diselimuti warna tosca kebiruan seperti kristal es, dan dengan sedikit kebiruan gelap menyelang-nyelingi seperti langit tengah malam diantara bintang-bintang dan aurora.   “Paman, aku mau ke hutan, mau cari berry.” Mizuki mendekati pintu rumah dengan membawa keranjang buah, kemudian membukanya. “Iya… hati-hati, jangan lupa berry untukku nanti!” Tsuninagi sibuk memberi makan ikan kecil ikan koi di halaman belakang rumah. “Aku bukan bocah yang perlu dikhawatirkan, tenang saja.” Sudut bibir kanan nya sedikit terangkat. Mizuki meninggalkan rumah.   Mizuki berjalan menelusuri hutan, melewati pepohonan dan semak belukar, mencari keberadaan buah berry yang akan dipetik dan dibawa pulang. Selagi sibuk mencari, pandangan mata teralihkan akan suara tangis di balik semak, tepat sekali di balik dedaunan semak yang ditumbuhi berry. Mizuki memetik beberapa berry, kemudian memasukkannya ke dalam keranjang. Suara tangis itu masih terdengar, Mizuki mencoba melihat.   Tampak seorang gadis kecil yang tengah terduduk disamping pohon ek muka, mizuki menghampiri.   “Hei…, kamu kenapa?” Tutur kata Mizuki terdengar lembut mencoba menyapa dan mengajak gadis kecil itu berbicara.   “Mmm..” Ia malu, dan sedikit tersedu-sedu.   “Ngaa apa kok. Nama kamu siapa?”   “Niunay..”   “Niunay? Nama yang manis. Kamu kok bisa sampai kesini?”   “Ngga tau…, tadi aku liat kupu-kupu cantik.” Niunay kecil sedikit kebingungan. Tangisnya masih berlanjut.   “Udahan nangisnya, aku ada sesuatu yang buat kamu.” Perlahan tangisnya mereda, Niunay penasaran.   Mizuki membuka sarung tangan yang menutupi tangan sebelah kirinya. Tangan itu pucat pasi, urat nadinya terlihat jelas berwarna biru dan muncul serpihan es halus di permukaan kulit. Jari jemarinya menari, mata kirinya bereaksi bersama dan munculnya setangkai bunga mawar es yang kini ia genggam. Mizuki memberikannya kepada Niunay Kecil.   “Wah…” Ketika melihatnya, Niunay Terpana. Ia mengambil bunga itu dari tangan Mizuki.   “Sebentar, ada satu lagi.”   Kini Mizuki memainkan jari jemari kanannya, berkelap kelip, seakan-akan ada bintang-bintang berada diantaranya, bersamaan dengan mata kanannya yang juga bereaksi, mizuki membuat sebuah lointon kecil dari bintang, ia mengalungkannya ke leher Niunay.   “Mata Abam cantik….” Dua pasang mata itu terkunci dalam satu pandangan.   Mizuki tersenyum “Abam? Mungkin maksudnya abang, tapi lucu juga.” “Tentu saja, karena ini spesial.” Mizuki mengelus rambut panjang Niunay , lihatlah rambutmu yang merah muda seperti bunga sakura, sedikit orange seperti buah persik, peach pink. Dan sepasang manik mata yang berwarna biru muda ke perak-perakan, silver blue, manis…” Pipi Niunay yang putih seperti susu, seketika merah merona.   “Abam juga manis….._kruyk…” Suara gemuruh kecil muncul dari perut Niunay.   “Kamu lapar ya?” Niunay mengangguk-anguk malu-malu “Sebentar” Mizuki memeriksa isi keranjang bawaannya. “Mmmm Mau Berry?”   “Mau” Mizuki mengambil satu berry, kemudian ia memberikan sedikit sentuhan es, Berry itu berubah menjadi ice berry, Mizuki memberikannya kepada Niunay.   Niunay mencoba untuk memakannya, seketika helaian rambut dan manik bola matanya berubah menjadi putih kebiru-biruan halus.         “ Efeknya akan menjadi normal setelah beberapa menit kemudian.”   “Keren_Kruyk”   “Masih lapar ya, bawa aja nih, buat kamu.” Keranjang berisikan berry itu kini telah menjadi milik Niunay.   “Makasih Abam.”   “Udah mau gelap, kamu nggak pulang?” Mizuki bertanya, tapi sedikit bingung dengan pertanyaannya sendiri. “Oh iya, aku lupa, kamu tadi tersesat.” Mizuki memegang dahinya.   Mizuki tersenyum tipis. Ia memainkan jari jemarinya, membuat seekor kupu-kupu bintang dari yangan kanannya. Kemudian menerbangkannya, diikuti setelahnya jentikan jari yang menciptakan cahaya kecil seperti bintang, berderet rapi membuat arah menuju jalan keluar dari hutan tersebut. “Niunay, kupu-kupu ini bakalan nunjukin jalan buat maku menuju rumah.”   “Oke, Abam.”   “Sebelum itu…..mawar es dan liontin bintang ini adalah sebagian dari kekuatan ku. Jadi kekuatan ini akan melindungimu dari marabahaya, kamu mungkin menggunakan nya.”   “Aku bisa?”   “Ya, Kamu bisa, nanti ketika kamu udah cukup dewasa, carilah aku.” Senyuman bibirnya tertuju pada Niunay.   “Makasih Abam, nanti kalau udah gede, Niunay bakal cariin Abam, Niunay pengen sama Abam.” Gadis kecil itu berjalan mengikuti kupu-kupu yang dibuat oleh Mizuki tadi, terbang menjauh, begitupun dengan dia_Niunay yang mulai menjauh. “ Abam, tunggu aku ya, aku pasti kembali mencari Abam. Sampai jumpa.” Ia melambaikan tangannya, berangsur menjauh, dan hilang dari pandangan Mizuki.   Kini Mizuki tinggal seorang diri, hanya ditemani hutan yang tenang, dan beberapa hewan kecil yang berlalu lalang. Mizuki mengingat kembali kejadian yang baru saja ia alami, “Niunay…….Gadis kecil yang manis.” Mengingat waktu sudah larut, ia rasa ini waktunya untuk beranjak kembali pulang kerumah. Dan ini akan menjadi momen yang sulit dilupakan.   “Paman, aku pulang.” Pintu depan terbuka, ada Mizuki di baliknya.   “Ya….- Berry ku mana?”   “Waduh lupa!” Tangannya reflek memegangi dahi. “Loh! Kok bisa lupa, bukannya tadi kamu pengen mencari berry, dan mana kerangjang mu?”   “Hehe…., tadi berrynya udah aku kumpulkan, kemudian aku bertemu dengan seorang gadis kecil yang tersesat. Singkat cerita, gadis itu lapar, dan aku memberikan berry yang ku punya.”   “Dengan Keranjangnya?”   “Yap…._ dan gadis itu manis. Namanya Niunay, dengan rambutnya yang berwarna pink peach, dan matanya silver blue.”   “Silver blue, itu seperti mata teman lamaku.”   “Benarkah?”   “Ya…., begitulah.”   “Aku istirahat dulu, capek banget soalnya.”   -Bersambung- Stay Tuned lanjutannya di Web ABI Center!                
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.