Cerbung “Last Mission” Chapter 3

Tulisan

Penulis: Ahmad Rizaldi Wira Yuda Capther 3 Sekarang mereka telah sampai di dinding terluar laboratorium. Iva       : Bang dimana laboratorium? Zein     : Laboratorium ini dilindungi empat lapis dinding baja dan setiap antara dinding ada perkampungan monster! Iva       : Monster, monster apa itu yang akan kita hadapi bang? Zein     : Di lapisan pertama ada perkampungan kucing ninja. Iva       : Dua ekor kucing kembar hitam, putih sudah membantai pasukan militer terbaik abad ini. Zein     : Tidak, mereka setinggi manusia pada umumnya dan mereka bisa mengendalikan petir. Iva       : Owh, kucing yang hebat. Zein     : Di lapisan kedua kita akan menemukan monster burung api yang mengeluarkan lava di setiap kepakan sayapnya, sedangkan di lapisan ketiga akan menemukan komplotan monster golem berlian yang kekuatannya bisa menghancurkan gunung besi dalam sekali pukul, di lapisan inti kita akan menemukan monster naga berkepala lima puluh yang mengendalikan gravitasi, menembak petir, memanipulasi cuaca dan lapisan inti kita akan menemukan monster raksasa berkepala delapan puluh dan bertangan seratus enam puluh, tubuhnya sebesar gunung, dia mengendalikan besi, memanipulasi tubuh dan bisa berpindah-pindah. Iva       : Sangat mengerikan ya!! Merekapun mulai menyusuri sekeliling tembok lapisan pertama untuk mencari akses masuk ke dalam tembok. Iva       : Aku menemukannya!! Zein melihat Iva menemukan sebuah pintu besi. Zein     : bagaimana cara kita masuk? Tiba-tiba ada sebuah drone berbentuk mata yang muncul entah dari mana. Drone tersebut memindai Zein dan Iva. ‘Akses di terima.’ Tiba-tiba pintu terbuka, Zein dan Iva terkejut melihat perkampungan luas yang terbentang luas. Zein     : Apa? Perkampungan? Iva       : Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, ayo kita berkamuflase. Zein dan Iva mengaktifkan mode kamuflase dan memasuki perkampungan tersebut. Suasana perkampungan itu seperti suasana Jawa kuno, ada kucing yang sedang berjual beli, ada kucing yang sedang belajar dan masih banyak lagi. Zein dan Iva mencari penginapan untuk menginap sementara disini, mereka melihat penginapan yang mirip seperti kandang kucing. Zein     : Kenapa mereka tidak bisa membuat rumah seperti rumah manusia saja? Iva       : kan mereka kucing. Zein     : Oh iya!!   Setibanya di penginapan Zein dan Iva disambut oleh satpam kucing, mereka menginap disana hanya semalam, ketika mereka sedang berjalan di jalanan desa, tiba-tiba ada seekor kucing yang mencium bahwa mereka manusia, Zein dan Iva akhirnya terpaksa melawan para kucing itu, di saat pertarungan yang sengit tiba-tiba datang dua kucing kembar berwarna hitam dan putih, kucing berwarna putih bernama Shinuri, sedangkan Shinura nama kucing yang berwarna hitam. Shinura            : Manusia! Akan aku makan kalian dan kujadikan kepala kalian sebagai hiasan dinding.   Iva dan Shinura mengambil ancang-ancang untuk bersiap berduel, Shinura menggunakan kekuatan petirnya untuk menambah kecepatannya, dia melesat ke arah Iva dengan kecepatan bagaikan petir. Dengan sombongnya Shinura berkata. Shinura            : Kau tidak akan bisa menandingi kecepatanku. Iva berusaha fokus, dan akhirnya ia bisa membaca pergerakkan Shinura. Shinura yang melihat itu sangatlah terkejut. Shinura            : Tidak mungkin?!   Ditengah-tengah kebingungan Shinusa tiba-tiba Iva sudah ada di belakangnya dan tiba-tiba kepala Shinura dan badannya pun terpisah, Shanura yang melihat itu langsung mengeluarkan kekuatan penuhnya. Shanura          : Kalian tidak akan ku ampuni. Shanura mengeluarkan elemen petir berbentuk naga. Shanura          : Bersiaplah!! Tapi sebelum Shanura melepaskan kekuatan kekuatan dahsyat itu tiba-tiba kepalanya telah terpisah dari tubuhnya. Zein                 : Terlalu mudah.   Setelah kekalahan Shinura dan Shanura, dari jasad mereka keluar kekuatan petir yang menyerap kedalam tubuh Zein dan Iva mengaktifkan baju anti panas, ketika mereka sedang mengarungi lautan lava tersebut, mereka melihat manusia-manusia yang telah menjadi batu, zein pun melihat salah satu batu dan melihat papan nama orang tersebut ‘Baqi’ Zein tersadar bahwa itu nama asisten Gustov. Iva       : Lihat itu bang! Zein melihat seorang manusia yang terantai di lava. Zein     : Siapa itu! Zein pun melihat orang tersebut dan melihat nama orang tersebut ‘Steven Runolv’ dia dalah paman Zein dan Iva. Zein     : Paman, kenapa paman bisa seperti ini? Steven : jangan mendekat.   Tiba-tiba Steven berubah menjadi buruh yang meneyerupai elang yang berselimut lava dan dia sekarang bernama Baldura. Baldura: kalian tidak akan bisa lolos dariku! Baldurapun mengembuskam nafas lahar ke arah Iva, namun Zein langsung melindungi Iva dengan perisai petir. Zein     : Iva cepat lari aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi.   Iva pun merespon dengan cepat dia langsung lari dari sana, Perisai pun hancur, untung Iva sudah menghindar, Baldura pun marah dengan mengeluarkan kekuatan penuh. Saat dia sedang asik menghujani Zein dan Iva dengan bola lava panas, ternyata Zein sudah berpindah ke belakang punggung Baldura, menusukkan pedangnya ke punggung Baldura, Baldura pun teriak sekencangnya, suara penderitaan. Tubuh Baldura meleleh dan terpisah dari tubuh Steven, tubuh Steven yang telah terpisah dari Baldura terjatuh dan tenggelam ke dalam lava. Zein pin menangis dengan histeris ketika melihat tubuh sang pamannya tenggelam. Pintu lapisan ketika pun terbuka. Zein dan Iva pun segera masuk dan melihat daratan luas yang terbuat dari berlian. Iva       : Wah Indah sekali tempat ini! Zein     : tetap waspada Iva!   Setelah Zein mengatakan itu tiba-tiba beberapa berlian bergerak dan membentuk satu golem berlian raksasa yang bernama Hito. Hito      : Manusiaaa!!!   Hito segera memukul tanah yang terbuat dari berlian, dan tiba-tiba berlian itu terbang ke angkasa dan berubah menjadi tombak-tombak tajam yang mengarah langsung ke arah Zein dan Iva, melihat hal itu maka dia langsung mengeluarkan dua pedang dan menangkis seluruh tombak berlian itu. Hito yang melihat itu langsung menyerang Zein dengan ganas seperti hewan buas, pertarungan seru pun terjadi diantara mereka. Namun Zein tetap bisa mengungguli pertarungan ini, Zein pun memukul Hito dengan tinjunya yang sudah dilapisi energi lava dan petir yang membuat Hito langsung hancur seketika. Berlian pun berjatuhan dan menyatu dengan senjata mereka. Pintu lapisan ke empat pun terbuka. Zein dan Iva langsung masuk dan melihat lautan yang luas dan berkabut, sehingga gelap, Iva seketika menggabungkan kristal dan listrik menjadi sebuah bola yang bercahaya. Zein     : Bagus Iva! Iva       : Monster apapun ayo kita habisi bersama!   Ketika mereka tengah bersemangat Zein dan Iva tiba-tiba terdengar raungan suara yang mengerikan. Zein pun tahu bahwa itu adalah suara Tyrante monster yang akan mereka hadapi di lapisan ini. Zein yang mendengar itu langsung pergi ke sumber suara dan melihat monster naga berkepala lima puluh, bersayap seratus yang di kelilingi petir kuning, mosnter itu bernama Tyrante, monster kuno yang tersegel di bawah laut. Awalnya monster ini digunakan sebagai sumber energi tapi setelah kehancuran ‘Tunel Gods’ monster ini pun terlepas. Tyrante: Hmmm. Kalian manusia yang kuat cocok sekali menjadi makananku! Setelah mengatakan itu Tyrante membuat gravitasi di sekitar Zein dan Iva menjadi berat mereka seperti ditarik ke bawah. Zein     : Gawat aku tidak bergerak! Tyrante sudah menyemburkan nafas petirnya ke arah Zein. Iva       : Kakak!   Untung saja Zein masih sempat menyelimuti dirinya dengan tiga elemen yang telah dia peroleh, Iva yang mengetahui kakaknya masih hidup, langsung saja melesat ke arah monster tersebut dan berhasil memotong tiga puluh sayapnya, yang membuat monster itu kesakitan. Tyrante pun terbang ke langit dan mengeluarkan  dan mengeluarkan kekuatan penuhnya, membuat ribuan petir menyambar kea arh Zein dan Iva. Zein mengaktifkan pelindung kristal. Zein membalas serangan itu dengan membuat ribuan tombak gabungan kristal, lava dan petir yang langsung menjangkau dan menjatuhkan monster itu, Zein segera menghujaniku dengan laser listrik dan lava yang membuat monster itu langsung musnah seketika. Pintu lapisan inti pun terbuka. Zein dan Iva langsung masuk kesana dan melihat seorang raksasa tinggi bagaikan gunung, raksasa itu langsung memukul Iva dan membuat terpental jauh. Zein yang melihat itu langsung masuk kesana dan melihat seorang raksasa tinggi bagaikan gunung, raksasa itu langsung memukul iva dan membuatnya terpental jauh, Zein yang melihat itu langsung menebas kaki raksasa itu, raksasa itu mengendalikan besi di sekitarnya, ia membuat pedang raksasa dan menebas tangan kiri Zein sampai putus. Namun Zein belum putus asa, dia menggunakan seluruh kekuatannya dan membuat serangan tombak energi raksasa yang langsung menembus tubuh raksasa itu karena serangan itu membuat raksasa menjadi kehilangan nyawanya, setelah mengalahkan raksasa itu, Zein menuju ke tempat Iva yang tengah pingsan. Zein     : Iva, Iva, Bangun! Bangun! Setelah 5 menit berlalu Iva akhirnya terbangun, Iva terkejut dengan kondisi sang kakak. Iva       : Kakak? Kenapa tangan kakak bisa begini? (Ucap Iva dengan suara lirih dan seketika menangis.) Zein     : Tidak apa-apa, yang lebih penting sekarang kita harus masuk ke laboratorium sekarang.  (Ucap Zein dengan nada tenang dan tegas.)   Mereka pun masuk ke labolatorium dan melihat ‘Tunel Gods’ yang masih hidup, zein mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya dan memasukkannya kelubang kunci Tunel Gods, sengan tertancapnya kunci itu maka Tunel Gods pun tertutup, sebelum Tunel Gods tertutup, seorang lelaki keluar dari sana. Zein                 : Tuan, namamu siapa? Gustov             : Saya Gustov Runolv. Zein mendengar itu dan langsung menangis dan memeluknya, begitupun Iva. Zein dan Iva    : Ayah!!! Gustov            : Apa kalian Zein dan Iva? Gustov membalas pelukan itu dengan hangat. Gustov                        : Maaf, maaf ayah tidak bisa menemani kalian, tidak bisa mendidik kalian, tapi kalian sudah tumbuh sehebat ini, ayah bangga. Maaf selama 23 tahun ini kalian bertahan tanpa ayah, dan ibu sudah tidak disini lagi. Zein dan Iva    : Tidak apa-apa ayah, sekrang kita bisa hidup bersama. Tiba-tiba tubuh Gustov memudar. Gustov            : Anak-anakku, sepertinya ayah tidak bisa menemani kalian. tempat ayah bukan disini lagi. Selamat tinggal, dan jaga diri kalian, anak-anakku. Zein dan Iva menangis sambil memeluk tubuh Gustov yang mulai menghilang. Zein dan Iva mengucapkan  perpisahan kepada ayahnya. Zein dan Iva   : Selamat tinggal ayah, walaupun pertemuan kita ini hanya sebentartapi itu sudah cukup mengisi kekosongan lobang di hati kami, Zein dan Iva melambaikan tangan ke langit sebagai tanda perpisahan. -Selesai-    
Tags :

Tulisan

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.