Cerita Bersambung “Yang Tak Pernah Terdata” Chapter 2

Uncategorized

DUG. “Aww, ehh, i-ini dimana?” Mata Marie melihat di sekelilingnya, tempat ini asing baginya. Tiba-tiba segerombolan anak-anak berlari melewati dirinya. “Nah?! Apa ini? Aku tembus Pandang?!” Ya. Saat ini tubuh Marie bak sebuah hantu yang ada di film-film, hanya tersisa bayang-bayang. Ketakutan Marie meningkat, tiba-tiba saja semua lampu dimatikan, kecuali 1 ruangan yang dalam kondisi redup. Marie berjalan menuju ruangan itu. Ia berjalan dengan mudah karena ia bisa menembus dinding-dinding pembatas kelas, Di salah satu ruangan, ia melihat sebuah tulisan. “Pondok Pesantren H. Hendri.” Semakin lama, semakin jelas ruangan itu. Kini, Marie sudah ada di ruangan itu. Di dalamnya banyak orang-orang yang duduk membuat sebuah lingkaran dan tiba-tiba. ………..Krrrkk…… Bulu kuduk Marie berdiri, ketika sebuah mayat dibawa dan diletakkan di tengah-tengah lingkaran itu. “ Baiklah santriwan dan santriwati. perkenalkan, ini Sindy, mantan santriwati kita yang bunuh diri tanpa sebab yang tidak diketahui. Kejadian ini terjadi pada tahun 2004, untuk mengetahui sebabnya. Kita akan melaksanakan sebuah ritual yang pernah kita pelajari, ritual membangunkan mayat.” DUG. Sindy? 2004. Ritual membangunkan mayat? Semuanya melayang-layang di benak Marie. Kemudian sang pembina melanjutkan perkataannya. “Baiklah kita mulai, Ikuti sesudah saya.” “Dengan izin Tuhan.” “Dengan izin Tuhan.” Ikut para orang-orang disana. “Izinkan kami.” “Izinkan kami.” “Membangkitkan saudari Sindy.” “Membangkitkan saudari Sindy.” “Demi mengetahui apa yang tidak kami ketahui.” “Demi mengetahui apa yang tidak kami ketahui.” TUSS Tiba-tiba saja lampu-lampu yang melingkari mereka mati, dan muncul suara-suara aneh. Kini, Marie dipenuhi dengan rasa takut. Ia menutup matanya dan tiba-tiba saat ia membuka matanya, ia berada di ruangan lain, dengan 3 orang di dalamnya, salah satunya yaitu pembina ritual semalam. Salah satu dari mereka sedang duduk, tampak di papan namanya dia adalah ‘Hendri’ Nama dari pimpinan pondok ini, dan satu lainnya adalah perempuan, Perempuan itu membelakangi Marie, Marie melangkah sedikit maju, ketika itu Marie melihat wajah perempuan itu, ternyata……….. wajah itu sangat mirip dengan wajah Sindy saat kecil. Apakah ritual ini berhasil? Apakah Sindy memang sudah dibangkitkan? Tiba-tiba sang pemimpin pondok berkata. “Bagaimana Lilly? Apakah anti setuju untuk menjadi Sindy?” Tanya Hedri. “Hmmm, aku masih ragu, sampai kapan, Ustadz?” Jawab Lily Ragu. “Sampai misi ini selesai. Bagaimana? Kami akan memberi banyak uang.” Lily tidak bisa menolaknya. Akhirnya ia menerima tawaran itu. “Baiklah aku terima, tapi bagaimana dengan dokumen-dokumen aku? Semuanya bertuliskan nama ku, bukan Sindy.” Ucap Lily mempertimbangkan kembali. “Biar kami urus, Jika misi ini selesai, kami akan mengabarimu.” Setelah berbincang-bincang dengan Lily, akhirnya mereka sepakat untuk mengganti segala data-data Lily menjadi Sindy. Mendengar itu Marie terkejut, ternyata selama ini adalah dokumen-dokumen tentang Sindy itu palsu. Setelah rapat singkat itu, pembina ritual tadi keluar dari ruangan tersebut dan kembali mengumpulkan para santri di sisi lain Lily sedang bersiap-siap untuk berakting dalam waktu lama, ya, Lily sedang bersiap untuk menjadi Sindy. “Baiklah santriwan dan santriwati, inilah Sindy kita. Dia telah kembali!” Teriak pembina ritual di tengah seluruh santri, banyak dari mereka yang tidak mempercayainya, namun hal ini mereka saksikan di depan matanya sendiri. Lalu tiba-tiba Marie mendengar suara seseorang yang meminta tolong. “Tolong Marie!” Lirih suara itu, tiba-tiba….. Dug……… Sebuah buku mengenai kepala Marie, dia memejamkan matanya karena menahan rasa sakit yang dia rasakan, lalu Marie tiba-tiba sudah kembali ke ruangan Alex. Ruangan itu telah mengungkapkan yang selama ini disembunyikan. Tiba-tiba…….. -Bersambung-
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.