Cerita Bersambung “Jalan Terbaik” Chapter 2

Uncategorized

Penulis: Ahmad Rizaldi Wira Yuda Chapter 2   Sudah lama sejak aku meninggalkan rumah, mobil kami sudah jalan selama dua jam lebih, aku yang dari tadi hanya diam memberanikan diri bertanya kepada pak Arifin. “Pak Kita mau kemana dan dimana saya mondok nanti pak?” Tanyaku “Kita akan ke bandara untuk pergi ke Kalimantan dan kamu akan mondok di pesantren At Tauhid Islamiyah, disana ada ustadz kenalan bapak di sana.” Jawab pak Arifin, kemudian mobil menepi, kami berhenti disebuah restoran. “Pak, kenapa kita turun disini, ini tempat apa, pak?” Aku bertanya lagi kepada pak Arifin. “Ini namanya restoran, disini tempat makan.” Jawab pak Arifin, lalu mengajakku masuk ke dalam restoran. Kemudian kami duduk di salah satu meja dekat jendela. Pelayan datang dengan ramah, memberikan menu yang akan dipesan. Bapak mau pesan apa” Tanya pelayan. “Nasi kuning dua porsi, kalkun panggang satu, sambal matah dua, minumannya satu  susu sapi Australia dan satu matcha.” Jawab pak Arifin. “Baik pak, silahkan ditunggu ya pak.” Kemudian pelayan pergi, hingga 20 menit berlalu, makanan yang dipesan pun datang. Aku terpukau dengan makanan yang semewah ini. “Bagaimana? Enak Zaqy?” “Enak sekali pak.” Kami makan dengan lahap, setelah itu aku mengikuti pak Arifin menuju kasir. “Berapa total bill saya?” “Dua puluh enam juta pak, mau bayar pakai cara cash, transfer, atau gesek kartu, pak?” “Gesek kartu saja.” Pak arifin mengeluarkan kartu warna hitam dari dompetnya, kasir itu pun menyodorkan sebuah mesin. “Silahkan pak.” Pak arifin pun menggesekkan kartu dan terdengar transaksi berhasil. Setelah melakukan pembayaran, pak Arifin mengajakku ke mobil dan kami berangkat ke bandara yang berada di Padang, saat menaiki pesawat, aku gentar. Namun perlahan aku bisa beradaptasi, aku tertidur dan saat membuka mata, ternyata kami telah sampai di Kalimantan, dari bandara kami menggunakan mobil pak Arifin  ke sebuah Mall. “pak, kita dimana?” Tanya ku “Zaqy, kita ada di Mall tempat belanja yang besar dan bersih.” aku hanya ber oh saja. Pak Arifin mengajakku untuk membeli kebutuhan selama aku berada di pondok nanti, seperti baju, alat tulis, tas, snack dan banyak lainnya. Saat dikasir aku kembali terkejut dengan harga semua barang yang sampai seratus tiga juta rupiah, dalam pikiranku, uang segitu bisa untuk makan keluarga kami selama puluhan tahun. “Zaqy, kamu sedang memikirkan apa?” “Tidak ada pak.” Setelah dari Mall aku dan Pak Arifin langsung pergi ke pondok At Tauhid Islamiyah. Saat sampai aku melihat sebuah lingkungan yang megah dan asri, di sana pak Arifin langsung disambut oleh ustadz Abdullah, seolah melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. “Ustadz Abdullah, ini Zaqy yang memiliki nilai rata-rata tertinggi ujian nasional, sepuluh besar di Indonesia.” “Oh Iya, Zaqy, sebelumnya selamat ya, Sekarang kamu sekolah disini, siap mondok?” “Sekarang kamu sekolah disini selama 7 tahun, bapak akan kirim uang kebutuhan satu juta setiap bulannya ke ustadz Abdullah.” Kata pak Arifin, dan aku mengangguk, kemudian aku dibawa oleh ustadz Abdullah, dihantarkan hingga ke depan pintu asrama. “Ini asrama Zaqy.” Aku mengangguk dan masuk ke dalam asrama. “Hei Zaki, kesini, dan antar teman baru mu ini melihat lingkungan asrama.” Zaki mengikuti arahan ustadz Arifin, nama kami mirip, dan penyebutannya juga sama. ketika aku sedang melihat asrama, banyak yang menatapku dengan tatapan sinis “Hei dia anak orang kaya.” Ejekan dari teman lainnya, namun Zaki tidak menghiraukan itu, dia menunjukkan kasur dan ranjang yang akan ku tempati, setelah itu dia pergi keluar untuk mengambil makanan. Saat dia pergi, tiba-tiba ada tiga orang yang mengajakku bertengkar. “Oi anak baru, ayo berantem, kita uji siapa yang paling kuat disini.” Tidak bisa terelakkan, kami adu kekuatan dan hal ini diketahui oleh ustadz yang berada di sekitar asrama. kami dipanggil, dihukum push up 100 kali. Setelah kejadian itu, aku sering diganggu oleh kelompok yang pernah bertengkar denganku, bahkan mereka lebih banyak lagi, aku sering dicaci, diludahi, dan karena itu aku ingin bunuh diri, namun disaat kegundahan itu, datanglah seorang ustadz yang bernama ustadz Satria, beliau melihatku yang nyaris bunuh diri, dia langsung mencegahku, mengambil pisau yang sedang aku pegang. “Zaqy? Kenapa antum mau bunuh diri?” “Ana sering dibully ustadz, ana tidak kuat lagi ustadz.” Ucapku sambil menangis, aku tidak ingin berada di pondok ini lagi. “Zaqy, antum harus istighfar, tenangkan diri antum, ingat zaqy, antum selama ini kan tau, bunuh diri itu haram dan obatnya adalah terus bersabar. Antum ingat Rasulullah dulu sering diludahi, dilempar batu, dilempari kotoran hewan, beliau tetap sabar, dan menasehati orang tersebut, antum tidak boleh gegabah, orang yang bunuh diri akan kekal di neraka.” Mendengar perkataan itu, aku pun menangis lebih keras, Ustadz Satria terus memberikan ku pencerahan “Sabarlah Zaqy.” Aku pun kembali ke asrama dengan perasaan sedih. Keesokkan harinya, Ustadz Satria memperingati orang-orang yang membully ku, setelah diperingati, mereka meminta maaf padaku dan akhirnya hari-hari yang ku jalani menjadi lebih baik.   -Bersambung-
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.