Cerbung “Last Mission” Chapter 2

Uncategorized

Penulis: Ahmad Rizaldi Wira Yuda Capther 2 Dua hari sejak Zein meninggalkan rumah. Ditengah perjalanan Zein merasa lapar, ia pun berhenti di sebuah tempat makan. Disaat Zein akan turun tiba-tiba terdengar suara dari belakang tempat duduk seperti suara perut keroncongan Kruk,kruk. Mendengarkan itu Zein menengok ke belakang dan melihat Iva yang sedang memegangi perutnya. Zein     : Iva!? Iva       : Eh! Bang Zein.   Zein yang ingin marah pada Iva mengurungkan niatnya karena mendengar suara perut Iva yang semakin menggelegar. Zein     : Ya sudahlah, Ayo makan. Iva       : Oke. Zein     : Tapi tunggu dulu, abang belikan. Iva       : Oke.   Setelah menunggu sekitar 5 menit, akhirnya Zein datang menawarkan makanan untuk porsi dua orang. Setelah makan Zein bertanya kepada Iva, alasan dia bisa ada disini bersamanya. Zein     :Iva kamu kenapa bisa ada disini? Iva       : Mengikuti abang! Zein     : Bagaimana caranya? Iva       : Aku menyelinap ke mobil abang.   Zein pun hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap adiknya, merekapun melanjutkan perjalanan. Iva       : Kita akan pergi ke mana, bang? Zein     : Kita akan pergi kerumah donatur proyek Tunel Gods, Yaitu pak Ryan Banshen dia adalah Taipan terbesar dalam abad ini. Iva       : Ayo berangkat! Rumah Raipan Ryan Banshen berada di kota Trium. 433 Km dari kota Alpherion. Setelah delapan jam perjalanan, Zein dan Iva akhirnya sampai dirumah Taipan itu. Terlihat rumah putih besar, berpagar tinggi kira-kira 3 meter dan penjaga robot yang berjumlah lima puluhan. Zein pun memencet bel rumah itu. Ting tong.   Ada seorang pengawal keluar yang datang kepada Zein dan Iva sambil menodongkan pistol laser. Pengawal: Siapa kalian berdua dan apa keperluan kalian kesini? Zein     : Perkenalkan saya Zein Runolv dan ini adik saya Iva Runolv, kami anak dari Gustov Runolv dan Hae In Hee, kami kesini ingin bertemu tuan Banshen. Pengawal: Baik, tunggu sebentar disini. Sang pengawal masuk kedalam rumah sang Taipan, setelah lima menit berlalu Zein dan Iva menunggu, terlihat karpet merah terbentang, banyak pengawal yang berdiri layaknya pagar betis, dari dalam rumah hingga keluar seorang laki-laki tinggi, berkulit putih, bermata biru, berambut hitam legam, laki-laki itu menghampiri Zein dan Iva. Zein     : Apakah anda tuan Ryan Banshen? Banshen: Benar aku Ryan Banshen, lalu kenapa kalian kemari? Zein     : Jadi tuan Bashen, saya ingin berbicara sesuatu. Banshen: Apa itu? Zein     : Tentang kecelakaan proyek Tunel Gods Setelah Zein menyatakan hal itu, ada seorang yang memukul kepala Zein dan Iva dari belakang, sehingga membuat Zein dan Iva tidak sadarkan diri seketika. Wush Wajah Zein disiram oleh air, Zein yang telah sadar dari pingsannya melihat dirinya dirantai di tiang besi dengan rantai yang sebesar rantai gajah di ruangan yang penerangannya hanya dengan satu lampu, Zein melihat banshen yang berdiri dihadapannya dan juga melihat Iva yang pingsan dan diikat dalam keadaan yang sama dengan dirinya. Zein dengan nada marah berkata kepada Banshen Zein     : Banshen!! Kenapa Kau melakukan ini semua? Kau Iblis! Banshen: Hahahahha!! Mungkin kau benar aku iblis, tapi ayahmu lebih iblis!   Mendengar keributan itu, Iva pun akhirnya sadar dari pingsannya. Banshen: Dengan kejamnya dia merebut istriku dari ku, kebahagianku dan keluargaku, karena itu anaknya harus membayar dosanya.   Usai itu Banshen pergi keluar dan menutup pintu besi tempat Zein dan Iva di kurung, setelah perginya Banshen dari ruangan itu tiba-tiba beberapa pintu terbuka dan keluar hewan buas seperti harimau, beruang dan singa. Zein melihat keadaan genting ini, berusaha menghancurkan rantai tersebut, dengan kekuatan yang luar biasa, dia berhasil, setelah melepaskan dirinya, Zein menuju Iva untuk membantunya, mereka berdua bersama-sma melawan hewan buas akhirnya mereka memenangkan pertarungan itu, namun setelah mengalahkan para hewab buas masih ada satu lagi rintangan yang harus dilakukannya yaitu melewati pintu besi setebal dua meter, melijat itu Iva membelah pintu itu dengan kerua jarinya. Zein yang melihat itu menjadi senang dan terpukau dengan perkembangan kemampuan sang adik. merek pun pergi keluar dari ruangan itu dengan mengendap-ngendap melewati lorong di rumah besar itu, setelah melewati beberapa lama mereka sampai di sebuah ruangan, di ruangan itu tersimpan berbagai senjata. Zein     : banyak sekali senjata disini.   Saat memperhatikan ruangan itu, dia menemukan cetak biru Tunel Gods dan peta menuju kesana. Sebelum pergi Zein mengambil dua pedang dan terbuang dari Fium logam terkuat dalam sejarah dan Iva mengambil cambuk tajam yang terbuat dari fium juga. Setelah mengambil peralatan yang dibutuhkan, Zein dan Iva bersiap untuk pergi dari rumah itu. Ketika akan melewati gerbang rumah Taipan itu, Zein dan Iva merasa sangat bahagia karena telah melewati rintangan. Namun tiba-tiba terdengar tepuk tangan dari arah belakang Zein dan Iva, mereka terkejut karena Bunshen sudah berada di belakang mereka, bersama dengan pasukan robotnya Bunshen: Tak kusangka kalian bisa lolos dari trempat khusus itu. Zein yang mendengar itu pun melihat ke arah Iva dan berkata. Zein     : Kau siap Iva?   Iva yang mendengar itu langsung menjawab dengan lantang bagaikan terompet kehancuran. Iva       : Aku siap!!! Zein dan Iva mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Zein menebas robot-robot tersebut dengan mudah layaknya kertas. Zein     : Terlalu mudah, apakah ini pasukan robot yang dapat menguasai satu benua? Zein melihat Iva yang sedang berputar-putar layaknya gasing, yang membelah robot-robot tersebut. Iva       : Aduh pusing!! Tapi ini terlalu mudah!! Kurang dari 30 menit, dua ribu robot telah terbantai. Zein dan Iva telah selesai melakukan pembantaian robot, menghampiri Bunshen tanpa ekspresi. Zein     : Pak Banshen, saya ingin membuat kesepakatan, akan saya biarkan kau hidup, berikan aku peta laboratorium. Banshen yang tidak ada pilihan lagi dia pun menyentujuinya Banshen          : ini petanya! Zein     : Keputusan yang tepat.   Setelah menerima peta tempat laboratorium berada, Zein memanggil mobil terbangnya. Zein     : Ayo kita berangkat Iva. Iva       : Ayo!! Untuk ayah dan ibu!   Mereka pun meninggalkan rumah Taipan Ryan Banshen menuju selatan. Zein     : Iva ini adalah perjalanan yang jauh dan susah, dan mempertaruhkan hidup dan mati, apa kamu yakin akan tetap ikuT? Iva       : Aku akan tetap ikut, ini kan untuk ayah dan ibu.   Zein mengambil ekspresi Iva yang penuh dengan kegembiraan dan keberanian, Zein pun merasa senang, Zein terbayang jika ayah dan ibunya masih hidup, Zein terus menangis karena membayangkan kebahagian yang akan didapatkan, Iva       : Kenapa abang menangis? Zein     : Tidak apa-apa. Ayo kita berjuang bersama demi ayah dan ibu. (Zein mengusap kepala Iva dengan lembut)   Mobil melesat maju menuju lokasi yang ditunjukkan oleh peta. -Bersambung-
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.