Cerpen Murid SCU “Ketika Do`a Terlambat Pulang”

Uncategorized

Penulis: Salsabila Azzahra   Senin pagi di Bumi Bekasi selalu datang tanpa aba-aba, seperti tagihan yang tak pernah menunggu kesiapan. Bising, sesak, berdebu. Jalanan melahirkan kendaraan tanpa jeda—besar dan kecil—saling beradu klakson, memuntahkan asap ke udara. Di atas jembatan dan jalur layang, kendaraan merayap seperti barisan semut yang kehilangan arah, berputar-putar tanpa benar-benar tahu ke mana hendak pulang. Aku, Bayu, menarik napas panjang. Udara terasa berat, berbau logam dan sisa pembakaran. Ada sesuatu yang tertinggal di dadaku sejak subuh—niat yang tak jadi kulaksanakan. Seperti doa yang kubiarkan menggantung di langit-langit rumah, tak sempat turun ke bumi. Dengan sepeda butut, aku memotong jalanan yang padat seorang diri. Tas di punggung kurapatkan—isinya beberapa botol cairan pembersih dan tas bekal sederhana. Bukan bekal yang mengenyangkan, hanya cukup agar perut tak memberontak sebelum waktu pulang. Masih tiga kilometer lagi. Jam tangan kupandangi lama. Jarum-jarumnya berlari lebih cepat daripada kakiku. “Masih ada waktu,” batinku. Kalimat itu sering kuulang—bukan hanya untuk bekerja, tapi juga untuk Tuhan. Matahari Bekasi mulai menunjukkan wataknya. Keringat mengalir, membasahi pelipis dan punggung. Jaket kulepas, topi kuraih dari keranjang sepeda. Saat itulah sebuah suara memanggilku. Bagus. Musuh bebuyutanku semasa sekolah. Kini ia duduk nyaman di balik kemudi mobil pikap, seperti masa lalu yang tiba-tiba sukses menyalip masa kini. “Woi, Bayu! Mengapa kau kusam?” teriaknya sambil tertawa. Tawanya bulat, penuh, tak bocor oleh kekhawatiran hidup. Aku menatapnya. Sekilas kulihat bayangan diriku di kaca mobilnya—kecil, kusut, dan tertinggal. “Kepo,” sahutku singkat. “Hahaha! Pagi-pagi mukamu sudah macam kuali gulai belum dicuci. Mau ke mana?” Nada suaranya ringan, tapi bagiku terdengar seperti sesuatu yang tak perlu dijelaskan. Aku hendak membalas, lalu urung. “Kerja,” jawabku akhirnya. “Oh.” Ia mengangguk. Mobilnya melaju perlahan, lalu menyalipku. Sebelum pergi, ia menambahkan, “Masih sama, ya.” Kalimat itu tertinggal lebih lama daripada asap knalpotnya. Aku mengayuh lebih kencang. Di depan emperan toko kosong, aku berhenti. Sepedaku kuparkir rapi. Berganti seragam di balik pintu setengah reyot, aku kembali menjadi seseorang yang namanya jarang diingat. Ruangan kantor dingin dan asing. Aku membersihkan lantai—noda yang muncul lagi, meski baru saja dihapus. Pantulan wajahku samar di permukaan mengilap: seorang lelaki yang terus belajar bertahan, tapi lupa belajar berserah. Aku OB.Dan dunia selalu punya cara halus untuk mengingatkanku akan itu. Namun pikiranku selalu pulang pada satu nama: Ersa. Adikku. Satu-satunya alasan aku masih berani bangun setiap pagi. Sepanjang hari aku menunda ibadah. “Nanti saja,” kataku pada diri sendiri. “Malam bisa lebih tenang.” Menjelang sore, aku dipanggil. Surat itu singkat dan dingin. Tak ada ruang tawar-menawar. Dunia mencabut satu-satunya pegangan yang kupunya. Aku pulang dengan kepala kosong. Namun di depan rumah, kenyataan yang lebih kejam menunggu. Tubuh Ersa tergeletak di antara kerumunan. Kaki. Darah. Jerit. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tertinggal entah di mana. Di rumah sakit, aku baru benar-benar berdoa. Terbata, panik, penuh janji. Tuhan yang sejak pagi kutunda, kini kupanggil dengan suara gemetar. Ersa selamat—tapi kakinya tidak. Hari-hari setelahnya berjalan pincang. Hingga akhirnya hidup Ersa menyusul bagian tubuhnya yang lebih dulu pergi. Aku kehilangan segalanya satu per satu. Batuk itu datang pelan, lalu semakin sering. Darah muncul di sapu tangan. Dokter menyebut satu kata yang membuat ruangan terasa sempit: TBC. Di ranjang sempit, aku menatap langit-langit rumah. Di sanalah dulu niat-niatku tertahan. Doa-doa yang selalu kupikir bisa menunggu. “Ampuni aku, ya Allah,” bisikku. Bukan sebagai permintaan, melainkan pengakuan. Saat napasku memendek, tubuhku terasa ringan. Tak ada lagi yang perlu dikejar. Tak ada lagi yang perlu ditunda. Aku mengucap tahlil lirih. Dan ketika semuanya gelap, aku baru sadar: Doa itu tidak pernah terlambat. Akulah yang terlalu sering tidak pulang. -Selesai-
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.