Sore Ceria di Lapangan Hijau

Uncategorized

Selepas Ashar, suasana di asrama putra mulai bergeliat. Para murid kembali dari masjid dengan langkah ringan, namun sebagian terlihat agak gelisah menunggu pengumuman dari pengasuh. Hari itu adalah jadwal penilaian kebersihan asrama. Dan benar saja, beberapa kamar dinyatakan tidak memenuhi standar kebersihan. Sebagai bentuk tanggung jawab, murid yang bersangkutan diberi “mahkamah” atau hukuman ringan yang mendidik: mencabut rumput liar di lapangan hijau hingga bersih. Meski lelah, mereka tetap menjalankannya sambil bercanda ringan, sesekali terdengar tawa kecil yang mencairkan suasana   Sore itu, langit tampak bersih dan cerah. Angin bertiup lembut membawa udara segar ke seluruh penjuru asrama putra. Lapangan hijau mendadak berubah menjadi arena keceriaan. Suara riuh terdengar dari segala arah ada yang tertawa lepas, berteriak kecil memanggil teman, dan ada pula yang bersorak menyemangati layangan mereka yang mengangkasa tinggi. Layang-layang beraneka warna menari di langit biru, beradu satu sama lain, seolah mewakili semangat anak-anak yang tak pernah padam. Tak hanya murid SMP, para murid SMA pun ikut larut dalam permainan itu, melebur dalam suasana yang seru dan penuh tawa.   Sementara itu, di sisi lapangan, beberapa murid memilih menyegarkan diri dengan berlari memutari lapangan. Nafas mereka terengah, tapi wajah-wajah itu tetap menyimpan senyum. Lari sore bukan hanya sekadar olahraga, tapi menjadi ruang kecil untuk menyegarkan pikiran dan melepaskan penat setelah seharian berkegiatan. Tak jauh dari sana, terdengar suara lantang penuh ketegasan, Buk Ami sedang melatih pasukan pengibar bendera dari murid ABI Center. Barisan mereka rapi, langkah-langkah disusun dengan serius, tapi sesekali terdengar tawa kecil karena gerakan yang belum sempurna. Jika satu orang lalai, latihan akan diulang. Letih? Pasti. Tapi semangat itu terus menyala.   Di tengah hiruk-pikuk itu, ada juga yang memilih untuk menikmati suasana sore dengan tenang. Sebagian duduk santai di rerumputan, menyaksikan layangan yang melayang sambil tertawa bersama teman-teman. Ada yang asyik jajan gorengan hangat atau es segar, menggigit pelan sambil berbagi cerita ringan. Ada pula yang memilih kembali ke asrama, mencuci pakaian dengan tangan sendiri atau hanya sekadar istirahat di asrama. Masing-masing murid punya caranya sendiri untuk menyapa sore yang indah.   Tepat pukul 18.00, suara pengeras masjid Darul ‘Ulum memecah keriuhan. “Seluruh murid dimohon menghentikan seluruh aktivitas, mengosongkan lapangan, dan bersiap menuju masjid untuk shalat Maghrib berjamaah.” Suasana perlahan mereda. Layang-layang ditarik turun, tawa mulai menghilang, langkah kaki bergegas menuju tempat wudhu. Seakan seluruh energi sore tadi ditutup dengan khusyuknya seruan panggilan Allah.   Begitulah hari-hari di asrama putra. Penuh warna, penuh suara, dan penuh makna. Di antara terik matahari dan semilir angin sore, terekam tawa, lelah, canda, tanggung jawab, dan kedekatan. Bukan hanya ruang untuk tinggal, tapi tempat di mana jiwa-jiwa muda belajar tumbuh, saling mengenal, dan mengenal diri sendiri. Dan di akhir hari, semuanya kembali tertunduk dalam doa dan sujud yang menenangkan, menghimpun semua rasa, kembali kepada yang Maha Menerima.      
Tags :

Uncategorized

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have Any Question?

Do not hesitage to give us a call. We are an expert team and we are happy to talk to you.