
Pada pukul 08:15, Abi Hamdi bersama Umi (sang isteri) dan Ustadz/Ustadzah ABI Center sampai di Loka Karya yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Syech Ahmad Chatib Al-Minangkabawi, yang terletak di Koto Tuo Balai Gurah Kecamatan Ampek Angkek, pelayanan yang ramah dan Pondok SACHA membuat ABI Center senang, Adapun tujuan mengundang ABI Center adalah mengambil pengalaman yang telah dilalui oleh ABI Center dalam edukasi kepada murid, pembahasan yang jika diibaratkan pada makanan, maka pembahasan ini isinya daging semua, sayang sekali jika dilewatkan, selain menambah ilmu, Abi Hamdi selaku orang tua, memberikan pengalaman dan motivasi dalam membimbing murid untuk menjadi lebih maju, gaungan Pondok SACHA terdengar dari mulut ke mulut, pondok dengan kekuatan dalam Tahfidzul Qur`an merupakan pondok yang sangat cocok untuk murid yang ingin fokus dengan hafalan Al`Qur`an. Hal yang menjadi titik fokus pada Loka Karya ini adalah kepada tim penanganan pengasuhan yang berusaha untuk mengembalikan ruh orang tua dalam mendidik murid di lingkungan asrama.
Berikut beberapa hal yang menjadi catatan agar dalam menjadi pedoman dalam mendidik murid baik dalam lingkungan sekolah dan pengasuhan dalam lingkungan pondok pesantren. Jika di dalam pondok mengalami kesulitan maka diselesaikan dengan bersama melalui duduk dan berdiskusi di rapat-rapat, rapat antara pimpinan, direktur, antar kepala sekolah, dalam memecahkan segala yang menjadi kasus penting di ABI Center. Abi Hamdi selaku orang tua di ABI Center memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada setiap penggerak di bidangnya, masing-masing harus saling bekerja, dan mau bekerja sama, tidak boleh sikut menyikut, tidak boleh mengambil Keputusan sendiri, lakukanlah tabayyun untuk klarifikasi dugaan-dugaan yang ada. Abi Hamdi tidak pernah menganggap orang-orang di pondok sebagai pembantu, tetapi Abi Hamdi posisikan selayaknya keluarga, sebagai teman, agar setiap permasalahan yang datang tidak ada sekat dan diantara kitab isa saling terbuka. Bersama-sama mempercayakan orang, bersama-sama memperhatikan, dan bersama-sama memutuskan, Abi tidak pernah melakukan interpensi kepada siapapun, Abi memberi ruang terhadap siapapun, mulai dari direktur, kepala-kepala sekolah, guru, murid, hingga pegawai-pegawai yang berada di lingkungan keluarga ABI Center.
Sebagai seseorang yang dipercaya dalam menjalankan Amanah di pengasuhan, Abi memang mencari orang-orang yang shalat 5 waktu, tidak hanya shalat, tapi juga berjamaah, ramaikan masjid. Dalam menjalani Amanah, ketika sudah dipercaya, maka diberi kenyamanan, biarkan asatidz/asatidzah mengurus, jangan diganggu, karena disana ada upaya melepaskan pengalamannya. Abi tidak pernah interpensi, namun tetap tidak diizinkan untuk keluar dari 5 pilar ABI Center, selebihnya silahkan berkarya, berinovasi, jangan dihalangi, jangan dibiarkan, awasilah tapi jangan dicurigai.
Punya pengalaman, punya komitmen, punya ahli hikmad, berikan yang terbaik dari versi kita, jangan harap atau ditakar-takar rezeki, dan jangan mau dibeli atau dihargai harga diri hanya karena uang. Bekerjalah untuk saling mengisi yang kurang, tidak boleh menunggu-nunggu orang lain, atau disuruh terlebih dahulu, seperti kita berurusan dengan Allah, jangan dipakai matematika, tapi pakai iman. Jika didalam pondok, sudah masuk kedalam pondok, hikmad, jangan hitung-hitungan, jangan ingat laba dan rugi, masuklah dengan sepenuhnya, mari bangun ABI Center dengan Ikhlas dan tangan yang hangat dengan perubahan yang baik.
Untuk menjadi seseorang yang dipercayakan di pondok, maka cari yang pendidikan nya dari pondok agar hikmadnya tinggi, atau orang yang berjiwa pondok, yang berdedikasi kepada pondok. Kebersamaan dibanggun, jangan ada yang suka menonjol, jangan mau jadi penjilat, karena biasanya akan jadi tabiat untuk suka meng ‘aku’ kan diri. Jika seseorang yang menonjol diri, maka dia ingin maju sendiri. Jangan ciptakan strata, atau kasta, tapi bentuklah memuliakan dan membesarkan, tidak ada sistem piramid, atau perintah, semua bergerak dalam satu tujuan yang sama.
Tidak boleh dengan ego, karena di ABI Center sudah ratusan orang, sudah bisa dikatakan sebuah perkampungan, maka tidak bisa dimenangkan oleh ego. Masalah dalam pengasuhan, guru, kepala, semua memiliki kasus masing-masing, setiap kasus selesai maka akan pindah ke kasus baru, hidup itu tentang menyelesaikan kasus. Namun dalam hal ini ABI Center pada bagian pengasuhan dan sekolah memang dua hal yang berbeda, namun diibaratkan dua sayap pada satu tubuh, agar bisa terbang jauh maka kedua sayap harus kompak dan saling percaya. Kasus paling besar yang ada di pengasuhan adalah murid-murid suka berkelahi, yang diawali dengan bercanda berlebihan, terlebih putra, yang suka dengan tempat yang lapang, jadi ABI Center sediakan lapangan, putra itu liar, untuk menyalurkan jiwa liarnya, pada masa pubertas, dia butuh aktifitas, namun yang positif, seperti olahraga, jika tidak maka memukul atau meninju temannya akan jadi hal negatif untuk melampiaskan itu, ketika putra pada masa sedang puber, pesantren harus bisa memahami kondisi tersebut, untuk perempuan sudah mulai suka berbedak, melihat cermin sering-sering, tidak bisa disadarkan, tapi dialihkan dan disibukkan dengan kegiatan yang bermanfaat.
Abi juga berpesan, zaman sekrang jangan sampai menyentuh murid, tidak ada menyentuh murid ketika marah, karena bisa saja di fotokan, kemudian disebar luaskan, terkadang akibat jatuh lalu karena ada masalah di asrama, difotokan, lalu disampaikan yang tidak sesuai dengan faktanya, ditakutkan menjadi boomerang untuk pondok itu sendiri. Kalau ada yang berkunjung jangan sampai berfoto atau memfotokan murid, bertemu murid untuk dicari keburukan, atau memburuk-burukkan pondok kepada murid, atau menggali berita, takutnya yang keluar adalah fitnah, informasi tentang pondok tentu disampaikan secara jelas dari media atau informasi dari pihak yang lebih berhak.
Kebijakan dalam pemilihan Kepala pengasuhan, memang betul harus yang berpengalaman dan lama di pesantren, contohnya di ABI Center ada Ustadz Rido Finaldi atau Ustadz Jumadia yang sudah 10 tahun lebih di pondoknya, kemudian Ustadzah Rani yang sangat kental dengan aturan dalam mendidik murid. Karena di Pesantren adalah hidup dan mencari pengalaman hidup. Jika Abi Center ada ratusan orang, maka setiap murid bertemu dengan ratusan jenis karakter orang, belajar dengan kehidupan, melalui hal ini murid dituntut untuk menyelesaikan masalahnya, dituntut bijaksana dan dewasa danlam mengambil sikap, terus dilatik di pondok dengan selalu didengarkan tentang permasalahan dan penyelesaian nya.
Leave a Reply