Kisah Nyata Inspiratif Terpilih dari Kelas VIII D

Uncategorized

Hai teman-teman ini ada cerita inspirasi yang terpilih, dan semoga kamu suka dan dapat menginspirasi dari kisah-kisah nyata ini. Menolong nenek Ke Pasar Menjual sayur Dulu saat saya masih umur 7 hingga 9 tahun atau sedang duduk di kelas 2 hingga kelas 4. Saya sering membantu nenek ke pasar untuk menjual sayur yang ditanam oleh nenek saya, Saya menjual nya di pasar Aur Kuning atau di pasar Bawah yang ada di Bukittinggi, menjual dari pagi hingga jam 3. Macam-macam sayur yang dijual nenek adalah: Sayur bayar Sayur Kol Sayur Wortel Sayur Toge Tomat Cabe Kangkung Bawang Bombay Bawang merah dan putih Saya ikut menjual itu semua, saya mendapatkan uang dari hasil jualan itu, dan uang itu saya kasih ke nenek. Setelah menjual itu nenek sering berkata kepada saya dengan ucapan “Terima Kasih telah membantu nenek dengan susah payah.” “Iya nek, kasihan kalau nenek jualan sendirian.” dan saat saya dan nenek akan pulang, saya dibelikan makanan oleh nenek.” Ketika saya kembali pulang, semua itu saya ceritakan kepada kedua orang tua saya, Kunci dari kisah ini adalah ayo menolong dengan ikhlas dan jangan mengharapkan imbalan apapun.   Pesan: Kepada teman-teman, mari kita belajar menjadi pribadi yang peduli, ringan tangan membantu, dan tidak pernah lupa bersyukur atas perjuangan orang tua maupun kakek-nenek kita. Hargai keringat mereka, doakan mereka selalu, dan bantu sebisa mungkin, walau hanya dengan hal kecil.     Berniaga Ketika saya berada di kelas 4 SD, ketika itu sedang libur semesters 1. Saya menolong nenek saya subuh-subuh sekitar jam 06:00, saya menolong nenek untuk berjualan kerupuk. Awalnya saya merasa menjual kerupuk itu mudah, ternyata saat saya mencoba menjual kerupuk terasa melelahkan, terasa panas, terkadang sepi pembeli, ketika itu saya sangat menyadari kalau bekerja itu tidak segampang yang dikira. Dihari lainnya, saya juga membantu bunda untuk membungkus kerupuk dan mengantarkan ke warung, disitu rasanya juga capek. Pesan: Sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Pernahkah kita membayangkan betapa beratnya perjuangan orang tua kita dalam mencari nafkah? Saya sendiri pernah merasakannya, waktu masih kecil, saya membantu nenek berjualan kerupuk subuh-subuh, juga membantu bunda membungkus dan mengantarkan dagangan ke warung. Awalnya saya kira itu hal yang mudah, tapi ternyata sangat melelahkan. Panas, capek, kadang tidak ada pembeli, semua itu membuat saya sadar: bekerja itu tidak semudah yang dibayangkan. Dari pengalaman itu, saya belajar satu hal penting,  kita harus bersyukur dan selalu ingat perjuangan orang tua. Mereka banting tulang, berpanas-panasan, dan sering menahan lelah hanya untuk memastikan kita bisa sekolah, makan, dan hidup layak. Sebagai santri, tugas kita bukan hanya belajar ilmu agama dan dunia, tapi juga menjaga akhlak dan hati agar selalu bersyukur. Jangan pernah mengeluh atas sedikitnya uang jajan atau hal-hal kecil lainnya. Justru kita harus membalas pengorbanan orang tua dengan menjadi anak yang taat, rajin belajar, dan selalu mendoakan mereka. Ingatlah, setiap suapan nasi yang kita makan adalah hasil dari kerja keras mereka. Maka, jangan sia-siakan.   Ayah Aku Janji Tidak Akan Malas Lagi Pada saat saya kelas 4, saya ingat sekali ada hal yang paling berkesan pada hidup saya. Ketika itu saya tidak ingin sekolah karena saya malas dan orang tua saya mengizinkan untuk tidak sekolah. 6 jam berlalu hari sudah menunjukkan pukul 12 siang, setelah selesai shalat zuhur. Ayah saya pulang dari mengajar di SMP di dekat rumah saya, ayah saya berangkat memakai motor, dan saya lihat kaki ayah saya ada luka. “Yah, kaki ayah kenapa?” “Waktu jalan pulang tadi, ayah terjatuh dari motor.” mendengar ucapan itu, saya pun menangis, pada esok harinya saya memilih untuk semangat sekolah.   Pesan: Dari kisah ini, saya ingin mengajak teman-teman semua: jangan sia-siakan pengorbanan orang tua. Jangan malas menuntut ilmu. Kita tidak pernah tahu seberapa besar pengorbanan mereka di balik setiap langkah kita. Semoga kita menjadi anak-anak yang selalu bersyukur, semangat menuntut ilmu, dan tidak pernah lelah mendoakan orang tua kita.   Ketika Aku Mengira Sendiri, Allah Tunjukkan Siapa Aku Kisah yang berkesan dalam hidup saya adalah dulu ketika saya berumur 4 tahunan, saya sudah merasakan keluarga yang tidak lengkap, karena orang tua saya bercerai, waktu umur itu saya berpisah dari ayah, ibu, kakak, adik semuanya pergi meninggalkan saya sehingga aku tinggal bersama tante dan paman dalam keadaan miskin, di kampung. Saya sedih melihat keadaan paman dan tante saya yang seperti itu, saat saya ingin menolong mereka tapi mereka menolak membantu dan mereka berkata “Bang ketek baru, banyak pulo panykik beko, baraja se bang elok-elok alah di kami tuh.” Saya hanya sekolah dan selalu dalam peringkat 3 besar, ketika kelas 5, bahkan saya termasuk pelaksana pramuka terbaik di kecamatan. Suatu saat saya mendapat sebuah permasalahan. Saya bingung karena ada biaya untuk khatam Al-Qur`an, saya berkata. “Ndak usah khatam, takut memberatkan tante dan paman.” Ditengah-tengah kebingungan itu, sekolah membantu saya melunasi uang khatam 100% tanpa hutang karena sekolah melihat prestasi saya. Disekolah dan kecamatan saat saya khatam saya mendapat harapan 4. Saat saya mendapat surat kelulusan, saya masuk ke dalam 30 besar nilai ujian akhir sekolah tertinggi di Kabupaten. Meskipun nilai saya bagus tapi saya bingung bagaimana cara saya melanjutkan sekolah, di tengah-tengah hal itu saya dipanggil oleh keluarga saya yang berada di kota, awalnya saya mengira hanya memiliki keluarga di kampung, di tengah perjalanan saya berpikir pasti keluarga saya di kota juga senasib seperti saya, ternyata saya salah, keluarga saya merupakan salah satu keluarga yang disegani di kota, salah satu orang terkaya di kota itu. Saya dibiayakan masuk sekolah ke Pondok Pesantren ABI Center ini, senang hati saya, karena akhirnya saya tidak perlu mengkhawatirkan lagi masalah uang, saya juga dibelikan Hp oleh nenek, melalui hp itu saya mulai menghubungi nomor-nomor keluarga, saya bisa mendengar suara, melihat wajah keluarga saya kembali, saya menangis karena tidak bisa menahan haru dan akhirnya beban yang selama ini saya rasakan Allah angkat.     Teman, Rumah Kecil, dan Semangat Besar Dulu waktu kelas 4 SD, saya punya teman sekolah, masa itu saya sangat malas saaat sekolah, suatu hari, tiba-tiba ia pindah sekolah, ketika saya datangi ke rumahnya, ana terkejut ternyata ia tinggal di sebiah rumah kecil, orang tuanya hanya pedagang kecil, ia ternyata berhenti sekolah karena tidak sanggup membayar SPP, setiap hari  ia selalu membantu orang tuanya bekerja. Setelah 2 tahun tidak sekolah, ia kembali melanjutkan sekolah kelas 4 sementara saya sudah kelas 6, ia pun tidak lanjut di sekolah itu lagi, ia pindah ke sebuah SDN di dekat rumahnya, saya sering datang ke rumahnya, ia anak baik juga jujur, orang tuanya juga baik, itu yang membuat saya jadi suka bermain ke rumahnya, setelah melihat kondisinya, saya jadi lebih rajin dan belajar.   Kerja Keras demi Senyum Baru Saat saya termenung di meja makan ketika kelas 4, saya berfikir ingin menambal gigi saya yang patah, dan saya menyampaikan hal itu kepada kedua orang tua saya, orang tua saya menerima permintaan saya. Pada siang harinya saya mulai menolong orang tua saya untuk memanen jeruk untuk bisa dijual untuk menambal gigi saya. Selesai dijual dan mendapatkan uang, dari situlah saya merasakan lelah bekerja, dan keesokan harinya saya pergi ke dokter gigi untuk menambal gigi, setelah di tambal, sayapun mulai semangat untuk belajar setelah itu.   Aku dan Cita-Cita Membawa Keluarga ke Surga Dulu ketika saya kelas 3 SD, saya pernah pergi jualan kerupuk sanjai dengan ayah saya, pergi bersama motor hingga sampai disana saya menolong untuk membawa barang-barang, ketika sudah selesai saya dan ayah saya duduk di samping jualan sambil menunggu pelanggan, setelah sekian lama saya menunggu, akhirnya beberapa orang pun mulai berdatangan untuk membeli jualan ayah saya, ketika itu saya melihat saja, karena belum pandai untuk menolong ayah saya, namun banyaknya pelanggan ayah saya membuat ayah saya kelelahan, tetapi dia terus bekerja. Berkembangnya saya, saya menyadari sebelumnya kata saya bekerja itu menyenangkan, tapi ternyata bekerja itu tidak semudah itu, bekerja itu butuh perjuangan dan kerja keras untuk mendapatkan apa yang kita kerjakan. Hari-haripun berlalu, sekarang saya kelas 6 SD, ketika libur, saya juga sering menolong orang tua saya bekerja. Sebelumnya saya akan mengenalkan rutinitas keluarga saya, ayah saya pedagang, ibu saya guru, nenek saya berkebun. Ketika saya melihat ayah, ibu, nenek saya bekerja untuk menghidupi keluarga terlihat sangat susah. Dulu ayah saya pernah cerita masa kecilnya sangat susah sehingga saya termotivasi dan berniat untuk serius belajar, untuk membahagiakan orang tua, lalu saya memutuskan untuk membahagiakan orang tua, lalu saya memutuskan untuk lanjut ke sekolah pondok untuk mendalami agama. Saya bercita-cita menjadi orang sukses dan terkenal dengan ilmu agama dan bisa membawa keluarga ke dalam surga. Satu Keluarga, Satu Perjuangan Saat minggu pagi saya biasanya pergi ke padar bersama ibu untuk membantunya membawa barang belanja. Ibu pernah bilang “Kalau setiap minggu ibu membawa ini semua.” Barangnya ada sayuran, ikan, tahu, tempe, dan lainnya. Biasanya saya juga membantu ibu menyapu dan mengepel rumah, saat setiap pulang dari pondok. Setelah kembali lagi saya ke pondok maka yang melakukan itu semua adalah ibu sendirian, dulu kakak saya juga membantu ibu, tapi sekarang kakak sudah berkeluarga. Hari-hari saya melihat ayah saya bekerja setiap hari. Pagi menjaga kedai atau pun ibu juga yang terkadang menjaga kedainya karena ayah saya pergi ke sawah hingga sore, saat magribnya ayah saya biasa mengajak saya ke masjid dan shalat isya pun begitu. Kadang setelah shalat isya ayah mengajak saya membeli barang yang akan dijual di kedai, ayah pernah bilang “Semenjak kamu mulai mondok, ayah dan ibu berpuasa senin dan kamis.” Mendengar itu saya jadi lebih semangat untuk terus mondok. Ayah atau ibu biasa membangunkan saya untuk shalat subuh, ketika di pondok saya mulai mandiri. Saya 5 bersaudara, saya anak ke 4, anak pertama uda saya yang biasa mengajarkan hal-hal yang baik, sekarang bekerja di Batam. Uda saya anak yang berbakti. Anak kedua kaka saya yang selalu menyuruh saya untuk membantu membereskan rumah, sekarang kakak tinggal di jakarta, kakak juga anak yang shalihah. Anak ketiga abang saya selalu menyayangi saya dan tat beribadah, sekarang abang  bekerja di Semarang.   Selesai  
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.