
Penulis: Salma Febria Weri
Hujan turun seperti seseorang yang tahu caranya berbicara pelan. Atap seng memantulkan bunyinya menjadi irama kecil yang setia. Aku duduk di depan jendela dengan secangkir teh melati dan lilin vanila yang menyala tenang.
Api kecil itu selalu membuatku merasa dewasa. Seolah-olah selama ia menyala, hidupku juga terkendali.
Padahal biasanya tidak.
Di kantor, aku adalah atlet tangga darurat—naik turun lima lantai karena atasanku lupa berkas, lupa ponsel, lupa bahwa ia sudah membawa ponselnya. Ia selalu takut istrinya menelepon saat ia sedang tidak siap menjawab pertanyaan sederhana seperti, “Kamu di mana?”
Jadi pagi ini, ketika hujan turun dan dunia terasa melambat, aku merasa akhirnya menang.
Lalu pintu kamarku terbuka.
“Kak…”
Suara itu terdengar seperti akhir dunia versi anak delapan tahun.
“Ayam-ayam Gio mau dimasak.”
Aku menatapnya. Rambutnya berantakan, matanya merah, dan ekspresinya seperti baru menerima surat penggusuran.
“Siapa yang mau masak?” tanyaku, masih berusaha menyelamatkan suasana.
“Sela.”
Tentu saja. Hujan di luar mendadak terdengar lebih dramatis.
Kami berjalan ke ruang tamu. Sela tertidur di sofa dengan boneka paus di pelukannya. Ia terlihat seperti orang yang tidak tahu bahwa dirinya baru saja dituduh melakukan kejahatan kuliner.
“Sela,” panggilku.
Ia membuka mata setengah. “Kalau ini soal cuci piring, aku belum siap secara mental.”
“Kamu bilang ayam Gio penyakitan?”
Sela mengerutkan kening. “Aku cuma bilang bulunya bolong-bolong. Itu observasi, bukan niat jahat.”
Gio menggeleng keras. “Dia mau masak!”
Sela duduk. “Kalau aku mau masak, aku pasti sudah pegang wajan, bukan boneka paus.” Aku hampir tersenyum. Tapi sebelum perkara ini bisa diselesaikan secara diplomatis, terdengar suara ribut dari halaman belakang.
Kukuruyuk. Gedebuk. Sesuatu terguling. Kami menoleh bersamaan. Seekor ayam putih berdiri di ambang pintu belakang yang terbuka. Kurus, memang. Bulunya tidak sempurna. Tapi tatapannya penuh keyakinan, seperti tahu ia sedang dibicarakan. Ia melangkah masuk.
Pelan. Seolah ingin memastikan rumor tentang dirinya benar-benar sampai.
Gio berlutut. “Tenang, aku lindungi.” Ayam itu menatap kami bertiga. Lalu—tanpa aba-aba meloncat ke atas meja.
Lilin bergoyang. Tehku hampir tumpah. Aku refleks menangkap cangkir seperti menyelamatkan harga diri terakhirku.
“Dia marah,” bisik Gio.
“Dia cuma ayam,” jawab Sela.
Ayam itu mengepak sekali, lalu berdiri tepat di samping lilin yang apinya kini gemetar kecil. Aku menatap pemandangan itu: api kecil, ayam kurus, dua adik yang siap perang saudara, dan hujan yang terus turun tanpa peduli. Kadang ketenangan memang seperti lilin itu—terlihat stabil, padahal bergantung pada seberapa kencang angin masuk dari pintu yang lupa kita tutup.
“Aku enggak benar-benar mau masak,” kata Sela lebih pelan. “Aku cuma bercanda.”
“Jangan bercanda soal mati,” balas Gio.
Kalimat itu membuatku terdiam.
Ayam itu tiba-tiba berkokok pendek. Lalu—seolah ingin menyudahi debat eksistensial ini, ia menjatuhkan satu kotoran kecil di atas taplak meja.
Kami membeku. Sela menatapku. “Aku rasa itu opini balasan.”
Aku tidak bisa menahan tawa. Tawa kecil, tapi cukup untuk memecah sesuatu yang tadi menegang. Gio akhirnya ikut tertawa, meski masih sambil memeluk ayamnya.
Hujan di luar mulai mereda.
Aku memadamkan lilin sebelum benar-benar habis. Tehku sudah dingin, tapi tidak lagi terasa pahit. Pagi itu memang tidak sepenuhnya tenang.
Selalu ada yang tumpah, selalu ada yang panik, selalu ada ayam yang merasa reputasinya tercoreng. Namun mungkin ketenangan bukan tentang tidak adanya kekacauan. Melainkan tentang tahu bahwa di tengah ribut kecil, tidak ada yang benar-benar akan saling memangsa.
“Sudah,” kataku akhirnya. “Masukkan ayamnya. Dan lain kali, kalau mau bercanda, jangan pakai bahan utama keluarga.”
Sela mengangguk.
Gio tersenyum lega.
Ayam itu berjalan keluar dengan sikap yang hampir anggun—seperti pahlawan yang baru saja selamat dari isu tak berdasar.
Hujan berhenti.
Rumah kembali sunyi. Dan untuk beberapa menit, aku benar-benar percaya bahwa pagi ini akhirnya hampir tenang.
-Selesai-
Leave a Reply